BEASISWA MONBUKAGAKUSHO

Perkenalkan, saya Hanif Ali Hasanain, alumni SDIT Thariq Bin Ziyad Pondok Hijau Permai angkatan 2010, juga alumni SMPIT Thariq Bin Ziyad Toyogiri angkatan 2013. Salam kenal untuk semuanya yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca artikel yang saya tulis ini.

Alhamdulillah kali ini saya diberikan kesempatan untuk sedikit berbagi pengalaman saya, sebagai alumni Thariq Bin Ziyad yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di Negeri Matahari Terbit, atau Negeri Sakura, Jepang. Mulai dari awal ketertarikan, proses mencari beasiswa, hingga lulus, dan berangkat ke Jepang.

Ketertarikan saya terhadap Jepang sebenarnya sudah ada sejak saya masih SD, namun pada saat saya kelas 2 SMA, ketertarikan tersebut mulai berubah menjadi niat serius untuk kuliah keluar negeri. Pada saat itu, ada teman yang kebetulan memberikan informasi mengenai pameran pendidikan Jepang di JCC, Senayan. Teman saya kebetulan melihat poster tersebut di depan ruang guru konseling, kemudian menginformasikan hal tersebut kepada saya.

Berangkatlah saya ke pameran tersebut. Itulah pertama kalinya saya mendapat informasi mengenai sekolah – sekolah beserta beasiswa yang tersedia bagi para pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah ke Jepang. Saya sempatkan untuk berbincang dengan utusan – utusan dari berbagai universitas dan sekolah bahasa yang ada di Jepang. Mulai dari kurikulum, sistem belajar mengajar, hingga kehidupan diluar pelajaran seperti ekstrakulikuler.

Hampir setiap sekolah dan universitas yang turut serta dalam acara tersebut dihadiri oleh utusannya masing – masing yang datang langsung dari Jepang. Pada saat kita bertanya, akan ada penerjemah yang menerjemahkan pertanyaan kita ke Bahasa Jepang, dan kita akan mendapat jawaban langsung dari utusan – utusan tersebut. Semuanya baik dan ramah – ramah, sesuai dengan budaya “omotenashi”, atau “keramah – tamahan”nya orang Jepang. Inilah salah satu alasan ketertarikan saya terhadap Negeri Sakura.

Ada satu stand yang paling besar dalam pameran tersebut, yaitu stand gabungan dari JASSO dan Kedutaan Besar Jepang, selaku penyelenggara acara. Disinilah saya mendapatkan informasi mengenai Beasiswa Monbukagakusho, salah satu beasiswa paling favorit, yang seleksi setiap tahunnya diikuti oleh ribuan siswa terbaik dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Setelah berbincang mengenai program beasiswa tersebut dengan pihak JASSO dan Kedutaan Besar Jepang, pada awalnya saya biasa aja, karena lolos menjadi salah satu utusan Indonesia, mengalahkan ribuan peserta terbaik lainnya itu bagaikan mencoba lolos melewati lubang jarum yang sangat kecil, hampir mustahil.

Namun, masih ada rasa penasaran saya untuk mencoba ikut serta dalam seleksi tersebut, memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan sembari menguji kemampuan diri. Karena apabila setelah memberikan yang terbaik saya gagal dalam seleksi pun, akan ada Ilmu serta pengalaman berharga yang saya dapatkan setelah menjalani seluruh prosesnya.

Setelah diskusi dengan kedua orang tua, dan mendapatkan persetujuan dari keduanya, dimulailah perjuangan saya untuk mendapatkan Beasiswa Monbukagakusho. Seleksi beasiswa ini meliputi empat tahap, seleksi berkas, tes tertulis, wawancara, serta seleksi berkas akhir yang langsung diadakan oleh Kementrian Pendidikan Jepang. Persiapan diri saya mulai dengan membaca berbagai artikel dan blog mengenai pengalaman orang – orang yang pernah mengikuti rangkaian seleksi beasiswa, baik itu Monbukagakusho, atau beasiswa lainnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak – banyaknya sebelum seleksi tersebut dimulai.

Saya juga meningkatkan jam belajar saya untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional, karena pada saat itu, salah satu persayaratan untuk mendaftar beasiswa ini adalah memiliki rata – rata nilai UN diatas 8.4. Alhasil saya ikut bimbingan belajar serta turut serta dalam berbagai Try Out untuk mengasah kemampuan diri. Kemampuan Bahasa Inggris pun turut saya tingkatkan untuk memperkuat kemampuan berkomunikasi.

Pada saat yang bersamaan, saya juga berusaha memperluas pengetahuan saya mengenai Jepang, mulai dari makanannya, budayanya, adat istiadat hingga keunggulan teknologi serta perkembangan riset ilmu pengetahuan yang sedang diadakan disana. Ini saya anggap salah satu proses yang penting untuk memperkuat ketertarikan saya, serta untuk mencari keterikatan antara perkembangan riset dan minat serta kemampuan yang saya miliki. Sehingga ketika datang waktu untuk menjelaskan alasan ketertarikan saya terhadap Jepang, saya bisa dengan lancar, padat dan jelas menyampaikannya kepada pihak penyelenggara beasiswa.

Cerita berlanjut ke tahun 2016, Alhamdulillah pada saat itu, saya berhasil mendapatkan nilai rata – rata UN diatas 8.4, artinya persyaratan mutlak untuk ikut seleksi beasiswa sudah terpenuhi. Saya pun mulai mengisi formulir, serta mempersiapkan dokumen – dokumen lain yang dibutuhkan dalam tahap seleksi pertama. Sejujurnya, pada tahap ini saya masih tidak berharap apa – apa, karena beberapa senior terbaik dari SMA tempat saya sekolah sudah pernah mencoba untuk ikut seleksi Beasiswa Monbukagakusho, namun umumnya gagal, dan kebanyakan dari mereka gagal di tahap seleksi berkas ini.

Namun diluar dugaan, saya ternyata dinyatakan lulus seleksi berkas awal dan lanjut ke seleksi selanjutnya, yaitu ujian tulis. Cukup senang rasanya, mengingat jumlah peserta yang awalnya ribuan, diseleksi hingga hanya tersisa sekitar 100 peserta. Disaat yang bersamaan, saya juga merasa cukup tegang karena ujian tulis merupakan ujian yang paling sulit dari seluruh rangkaian seleksi beasiswa ini.

Kedutaan Besar Jepang, selaku penyelenggara seleksi Beasiswa Monbukagakusho di Indonesia, hampir setiap tahunnya menyiapkan soal seleksi dari tahun – tahun sebelumnya yang bisa di download dari internet. Soal – soal inilah yang saya jadikan bahan untuk belajar dari jauh – jauh hari, bahkan sebelum hasil seleksi berkas diumumkan.

Usaha saya mempersiapkan diri dari jauh hari, sebelum hasil seleksi berkas diumumkan pun membuahkan hasil. Saya dinyatakan lulus ujian tertulis dan lanjut ke ujian wawancara. Luar biasa rasanya, berhasil melewati suatu ujian yang  sulit, senang dan bahagia atas hasil upaya yang dilakukan hingga saat ini.

Selanjutnya, ujian wawancara. Disinilah penyelenggara beasiswa melihat karakter dan motivasi masing – masing peserta. Ada satu hal yang sangat penting, yang paling diperhatikan dan dicari oleh penyelenggara beasiswa. Yaitu keuntungan yang bisa didapat oleh kedua belah pihak, baik penyelenggara beasiswa, maupun penerimanya.

Artinya adalah, kita sebagai peserta harus pandai menunjukkan motivasi, serta memberikan alasan mengapa kita adalah kandidat yang cocok untuk menerima beasiswa  tersebut. Setiap program beasiswa punya tujuan dan target masing – masing yang perlu kita perhatikan pada saat mendaftar. Dalam hal ini, yang dicari oleh Beasiswa Monbukagakusho adalah peserta yang bisa mempererat kerjasama antar negara, khususnya antara Indonesia dan Jepang. Maka dari itu, kita harus menyiapkan jawaban terbaik untuk menyampaikan motivasi, ketertarikan, serta kemampuan kita dalam mencapai target tersebut.

Saya cukup percaya diri pada saat mengikuti ujian wawancara ini, karena bagi saya ujian tersulit merupakan ujian tulis. Pada saat wawancara pun, hampir seluruh pertanyaan berhasil saya jawab dengan lancar, cukup percaya diri bahwa saya berhasil memberikan kesan yang baik kepada para juri seleksi. Dan alhamdulillah, sekitar satu bulan setelah wawancara diadakan, saya dinyatakan lulus dan berkas – berkas saya akan dikirim langsung ke Jepang untuk menjalani seleksi berkas akhir.

Seleksi berkas akhir ini cukup menghabiskan waktu, karena berkas – berkas ini datang tidak hanya dari Indonesia, tapi dari seluruh dunia. Setelah diumumkannya hasil ujian wawancara, saya menunggu sekitar 3 bulan hingga hasil akhir dari seluruh rangkaian seleksi Beasiswa Monbukagakusho diumumkan.

Dan pada awal desember 2016, tepat sesaat setelah saya pulang bepergian keluar mengantar ibu tercinta, sebuah notifikasi email masuk ke HP saya, yang datang dari alamat email resmi Kedutaan Besar Jepang, berisi hasil seleksi akhir program beasiswa Monbukagakusho. Didalamnya hanya tertulis hanya dua kalimat, “Selamat, anda dinyatakan lulus seleksi akhir beasiswa monbukagakusho. Apabila anda bersedia menerima beasiswa ini, mohon segera hubungi kami segera dengan membalas email ini”, disertai sebuah file berupa surat pernyataan.

Suatu perjalanan yang pada awalnya hanya ditujukan untuk menghabiskan rasa penasaran serta menguji kemampuan diri, atas izin Allah, ternyata membuahkan hasil. Dan pada awal bulan April 2017, saya berangkat ke Jepang dibawah naungan Beasiswa Monbukagakusho, untuk melanjutkan pendidikan saya di Negeri Sakura sebagai salah satu utusan dari Indonesia. Pada saat saya menuliskan artikel ini, November 2020, saya sedang melanjutkan studi saya di bidang teknik elektro di Universitas Gunma.

Tentunya keberhasilan saya dalam mengikuti serangkaian ujian seleksi tidak luput dari dukungan penuh kedua orangtua, yang senantiasa memberikan do’a dan nasihat tiada henti. Sungguh bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat pengertian, yang bersedia mendukung penuh impian saya. Suatu pelajaran berharga dimana impian yang disertai usaha, do’a, serta dukungan penuh dari kedua orang tua bisa terwujud atas izin Allah.

Untuk teman – teman yang sedang bersekolah, baik SDIT maupun SMPIT Thariq Bin Ziyad, saya sangat sarankan untuk memperluas pandangan dan mencoba untuk kuliah keluar negeri bila ada kesempatan yang tersedia. Tuliskan setiap impian dan target kalian di sehelai kertas, dan tempelkan kertas tersebut di meja belajar, atau di tempat – tempat yang sering kalian gunakan. Insha Allah suatu saat nanti kalian akan melihat kertas tersebut penuh dengan coretan pertanda kalian sudah mencapai target – target tersebut.

Sekian cerita mengenai perjalanan saya mendapatkan Beasiswa Monbukagaksuho. Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah datang dari diri saya pribadi.

 

 

 

 

Written by