Bagaimana Proses Berkurban di SMPIT Thariq bin Ziyad?

Udara pagi menyambut selasa, 13 September 2016. Di saat yang lain masih sibuk bergelung di bawah selimut, 2 sapi dan 5 kambing sudah bersiap untuk disembelih. Pukul 06.00 pagi di belakang ruang pak guru, sekitar tujuh orang dan satu algojo mulai menyembelih sapi pertama atas nama:
1. Pak Kalimi                    5. Ibu Ulan
2. Pak Kosim                    6. Pak Sunar Adi Wibowo
3. Pak Abdurahim           7. Mei Farah A. (8B)
4. Pak Husein.
Sapi kedua atas nama:
1. Ibu  Tukiyati                 5. Pak Wisnu
2. M. Keenant (8H)         6. Panca Putra Setia
3. Jobim Ahmed I. (7F)   7. Ronan Nazwan (9G)
4. Ibrahim Abrar (7F)
Ketika sedang disembelih, sapi pertama mengamuk dan hampir berdiri dengan kepala nyaris putus. Pun sapi kedua mengamuk saat kakinya diikat. Tapi akhirnya mereka berhasil disembelih.
 Setelah itu, gilliran kambing yang disembelih atas nama:
1. Deandra Nur A. (8C)
2. Ulayya Salma (9C)
3. M. Rizal Al-kahfi
4. Wiwin Subiati
 Penyembelihan berjalan lancar sampai pukul 07.30 pagi. Sapi dan kambing yang sudah disembelih dibawa ke lapangan kecil depan 9A. Beralaskan terpal biru, sapi dan kambing dikuliti dan dipotong. Kambing digantung di atas gawang dan dikuliti. Pak guru, Pak Satpam sampai para K3 ikut memotong. Pemotongan berlangsung lumayan lama. Semua sibuk dengan pisau atau kapak masing-masing.
Di sisi lain, ibu guru tak kalah semangat. Mereka mengolah dan meracik daging-daging yang sudah dipotong sambil mengobrol ringan. Biasanya mereka membuat sup daging yang nikmat dan hangat.

Selain diolah menjadi sup, 1/3 daging lainnya dimasukkan ke dalam kantong plastik kepada warga sekitar dan orang-orang yang membutuhkan.

Hukum berkurban adalah Sunah Muakad. Yaitu Sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat. Sifatnya, hampir mendekati Wajib.  Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kausar: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri pada Allah)”. 

(FR & FAR/a)

 

WISUDA HAFIZH QUR’AN 2016 SMPIT TBZ

Wisudawan yang sedang duduk rapi sambil berdoa dan berdhikir (Dhiaulhaq Salman)


SMPIT Thariq bin Ziyad – Wisuda Al-Qur’an merupakan acara yang diselenggarakan sekolah untuk memberi motivasi lebih dan penghargaan kepada siswa-siswi yang sudah menghafalkan Al-Quran nya dalam setahun. Karena memang acara ini diselenggarakan setiap setahun sekali di Lapangan SMPIT Thariq bin Ziyad. Wisuda kali ini bertemakan “Al-Qur’an Benteng Utama dari Dekadensi Moral”. yang akan dibicarakan oleh Ustadz Dr. H. Atabik Luthfi, Lc, MA. (21/05/2016)
Wisuda Al-Qur’an ini dimulai dengan Tilawah oleh beberapa sahabat kita yaitu Sarah kelas 7A yang membacakan Surah An-Naba, Lutfi (8F) Surah Al-Muzzamil, dan Ka Nadia (9A) Surat Ar-Rahman. 
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mereka bacakan membawa hawa-hawa positif bagi kami yang menyebabkan kami menjadi lebih bersemangat dan tidak ngantuk tentunya. Karena acara selanjutnya adalah Tausiyah dari Ustadz Atabik Luthfi.
Sebelum beranjak kesitu, mungkin dari kalian masih banyak yang belum mengerti apasih  “Dekadensi Moral” itu. Dekadensi Moral itu adalah suatu bentuk penurunan sikap atau moral yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Seperti Pengaruh Budaya Asing yang tak baik, salah bergaul, media-media yang merusak otak, pesatnya perkembangan teknologi, dan kurangnya pengetahuan agama.
Kenapa pesatnya perkembangan teknologi itu bisa menyebabkan Dekadensi Moral? Karena disamping banyaknya manfaat yang ada, teknologi bisa menjadi penghancur umat Islam secara tidak langsung. Kita ambil contoh saja, dulu anak-anak muda setelah sholat magrib sibuk mengaji, tapi sekarang mereka lebih sering memegang gadgetnya daripadanya Qur’annya. Itu hanya sedikit contoh bahwa teknologi dapat menyebabkan Dekadensi Moral.
Di Tausiyah Ustadz Atabik Luthfi, beliau menyampaikan bahwa 
“Al-Qur’an merupakan Hisnul Hasyim yang berarti bentengnya para benteng. Itu terdapat dalam Surah Asy-Syura ayat 52, ‘Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kami benar benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus’ Jadi selain kita harus menghafalkannya kita juga harus memahami isi kandungan dari Al-Qur’an tersebut”
Setelah itu ada beberapa sambutan dari kepala sekolah SMPIT Thariq bin Ziyad , Pak Kalimi. Kata-kata beliau yang paling saya ingat adalah “Menghafal itu gampang, cuma.. ‘menjaga’ hafalan itulah yang susah. Jadi bapa mengingatkan kepada semua yang ada disini, Ayoklah sama-sama mungkin abis magrib atau yang penting pas dirumah lah. Setor hafalan yang sudah kalian hafalkan ke orang tuamu. Orang tua juga dimohon kerjasamanya karena ini penting sekali”
Tak begitu berbeda dengan “Thariq Carnival” di Wisuda Qur’an kali ini juga ada loh bintang tamu nya. Ya tentunya masih yang berbau islami islami gitu. Inilah dia saya perkenalkan bintang bintang tamunya.
– Bintang Tamu yang pertama datang dari kelas 8A.
 
Dari kiri ke kanan ( Sasha, Hanaa, Zamaya, Enggar, Nida ) Mereka bersenandung Asmaul Husna. 

– Bintang tamu yang kedua datang dari kelas 8B. 
Dari kiri ke kanan ( Nyimas, Okta, Salsabila ) Mereka membawakan nasyid yang berjudul “Demi Matahari”

Setelah ada bintang tamu itu, tibalah kita ke penghujung acaranya. Yaitu Prosesi Wisuda tahun 2015/2016. Tidak susah, kita hanya duduk rapi seperti biasa dan menunggu nama kita dipanggil.  Bergiliran dari yang Hafalannya 1 Juz ( 30-29-27-28-1 ), 2 Juz ( 30&29, 29&27, 27&1, 28&1 ), 3 Juz, 4 Juz, 5 Juz, 6 Juz, Bahkan ada yang hafalannya sampai 7 Juz loh. Subhanallah sekali siswa-siswi SMPIT Thariq bin Ziyad ini. 

Setelah prosesi wisuda ada Ustadz Nur Kosim yang akan memimpin janji atau ikrar. Peserta dimohon untuk berdiri dan mengikutinya. Kemudian ada Pak Ma’mun Salman , Pak Kalimi, dan Ustadz Nur Kosim yang akan memberikan beasiswa untuk siswa-siswi yang berprestasi dalam hal menghafal Qur’an
Diantara beasiswa beasiswa berikut ada :
– Rp. 1.000.000,- Untuk yang hafalannya sudah 3 Juz
– Rp. 2.000.000,- Untuk yang hafalannya sudah 4 Juz
– Rp. 3.000.000,- Untuk yang hafalannya sudah 5 Juz
– Rp. 4.000.000,- Untuk yang hafalannya sudah 6 Juz
– Rp. 5.000.000,- Untuk yang hafalannya sudah 7 Juz.
Dan diantara semua itu ada yang hafalannya terbaik, dan juga tercepat dalam setahun. Ini dia nama-namanya :
– Juz 30, dengan total nilai sebesar 495, diraih oleh Muhammad Faiq Ilhaq 7E
– Juz 29, dengan total nilai sebesar 498, diraih oleh Izzan Musyafa 7H
– Juz 27, dengan total nilai sebesar 495, diraih oleh Sarah 7A
– Juz 2 , dengan total nilai “500′! , diraih oleh Ka Ashila 9A.
Waw, Subhanallah bukan? nilai-nilai ini diambil dari beberapa sisi, Untuk “Makhroj” diberi poin 20, Mad poinnya 15, Ghunnah poinnya 15, Lancar poinnya 50. Dan ada 3 sesi untuk diuji saat sertifikasi.
Yaitu ada :
– Membaca Surat Pilihan, disini kita bisa memilih terserah surah apa yang akan kita baca sampai si penguji memberikan isyarat stop.
– Melanjutkan ayat, disini kita akan diberi soal yang ayatnya berada di awal Juz, Tengah, Juz, dan Akhir Juz. 
– Yang terakhir adalah melanjutkaan Surah. Disini kita akan dites akhir ayat dari sebuah surah, dan kita harus melanjutkan ke surah berikutnya.
 
Dengan Hafalan tercepat dalam setahun disini ada Sarah dari kelas 7A.
Dia menghafal 3 Juz dalam setahun dan dia masih kelas 7. Bayangkan saja setahun bisa 3 Juz, jika dia masih ada 2 tahun lagi di Thariq, dia bisa menghafalkan 9 Juz untuk 3 tahun. Semoga dia bisa konsisten dalam menghafal Qur’an Ya Allah.. Aamiin
Mau tau ga si rahasianya apa? Dia sempat bilang kalo “Saya menghafal setengah halaman tiap harinya, dan motivasi saya selama menghafal adalah sangat sangat ingin membanggakan orang tua saya dengan menjadikan saya seorang Hafidhul Qur’an “
Subhanallah…
” Yok sama-sama Perbanyak hafalan Qur’an… Gapeduli tua atau muda selagi masih ada kesempatan, mau tunggu apalagi? ” 
(ANA)

DULU DIKIRA, TAPI AH TERNYATA …….

DULU DIKIRA yang keren itu kalau bisa melafadzkan hermes, chanel atau louis vuitton dengan benar…, TAPI ternyata apalah artinya saat gak bisa bedakan lafadz huruf hijaiyah ‘da’ dan ‘dza’, ‘ta’ dan ‘tsa’, juga ‘sya’ dan ‘sha’…, apalagi sampai usia segini belum bisa ngaji tartil…

DULU DIKIRA yang keren itu kalo bisa naik pesawat melancong keluar negeri lalu foto2 di berbagai negara, napak tilas artis2 terkenal…, TAPI ternyata apalah artinya saat gak pernah mengunjungi Baitullaah dan Masjid Rasulullaah…, dan usia keburu habis tak bisa dikembalikan…

DULU DIKIRA yang keren itu kalau anak masih kecil bisa bahasa asing.. bhs inggris.., fasih nyanyiin lagu barat.., sehari2 tinggal di Indonesia dengan bahasa ibu bahasa asing…, TAPI ternyata apalah artinya saat ditanya siapa penciptanya bahkan anak gak bisa menyebut Allah dengan lantang…asing dengan doa sehari2 seolah gak pernah hidup untuk ibadah…

DULU DIKIRA yang keren itu kalau suami istri matching kemana2 serasi.., dandanan mesti maksimal.., TAPI ternyata apalah artinya jika gak jadi partner untuk perkara akhirat.., gak saling tolong dan menasihati dalam perkara agama.., lebih pentingkan penampilan dibanding hakikat suami istri yang sesungguhnya…

DULU DIKIRA yang keren itu kalau rumah bagus..ala rancangan arsitek yang kekinian.., TAPI ternyata apalah artinya jika yang paling dibenci adalah pengeluaran untuk pembangunan rumah2 secara mubazir.., apalagi jika di dalamnya tidak dipenuhi dengan ibadah dan jarang dibacakan ayat2 Allah…

DULU DIKIRA yang keren itu kalau toilet mewah dan closet duduk..ala hotel dan rumah orang berada…, TAPI ternyata apalah artinya jika itu berlawanan dengan perintah Nabi kita yang justru lebih tahu perkara yang baik bagi umatnya dunia akhirat.., dan sungguh toilet itu rumahnya setan…betah berlama2 disana artinya betah di rumah setan…

DULU DIKIRA yang keren itu kalau tahu table manners.. makan steak dgn pisau di kanan dan garpu di tangan kiri.., makan gorengan di tangan kanan dengan cabe rawit di tangan kiri pun perkara sepele yang salah tapi sering dikerjakan…, TAPI ah ternyata makan secara islami tidak mengajarkan demikian…, makanlah dengan tangan kanan karena yang makan dengan tangan kiri adalah setan…

DULU DIKIRA yang keren itu kalau weekend jalan2 dengan keluarga ke mall atau tempat rekreasi lainnya..harmonis…TAPI akankah berkumpul kelak di akhirat jika suami hanya mengajak istri dan keluarga pada hal2 keduniaan lupa pada hakikat hidup yang sebenarnya… suami bahkan tidak tahu jika selama ini istrinya belum tahu cara wudhu yg benar…!

DULU DIKIRA yang keren itu yang sekolah tinggi…dengan gelar sejembreng…, TAPI ah subhanallah..sekarang sudah terbukti satu persatu bahwa hal2 tersebut justru menjerumuskan pada keburukan dan kecacatan akidah…,
Apalah artinya pengorbanan uang tenaga waktu jika yang didapat tidak bisa menyelamatkanmu dari adzab Allah…, malah dengan akal pemberian Rabbmu kau putar balik perintah2Nya menjadi sesuai hawa nafsumu sendiri…

DULU DIKIRA yang keren itu banyak lagi…, TAPI semua ternyata gak ada artinya jika tidak sejalan dengan perintah Allah dan RasulNya. Apalagi jika jelas2 bertentangan…

AH TERNYATA,
Dunia ini menipu …….

Dunia ini senda gurau belaka.

Segeralah menyerah pada Rabbmu,

Sebelum kau tertipu lebih banyak lagi… (Ampuni kami, hambaMu ya Allah..)

sumber : Broadcast WhatsApp

Hadits Keempat Puluh



Hadits Keempat Puluh


عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]


Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “
(Riwayat Bukhori)


Pelajaran :
1.        Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu kapan datang ajalnya.
2.        Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
3.        Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan akhirat.
4.        Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
5.        Waspada dari teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.
6.        Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
7.        Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.
8.        Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.

sumber : https://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09/hadits-40-hiduplah-laksana-pengembara/

MUI: Ikut Pramuka Lebih Bermanfaat dari Rayakan Valentine

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, mengatakan, mengikuti kegiatan positif seperti Pramuka, lebih bermanfaat daripada merayakan Hari Valentine.

Menurutnya, sejumlah kegiatan positif dapat mengalihkan remaja dari dampak negatif valentine. “Pramuka memberikan efek kreatif, terampil, disiplin, dan cekatan, tidak seperti Valentine,” jelas Amirsyah, saat dihubungi ROL, Kamis (5/2).

MUI, kata dia, menghimbau agar remaja banyak-banyak melakukan kegiatan positif di sekolah. Sebab menurutnya, kegiatan positif dapat mengolah kepekaan untuk mengetahui budaya mana yang baik dan budaya mana yang tidak baik untuk dilakukan.

Budaya Valentine menurutnya termasuk ke dalam budaya yang tidak semestinya dilakukan remaja. “Ada pelatihan softskill dalam kegiatan sekolah untuk mengolah rasa dan melahirkan hal-hal yang positif,” ujarnya.

Ia mengakui sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing generasi muda. Sekolah dapat membantu dan mengarahkan anak-anak didik dan menyediakan kegiatan-kegiatan berkualitas. Sebab anak usia sekolah mayoritas masih memiliki semangat yang tinggi.

Selain itu, MUI juga mengajak orang tua untuk mendidik anak-anak mereka hingga menjadi anak-anak yang sholeh dan berbakti. Dengan demikian, anak-anak yang telah dipupuk keimanan sejak dini akan terhindar dari hal-hal negatif yang berbau budaya Barat. 

REPUBLIKA.CO.ID, Hari Valentine atau hari kasih sayang yang jatuh setiap 14 Februari memiliki sejarah panjang yang erat hubungannya dengan masyarakat nasrani. Dilansir dari nu.or.id, kata ‘Valentine’ sendiri diambil dari seorang pendeta yang bernama St Valentine.

St Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang kematiannya terjadi pada 14 Februari karena dieksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II. Eksekusi dilakukan karena Valentino menentang ketetapan raja dengan menolak wajib militer dan mendukung pernikahan. Karena pada saat itu aturan yang ditetapkan adalah boleh menikah jika sudah mengikuti wajib militer.

Aturan ini berawal dari kesulitan pemerintahan Romawi merekrut pemuda dan para pria sebagai pasukan perang. Padahal, pada masa itu pemerintahan dalam keadaan perang dan sangat membutuhkan tenaga sebagai prajurit. Sang Kaisar menganggap kesulitan ini berasal dari keengganan mereka meninggalkan kekasih, istri, dan keluarganya. Oleh karenanya, Kaisar mengeluarkan peraturan yang melarang pernikahan, karena pernikahan dianggap sebagai salah satu penghambat perkembangan politik Romawi. Peraturan ini kemudian ditolak oleh St Valentine sehingga ia dihukum mati pada tanggal 14 Februari 270 M.

Bagi pihak gereja, tindakan St Valentine tersebut dianggap benar karena telah melindungi orang yang menjalin cinta. Sehingga dia dinobatkan sebagai pahlawan kasih sayang. Hari inilah yang diabadikan oleh gereja sebagai hari Valentine dan dijadikan momentum simbolik pengungkapan kasih sayang oleh masyarakat nasrani.

Pada abad ke 5 M, tepatnya tahun 494 M, Paus Glasium I menetapkan 14 Februari sebagai peringatan hari kasih sayang atau hari valentine. Sehingga, Paus Glassium I dikenal sebagai pelopor peringatan Valentine’s Day.

Perayaan hari valentine merupakan tindakan yang menyerupai orang-orang non muslim, akan tetapi pada kenyataannya tidak sedikit generasi muda muslim yang tidak paham terhadap agamanya hingga ikut ambil bagian dalam perayaan tersebut.

Maka, benarlah apa yang disabdakan Rasulullah, “‘Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan (cara hidup) orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan seandainya mereka memasuki lubang biawak pun, tentu kalian akan mengikutinya.’ Kami (para sahabat bertanya), ‘Wahai Rasulullah apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani ?’ Beliau menjawab, ‘Siapa lagi kalau bukan mereka.'” (HR. Bukhari)

Jadi apakah umat Islam masih mau ngerayain Valentine? 
sumber : 

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/02/05/njawki-mui-ikut-pramuka-lebih-bermanfaat-dari-rayakan-valentine

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/09/njhrrg-asal-usul-perayaan-hari-valentine-ternyata-berkait-dengan-nasrani

Shalat Calon Pemimpin

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur

Sekarang, negara kita tercinta, Indonesia, sedang sibuk mencari pemimpin. Rakyat bingung menentukan pilihan, standar yang digunakan hanya berkutat di tataran intelektualitas dan lahiriyah calon pemimpin dan belum merambah ranah spiritual.

Dengan demikian, kesalehan hakiki mereka tidak pernah teruji dan tak pernah ada yang berusaha untuk mengujinya. Padahal kesalehan seperti inilah yang bisa menjamin baik tidaknya seorang pemimpin.

Jika mengaca pada sejarah, dulu saat prosesi pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, diantara pertimbangan yang mengemuka ketika itu adalah, Abu Bakar pernah menjadi imam shalat menggantikan Nabi Muhammad SAW.

Kisah ini dinarasikan Ibnu Asakir dari Ibnu Umar. ‘’Rasulullah memerintahkan Abu Bakar memimpin shalat berjamaah, sedangkan saya menyaksikan sendiri, tidak ghaib, tidak sakit. Maka kami rela menyerahkan urusan dunia kami sebagaimana Rasulullah rela menyerahkan urusan agama kepadanya.’’


Pada era awal Islam, standar yang digunakan untuk menunjuk seorang pemimpin adalah faktor spiritual. Hal ini diwakili oleh agama dan tiang dari agama tidak lain adalah shalat.

Maka pantas jika kemudian hasil dari standar pemilihan semacam ini memunculkan pemimpin yang sesuai kehendak Allah.

Pastinya pula sesuai dengan kehendak manusia sebagai makhluk Allah. Shalat merupakan pengukur sekaligus penakar kesalehan seorang hamba.

Baik kesalehan terhadap Allah, maupun terhadap sesama. Jika shalat hamba tersebut baik, dalam arti sempurna dari segi syarat, rukun dan kekhusuannya, maka bisa dipastikan orang tersebut akan memiliki nilai kesalehan yang tinggi sebagai dampak dari shalatnya.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Allah dalam surat al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar.”
Benar saja, orang yang saleh karena shalat, berarti mampu meresapi dan memegang prinsip-prinsip yang ada dalam shalat.

Paling tidak, orang itu selalu merasa diawasi Allah SWT. Sebab dalam shalat, seorang hamba diajari untuk merasa melihat Allah sejak takbiratul ihram sampai salam atau kalau tidak bisa merasa melihat Allah, paling tidak harus merasa dilihat oleh Allah.

Orang yang terbiasa merasa melihat Allah atau merasa dilihat oleh Allah SWT akan selalu hati-hati dalam melangkah, berhati-hati dalam bekerja. Hal yang menjadi pertimbangannya, sudah sesuaikah langkahnya atau apa yang dia kerjakan dengan kehendak Allah?

Kalau sesuai alhamdulillah, sebaliknya bila tidak, maka harus siap menerima siksa-Nya. Prinsip seperti ini akan membuat seorang hamba menjadi orang saleh, yang baik kepada manusia dan pencipta manusia, yang baik di depan umum maupun sedang sendirian.

Orang seperti ini pulalah yang pantas menjadi pemimpin. Pertanyaannya sekarang, adakah diantara calon pemimpin kita yang seperti ini? Jika ada, sebutkan siapa? Jika tidak, sampai kapan negara kita terus seperti ini?

Fiqih & Keutamaan Puasa di Hari Asyura & Tasu’a

Syarah Riyadhus Shalihin puasa sunnah pada bulan Muharram

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin


Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)



Hadits yang Pertama

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Hadits yang Ketiga

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.


Penjelasan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]

Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]


Wallahu a’lam bish shawab.


_____
(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)

CATATAN KAKI:

[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . –

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)

Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:

“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .

“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”

Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.

لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-

“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))

[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)

[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.

Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.

Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)

[4] (lihat no. 3)

[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء.

Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)

Wallaahu a’lam.

*http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/01/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10-muharram/

Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang Membodohi Remaja

dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari telah menjadi hari special yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktivitas yang turut mewarnai valentine’s day.

Sejarah Valentine’s Day

Valentine’s Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan kepercayaan kuno di kalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.

Versi kedua, menghubungkan Valentine’s Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.

Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.

Bergesernya Makna Valentine’s Day

Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.

Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.

Sikap Seorang Remaja

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine’s Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas coklat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Perayaan Valentine’s Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof. Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.

Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine’s Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Pendahuluan, Adab Guru & Murid


(Said Hawwa). Warisan kenabian adalah acuan pembaruan yang benar, karena misi utama para Rasul alaihimussalam adalah tadzkir, ta’lim, dan tazkiyah. Karena itu, pewaris kenabian yang utuh adalah orang yang mampu menjaga hal-hal ini tetap utuh dan sempurna, melaksanakannya, dan menunaikan hak-hak Allah padanya. Jarang sekali tiga hal ini berhimpun pada seseorang. Ada seorang yang piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak banyak berilmu; ada seorang yang banyak berilmu tetapi tidak piawai dalam menyampaikan nasihat; ada seorang yang berilmu dan piawai dalam menyampaikan nasihat tetapi tidak mampu melakukan tazkiyah. Siapa yang memiliki ketiga hal ini maka dia telah memiliki “obat mujarab” kehidupan. Jika tidak maka proses tajdid tetap harus berlangsung di kalangan mereka yang menginginkan dan yang melaksanakannya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian nasihat para pemberi nasihat adalah mengingatkan (tadzkirah) kepada ayat-ayat Allah di ufuk dan di jiwa; mengingatkan kepada perbuatan dan hari-hari Allah; mengingatkan kepada berbagai hukuman dan sanksiNya; mengingatkan kepada apa yang dijanjikan, disiapkan, dan diancamkan Allah kepada orang-orang yang bermaksiat atau ta’at kepadaNya.

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian ta’lim para ulama ialah ta’lim Al Qur’an dan As Sunnah yang merupakan penjelasan Al Quran.

“Akan tetapi (Dia Berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali Imran: 79)

Hal terpenting yang harus menjadi perhatian tarbiyah para murabbi ialah memperbaiki hati dan perilaku:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah: 151)

Setiap zaman punya penyakit dan masalah tersendiri, dan sepanjang zaman juga punya penyakit dan masalah tersendiri, sedangkan seorang ‘alim yang rabbani ialah orang yang mampu mengobati penyakit-penyakit kontemporer dan penyakit-penyakit sepanjang zaman. Itulah tanda keberhasilannya dalam tazkiyah.

Semenjak abad pertama telah muncul aliran irja’ (Murji’ah), tasyayyu’ (Syi’ah), kharijiyah (Khawarij), dan i’tizal (Mu’tazilah). Inti ajaran irja’ ialah meninggalkan amal; inti tasyayyu’ ialah berlebihan dalam masalah ahlul bait Rasulullah saw; inti ajaran Khawarij ialah ketumpulan akal, terburu-buru mengkafirkan, tidak menghormati orang yang memiliki keutamaan, dan iman mereka yang tidak melampaui kerongkongan mereka; dan inti ajaran i’tizal adalah terburu-buru melakukan ta’wil yang tidak ilmiah. Aliran-aliran seperti ini dianggap sebagai penyakit sepanjang zaman yang bisa muncul terus-menerus. Demikian pula penyakit yang memiliki sifat langgeng dalam kemunculannya.

“Menjalar di antara kalian penyakit-penyakit ummat sebelum kalian yaitu dengki dan permusuhan…” (HR Ahmad dan Tirmidzi, Hadits ini Shahih)

Selain itu, setiap zaman punya penyakit tersendiri. Di antara penyakit zaman kita ialah apa yang diisyaratkan oleh beberapa nash:

“Ilmu yang pertama kali diangkat dari bumi adalah kekhusyu’an.” (HR Thabrani, hadits ini hasan)

“Tetapi kalian seperti buih banjir…dan sungguh Allah akan menanamkan wahn di hati kalian…cinta dunia dan takut mati.” (HR Abud Dawud, hadits ini hasan)

Anda lihat bahwa zaman kita sekarang ini adalah zaman dimana kekhusyu’an sangat sedikit tetapi cinta dunia dan takut mati sangat mendominasi. Karena itu, seorang ‘alim (guru atau syaikh) yang tidak berhasil menghilangkan penyakit-penyakit ini maka ia tidak banyak bisa melakukan tajdid. Seorang ‘alim harus memiliki kemampuan seperti ini sehingga para murid bisa merasakannya.

Seorang guru dan da’i harus menyelenggarakan berbagai majlis nasihat, majlis ilmu, dan majlis tazkiyah, sehingga mungkin bisa menggabungkan antara yang satu dengan yang lain, atau membuat majlis umum untuk nasihat dan majlis khusus untuk tazkiyah yang menyelenggarakan dzikir dan mudzakarah fardiyah atau jama’iyah dengan membaca sesuatu yang paling cocok dalam hal ini. Sementara itu diadakan pula majlis-majlis yang lain untuk ilmu-ilmu yang rinci seperti tilawah, tajwid, As Sunnah dan ilmu-ilmunya, tafsir, ilmu-ilmu Al Qur’an, fiqh, ushul fiqh dan lain sebagainya.

Titik awal keberhasilan amal ini adalah adab yang mengatur guru dan murid. Selagi tidak ada adab yang mengikat murid dengan gurunya maka tidak akan bisa berlanjut dalam perjalanan. Selagi guru tidak melaksanakan adab ta’lim (mengajarkan ilmu) maka keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana ia melaksanakan adab-adab tersebut. Oleh karena itu, mengetahui adab guru dan murid termasuk hal yang sangat penting dalam perjalanan kepada Allah, bahkan untuk menegakkan agama dan dunia.

Gerakan da’wah yang paling berhasil dalam sejarah Islam adalah gerakan yang menekankan sejak awal pada:
Kepercayaan (tsiqah) kepada pimpinan dan pemimpin, kepercayaan yang menumbuhkan ketaatan hati.
Dzikir terus-menerus dan ilmu yang menyeluruh, yang diperlukan dan yang sesuai .
Keakraban dengan lingkungan yang baik, menghadiri pertemuan-pertemuan –dzikir,ilmu dan lainnya- dan memperkuat berbagai hubungan antar-anggotanya
Penumbuhan adab-adab hubungan yang baik antara dirinya dan manusia secara umum
Pelaksanaan public service (Khidmah ‘aammah) dengan penuh semangat dan perhatian

Gerakan yang menghimpun nilai-nilai ini pada para pemulanya adalah gerakan yang mampu hidup dan tambah. Oleh karena itu, para ulama aktivis harus menekankan nilai-nilai ini agar bisa diserap dan dihayati oleh para pemula sejak awal.

Nuh as. menyeru kaumnya seraya berkata:

“Sembahlah Allah, bertaqwalah kepadaNya dan ta’atlah kepadaku.” (Nuh: 3)

Setiap Rasul menyeru kaumnya kepada hal yang sama.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Al Anbiya: 25)

Nabi Hud, Shalih, Syu’aib dan lainnya juga berseru “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ta’atlah kepadaku”

Selama seorang murabbi tidak berhasil menumbuhkan keta’atan yang penuh kesadaran dari seorang murid, membiasakannya melakukan ibadah, dan merealisasikan ketaqwaannya maka sesungguhnya ia belum berbuat sesuatu. Titik awal hal ini terletak pada ihtiram (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) seorang murid kepada gurunya, dan kelayakan guru mendapatkan hal tersebut. Semua ini membuat kami harus memulai kajian di dengan Adab Guru dan Murid dari kitab Ilya’. Marilah kita ikuti keterangan Al Ghazali secara langsung.

Doa seperti akses internet

dakwatuna.com – Internet dan pengguna internet saat ini telah hampir digunakan dari semua kalangan, dari mahasiswa, anak sekolah, orang kantoran, ibu rumah tangga, pengangguran, anak TK, dari yang digunakan untuk main game, interaksi sosial, mencari wawasan, mencari uang, hingga internet telah menjadi target-target program perusahaan dan pemerintahan “Internet masuk desa”.

Lalu ada apa dengan doa? Dalam menggunakan internet, melakukan akses dipengaruhi biaya/paket yang dikeluarkan, waktu dan tempat mengakses internet, belum lagi hardware-software yang digunakan untuk mempercepat akses, dan doa pun juga seperti akses internet.

Kecepatan akses internet, kadang tergantung kapan kita menggunakan internet, di pagi hari, siang, sore, atau malam, kalau jam-jam aktivitas menggunakan internet lebih lambat, begitu juga dimana kita menggunakan internet, di kampus, di rumah, di perkotaan, di desa, kadang ada orang yang membangun mini tower signal untuk mendapat sinyal kuat, kadang mencari tempat-tempat yang menyediakan akses kecepatan yang lebih, pakai modem paket bulanan, mingguan, harian, unlimited, atau dengan kuota yang kecepatan tergantung harga dari paket. Bagaimana dengan doa? Hadits Rasulullah:

1. Sepertiga Akhir Malam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga akhir malam terakhir, lalu berfirman: Barangsiapa yang berdoa, pasti akan Kukabulkan, barangsiapa yang memohon pasti akan Aku perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti akan Ku ampuni.” (HR Bukhari)

2. Di saat berbuka puasa

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu’anhu, dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak.” (HR Ibnu Majah)

3. Pada shalat fardhu sebelum salam di tasyahud akhir

Dari Abu Umamah Radhiyallahu’anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wata’alla, beliau menjawab:

“Di pertengahan malam yang akhir dan pada setiap dubur shalat fardhu.” (HR At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

4. Di antara adzan dan iqamah

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah.” (HR Abu Daud, dishahihkan Al-Albani)

5. Pada saat sedang turun hujan

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Dua doa yang tidak pernah ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu turun hujan.” (HR Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

6. Pada waktu bangun tidur malam hari bagi orang yang bersuci dan berdzikir sebelum tidur

Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR Ibnu Majah)

Ada waktu-waktu yang memang membuat doa itu menjadi lebih spesial dibanding doa-doa di waktu lain, seperti di antara yang telah disebutkan di atas. Sepertiga malam, akses di internet di waktu malam akan lebih cepat karena apa? Pengguna internet pada tidur, pengguna internet berkurang, dan sepertiga malam adalah waktu doa, karena merekalah yang bangun di kala orang lain tidur dan waktu yang sulit untuk bangun, mereka berdiri untuk shalat di saat orang lain terbaring di tempat tidur, mereka membasahi diri mereka dengan air wudhu dan tangisan di saat orang lain sedang menutup matanya. Jangan mengeluh ketika hujan, berdoalah karena hujan adalah rahmat, banjir, longsor, dan bencana yang terjadi di saat hujan, bukan karena hujannya, tapi coba introspeksi kerusakan apa yang telah diperbuat manusia, di saat orang banyak mengeluh, “yah hujan, pake hujan segala lagi, kok hujan sih” maka janganlah menjadi pribadi-pribadi yang seperti itu, berdoalah yang baik.

Dan tempat dimana orang itu berdoa, betapa banyak orang-orang mencari tempat makan yang ada akses internetnya, tempat prasarana umum yang ada akses internetnya, maka seharusnya kita juga mencari tempat-tempat yang di situlah doa mudah terkabulkan, di masjid, di majelis ta`lim, di Masjidil Haram, tempat-tempat yang telah Allah berkahi dan memiliki keutamaan karena Allah yang telah memberikannya, rumah-rumah yatim karena di sana banyak anak yatim, santuni anak yatim, rumah para ulama(sekolah, pondok pesantren) bukan karena rumahnya tapi karena di sana ada ulama dan orang-orang shalih, mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, silaturahim ke rumah ulama, ke rumah guru-guru, ke rumah saudara-saudara dan perbanyaklah saudara yang shalih,

Doa seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya

Dari Abu Darda’ Radhiyallahu’anhu, dia berkata bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tidak seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada dihadapannya kecuali ada seorang malaikat yang ditugaskan berkata kepadanya: ‘Aamiin, dan bagimu seperti yang kau do’akan.” (HR Muslim)

Bukan ke kuburan, bukan ke dukun, melakukan kesyirikan dengan bertawasul kepada orang-orang yang sudah mati, perbanyaklah pulang ke rumah yang masih orang tuanya hidup, pergi ke pantai mengarung sesaji, meminta kepada setan. Lalu perbanyaklah waktu di rumah yang orang tuanya masih hidup, berbaktilah:

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dia Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tiga doa yang tidak ditolak; doa orangtua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” (HR Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Selain tempat dan waktu, kita juga membayar paket internet. Maka paket doa adalah dengan amalan-amalan baik yang kita lakukan, shalat, puasa, baca Quran, sedekah, silaturahim, mohon ampun, berhenti dan berusaha semaksimal untuk berkurang maksiat yang kita lakukan tiap waktunya dan amalan lainnya, bahkan kita diperbolehkan berdoa dengan menyebut amalan baik kita(bertawasul dengan amalan baik). Dalam berdoa yang ditekankan adalah kita hidup ini sebenarnya dalam keadaan berperang, selain berperang dengan godaan setan, nafsu, maksiat, kita juga sedang berperang dalam doa, usaha, dan dalam tawakkal, maka kita juga harus punya dan memanfaatkan strategi-strategi yang telah Allah dan RasulNya beritahukan, memang Allah maha Mengabulkan, Maha mendengar, Maha mengetahui, tapi kita sedang berperang setidaknya doa kita juga berperang dengan maksiat yang telah kita lakukan, karena sesungguhnya maksiat adalah penghalang terkabulnya doa. Wallahu`alam.