Aulia Khamas, Alumni Thariq yang jadi Doktor

Nama lengkapnya Aulia Khamas Heikhmakhtiar. Sebuah nama yang merujuk pada semangat para pejuang Hamas di Palestina dan tokoh perjuangan Afghanistan. Orang tuanya berharap ia memiliki semangat juang yang tinggi dalam menjalani hidupnya. Dan hal itu akhirnya terbukti dengan perjuangannya menempuh pendidikan di negeri orang hingga meraih gelar Doktor. Dengan izin dan pertolongan Allah, disertasi berjudul “In Silico Assessment of Toxicity of Proarrhythmia Drugs using Electrophysiological Model of Human Ventricle” (Penilaian Secara Simulasi Komputer Terhadap Tingkat Bahaya dari Obat-obatan yang Menyebabkan Gangguan Jantung dengan Menggunakan Model Elektrofisiologi Sel Ventrikel Manusia) di Gumi, Korea Selatan mampu ia pertahankan di hadapan para profesor penguji dari Kumoh Institute of Technology, Gumi, 6 Desember 2019 lalu.

Lelaki shaleh dan cerdas yang berusia 30 tahun ini adalah putra sulung pasangan Abdul Hanan dan Rita Sutresnasih. Kedua orang tuanya tinggal di Perum Mutiara Gading Timur Bekasi, Jawa Barat. Namun saat ini Aulia menetap bersama istrinya Finantria Legowo serta buah hatinya Jasmine Azzahra Aulia (2 tahun) di Bandung dan menjalani aktifitasnya sehari-hari sebagai dosen di Universitas Telkom Dayeuhkolot, Bandung. Obsesinya ingin membangun laboratorium riset supaya bisa berkontribusi pada bidang pendidikan untuk masyarakat luas. Satu di antaranya, ia ingin membuat sistem yang mampu memfilter obat-obatan yang mempunyai efek berbahaya ke jantung sebelum masuk ke pasar.

Selain menimba ilmu di negeri Gingseng, sejak September 2014 hingga tahun 2020, Aulia juga aktif di berbagai kegiatan, baik yang bersifat ilmiah seperti menghadiri konferensi di University of California Berkeley Amerika Serikat dan konferensi di Berlin Jerman, maupun kegiatan lain seperti di KBRI Seoul, menjadi mentor di Universitas Terbuka (UT) cabang Korea Selatan untuk membantu Tenaga Kerja Indonesia (TKI), aktif di Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA) dan menjabat sebagai “MenKomInfo” PERPIKA pada periode 2017/2018, juga kegiatan-kegiatan keIslaman.

Aulia yang merupakan alumni SMPIT Thariq Bin Ziyad (2003-2006) ini dulunya adalah seorang anak yang prestasinya termasuk biasa-biasa saja. Tidak ada kelebihan yang menonjol dari sisi akademis dan ia tergolong siswa kebanyakan yang hanya ada di 10 besar rangking di kelasnya. Namun ketaatan kepada orang tua dan guru mengantarkan dirinya mampu menyelesaikan pendidikannya hingga S3 dengan beasiswa murni. Salah satu yang ia tanamkan sejak SD dan SMP adalah memiliki visi dan cita-cita. “Cita-cita itu gratis”, ujarnya singkat sambil tersenyum.

Saat menjalani S2, Aulia pernah mendapat kesempatan bekerja dengan tawaran gaji sebesar 40 juta rupiah. Namun orangtuanya menyarankan untuk tetap fokus belajar dan menyelesaikan pendidikannya hingga S3. Sekali lagi, Aulia patuh pada arahan orangtuanya dengan melepas “godaan” pekerjaan dengan gaji menggiurkan tersebut. Ketaatan kepada orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilannya kini. Aulia juga bertutur selain taat pada orang tua, kunci kesuksesan lainnya adalah taat dan hormat pada guru. “Jangan ngomongin guru, karena guru juga manusia yang memiliki kekurangan, insyaAllah ilmunya berkah”, tambahnya. Hal itu yang ia sampaikan pada saat bincang santai di kanal Youtube SMPIT TBZ TV dalam acara NgobrAs THARIQ #4 (Ngobrol Asyik ala THARIQ) yang ditayangkan secara LIVE pada Rabu, 10 Maret 2021 lalu.

Di akhir obrolan tersebut Aulia memberikan lagi sebuah rumus kesuksesan yaitu, keberhasilan adalah orang yang siap bertemu dengan kesempatan.

Bagaimana penjelasan dan maksud dari rumus tersebut ?

Simak obrolan lengkapnya di link berikut :

https://youtu.be/dV9fAKxRVGs

Membeli Keringat GURU

Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya,

Murid : “Jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu?

Gurunya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan. Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan berkata : “Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram”. “Berapa harga emas seberat itu?”.

Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia menjawab, “Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyar rupiah,”.

Guru : “Baiklah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya?”

Murid berkata : “Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya, saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga dibawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 milyar?”

Guru menjawab : “Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu”.

Guru berkata lagi, “Satu lagi pertanyaanku. Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : “Ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini, tanpa keringat ini tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian” “Apakah ada yang mau membeli keringatnya? ”

“Tentu tidak”, ujar murid.

“Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya.

“Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : “Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu…”.

Guru berkata : “Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi Ilahi Rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik di dunia ini.”

-anonymous-

Sekolah, Lingkungan Penting Pembentuk Karakter Anak

Ada seorang Ayah yang bersikeras membeli rumah untuk keluarganya. Padahal sang empunya menawarkan harga relatif tinggi dibanding harga rumah dengan spesifikasi setara di tempat lain. Alasan sang Ayah yaitu, banyak ustadz dan ustadzah serta orang-orang shaleh dan cerdas yang tinggal di lingkungan tersebut. Ia berprinsip itu adalah investasi yang tak ternilai bagi keluarganya kelak terutama untuk anak-anaknya. Sehingga harga rumah sudah tidak lagi jadi persoalan dibandingkan dengan keuntungan yang akan diperoleh untuk pembentukan karakter anak-anak, dan hal tersebut bisa menjadi investasi akhirat bagi orang tua.

Penggalan kisah diatas merupakan sedikit dari kisah hidup sebuah keluarga. Yang diantara kisah tersebut adalah saat dimana seorang Ayah harus menentukan lingkungan tempat tinggal bagi keluarganya.

Ada tiga lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan karakter. Bukan hanya bagi anak tapi juga bagi orang tua. Yaitu lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.

Lingkungan keluarga tentunya menjadi tanggung jawab kepala keluarga. Akan tetapi, memilih lingkungan masyarakat dan sekolah yang tepat bagi anak adalah beban yang juga bersemayam di pundak seorang Ayah. Sungguh Ayah memiliki peran strategis dalam menentukan lingkungan dengan dibantu dukungan sang Bunda.

Pada kondisi normal, lingkungan sekolah yang menerapkan durasi belajar fullday menjadi sangat berpengaruh terhadap pendidikan karakter anak. Anak berada di sekolah dengan guru dan teman-temannya selama seharian. Menjelang malam hingga waktu tidur dengan durasi relatif pendek, mereka baru bertemu dengan keluarganya. Karena itu, karakter para guru menjadi sorotan sebelum orang tua yakin untuk menitipkan anak-anaknya di sekolah tersebut.

Pada kondisi pandemi, orang tua mesti berpikir keras untuk menemukan sekolah yang dapat mendampingi putra putrinya belajar dengan baik tanpa mengabaikan pembentukan akhlak, pembiasaan dengan Al-Qur’an dan tetap berprestasi dalam bidang akademik, walaupun dengan media online. Pada akhirnya, media online yang notabene diciptakan oleh orang luar pun menuntut anak-anak untuk memiliki kompetensi berbahasa dengan baik.

Tahun ini, SMPIT Thariq Bin Ziyad genap berusia 19 tahun dalam berkiprah di dunia pendidikan. Berusaha mendampingi anak-anak yang sedang berada di usia peralihan dari masa kanak-kanak menuju remaja. Sebuah fase yang relatif tidak mudah dilalui dalam salah satu jenjang pembentukan pribadi anak. Namun, kekompakan dan kematangan tim pendidik di SMPIT Thariq Bin Ziyad mampu mengatasi hal tersebut, karena guru-guru di sini telah dibekali dengan karakter yang ber-syakhsiyah Islamiyah sekaligus da’iyah.

Program pembentukan karakter shaleh dan cerdas di SMPIT Thariq Bin Ziyad lebih terarah dan fokus dengan adanya program A3B (Akhlaq, Al-Qur’an, Akademik dan Bahasa) yang diluncurkan LPIT Thariq Bin Ziyad lebih dari 10 tahun yang lalu. Dan itu menjadi kekhasan di lingkungan SIT Thariq Bin Ziyad.

Kadang orang tua terkecoh dengan sekolah yang menjamin anak-anaknya akan menjadi anak yg berkarakter baik. Padahal masa 3 tahun ini (usia peralihan) adalah masa yang relatif sulit untuk membentuk karakter anak. Di SMPIT Thariq Bin Ziyad setiap hari, anak-anak akan disuguhkan keteladanan dari guru serta diberikan pengalaman dan arahan untuk membentuk karakternya sendiri dalam koridor Islami. Ketika mereka tahu cara menjadi shaleh dan cerdas maka orang tua hanya perlu membantu memilihkan lingkungan yang tepat agar anak menemukan jalan kebaikannya masing-masing.

Wallahua’lam.

-adi-

BEASISWA MONBUKAGAKUSHO

Perkenalkan, saya Hanif Ali Hasanain, alumni SDIT Thariq Bin Ziyad Pondok Hijau Permai angkatan 2010, juga alumni SMPIT Thariq Bin Ziyad Toyogiri angkatan 2013. Salam kenal untuk semuanya yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca artikel yang saya tulis ini.

Alhamdulillah kali ini saya diberikan kesempatan untuk sedikit berbagi pengalaman saya, sebagai alumni Thariq Bin Ziyad yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di Negeri Matahari Terbit, atau Negeri Sakura, Jepang. Mulai dari awal ketertarikan, proses mencari beasiswa, hingga lulus, dan berangkat ke Jepang.

Ketertarikan saya terhadap Jepang sebenarnya sudah ada sejak saya masih SD, namun pada saat saya kelas 2 SMA, ketertarikan tersebut mulai berubah menjadi niat serius untuk kuliah keluar negeri. Pada saat itu, ada teman yang kebetulan memberikan informasi mengenai pameran pendidikan Jepang di JCC, Senayan. Teman saya kebetulan melihat poster tersebut di depan ruang guru konseling, kemudian menginformasikan hal tersebut kepada saya.

Berangkatlah saya ke pameran tersebut. Itulah pertama kalinya saya mendapat informasi mengenai sekolah – sekolah beserta beasiswa yang tersedia bagi para pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah ke Jepang. Saya sempatkan untuk berbincang dengan utusan – utusan dari berbagai universitas dan sekolah bahasa yang ada di Jepang. Mulai dari kurikulum, sistem belajar mengajar, hingga kehidupan diluar pelajaran seperti ekstrakulikuler.

Hampir setiap sekolah dan universitas yang turut serta dalam acara tersebut dihadiri oleh utusannya masing – masing yang datang langsung dari Jepang. Pada saat kita bertanya, akan ada penerjemah yang menerjemahkan pertanyaan kita ke Bahasa Jepang, dan kita akan mendapat jawaban langsung dari utusan – utusan tersebut. Semuanya baik dan ramah – ramah, sesuai dengan budaya “omotenashi”, atau “keramah – tamahan”nya orang Jepang. Inilah salah satu alasan ketertarikan saya terhadap Negeri Sakura.

Ada satu stand yang paling besar dalam pameran tersebut, yaitu stand gabungan dari JASSO dan Kedutaan Besar Jepang, selaku penyelenggara acara. Disinilah saya mendapatkan informasi mengenai Beasiswa Monbukagakusho, salah satu beasiswa paling favorit, yang seleksi setiap tahunnya diikuti oleh ribuan siswa terbaik dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Setelah berbincang mengenai program beasiswa tersebut dengan pihak JASSO dan Kedutaan Besar Jepang, pada awalnya saya biasa aja, karena lolos menjadi salah satu utusan Indonesia, mengalahkan ribuan peserta terbaik lainnya itu bagaikan mencoba lolos melewati lubang jarum yang sangat kecil, hampir mustahil.

Namun, masih ada rasa penasaran saya untuk mencoba ikut serta dalam seleksi tersebut, memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan sembari menguji kemampuan diri. Karena apabila setelah memberikan yang terbaik saya gagal dalam seleksi pun, akan ada Ilmu serta pengalaman berharga yang saya dapatkan setelah menjalani seluruh prosesnya.

Setelah diskusi dengan kedua orang tua, dan mendapatkan persetujuan dari keduanya, dimulailah perjuangan saya untuk mendapatkan Beasiswa Monbukagakusho. Seleksi beasiswa ini meliputi empat tahap, seleksi berkas, tes tertulis, wawancara, serta seleksi berkas akhir yang langsung diadakan oleh Kementrian Pendidikan Jepang. Persiapan diri saya mulai dengan membaca berbagai artikel dan blog mengenai pengalaman orang – orang yang pernah mengikuti rangkaian seleksi beasiswa, baik itu Monbukagakusho, atau beasiswa lainnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak – banyaknya sebelum seleksi tersebut dimulai.

Saya juga meningkatkan jam belajar saya untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional, karena pada saat itu, salah satu persayaratan untuk mendaftar beasiswa ini adalah memiliki rata – rata nilai UN diatas 8.4. Alhasil saya ikut bimbingan belajar serta turut serta dalam berbagai Try Out untuk mengasah kemampuan diri. Kemampuan Bahasa Inggris pun turut saya tingkatkan untuk memperkuat kemampuan berkomunikasi.

Pada saat yang bersamaan, saya juga berusaha memperluas pengetahuan saya mengenai Jepang, mulai dari makanannya, budayanya, adat istiadat hingga keunggulan teknologi serta perkembangan riset ilmu pengetahuan yang sedang diadakan disana. Ini saya anggap salah satu proses yang penting untuk memperkuat ketertarikan saya, serta untuk mencari keterikatan antara perkembangan riset dan minat serta kemampuan yang saya miliki. Sehingga ketika datang waktu untuk menjelaskan alasan ketertarikan saya terhadap Jepang, saya bisa dengan lancar, padat dan jelas menyampaikannya kepada pihak penyelenggara beasiswa.

Cerita berlanjut ke tahun 2016, Alhamdulillah pada saat itu, saya berhasil mendapatkan nilai rata – rata UN diatas 8.4, artinya persyaratan mutlak untuk ikut seleksi beasiswa sudah terpenuhi. Saya pun mulai mengisi formulir, serta mempersiapkan dokumen – dokumen lain yang dibutuhkan dalam tahap seleksi pertama. Sejujurnya, pada tahap ini saya masih tidak berharap apa – apa, karena beberapa senior terbaik dari SMA tempat saya sekolah sudah pernah mencoba untuk ikut seleksi Beasiswa Monbukagakusho, namun umumnya gagal, dan kebanyakan dari mereka gagal di tahap seleksi berkas ini.

Namun diluar dugaan, saya ternyata dinyatakan lulus seleksi berkas awal dan lanjut ke seleksi selanjutnya, yaitu ujian tulis. Cukup senang rasanya, mengingat jumlah peserta yang awalnya ribuan, diseleksi hingga hanya tersisa sekitar 100 peserta. Disaat yang bersamaan, saya juga merasa cukup tegang karena ujian tulis merupakan ujian yang paling sulit dari seluruh rangkaian seleksi beasiswa ini.

Kedutaan Besar Jepang, selaku penyelenggara seleksi Beasiswa Monbukagakusho di Indonesia, hampir setiap tahunnya menyiapkan soal seleksi dari tahun – tahun sebelumnya yang bisa di download dari internet. Soal – soal inilah yang saya jadikan bahan untuk belajar dari jauh – jauh hari, bahkan sebelum hasil seleksi berkas diumumkan.

Usaha saya mempersiapkan diri dari jauh hari, sebelum hasil seleksi berkas diumumkan pun membuahkan hasil. Saya dinyatakan lulus ujian tertulis dan lanjut ke ujian wawancara. Luar biasa rasanya, berhasil melewati suatu ujian yang  sulit, senang dan bahagia atas hasil upaya yang dilakukan hingga saat ini.

Selanjutnya, ujian wawancara. Disinilah penyelenggara beasiswa melihat karakter dan motivasi masing – masing peserta. Ada satu hal yang sangat penting, yang paling diperhatikan dan dicari oleh penyelenggara beasiswa. Yaitu keuntungan yang bisa didapat oleh kedua belah pihak, baik penyelenggara beasiswa, maupun penerimanya.

Artinya adalah, kita sebagai peserta harus pandai menunjukkan motivasi, serta memberikan alasan mengapa kita adalah kandidat yang cocok untuk menerima beasiswa  tersebut. Setiap program beasiswa punya tujuan dan target masing – masing yang perlu kita perhatikan pada saat mendaftar. Dalam hal ini, yang dicari oleh Beasiswa Monbukagakusho adalah peserta yang bisa mempererat kerjasama antar negara, khususnya antara Indonesia dan Jepang. Maka dari itu, kita harus menyiapkan jawaban terbaik untuk menyampaikan motivasi, ketertarikan, serta kemampuan kita dalam mencapai target tersebut.

Saya cukup percaya diri pada saat mengikuti ujian wawancara ini, karena bagi saya ujian tersulit merupakan ujian tulis. Pada saat wawancara pun, hampir seluruh pertanyaan berhasil saya jawab dengan lancar, cukup percaya diri bahwa saya berhasil memberikan kesan yang baik kepada para juri seleksi. Dan alhamdulillah, sekitar satu bulan setelah wawancara diadakan, saya dinyatakan lulus dan berkas – berkas saya akan dikirim langsung ke Jepang untuk menjalani seleksi berkas akhir.

Seleksi berkas akhir ini cukup menghabiskan waktu, karena berkas – berkas ini datang tidak hanya dari Indonesia, tapi dari seluruh dunia. Setelah diumumkannya hasil ujian wawancara, saya menunggu sekitar 3 bulan hingga hasil akhir dari seluruh rangkaian seleksi Beasiswa Monbukagakusho diumumkan.

Dan pada awal desember 2016, tepat sesaat setelah saya pulang bepergian keluar mengantar ibu tercinta, sebuah notifikasi email masuk ke HP saya, yang datang dari alamat email resmi Kedutaan Besar Jepang, berisi hasil seleksi akhir program beasiswa Monbukagakusho. Didalamnya hanya tertulis hanya dua kalimat, “Selamat, anda dinyatakan lulus seleksi akhir beasiswa monbukagakusho. Apabila anda bersedia menerima beasiswa ini, mohon segera hubungi kami segera dengan membalas email ini”, disertai sebuah file berupa surat pernyataan.

Suatu perjalanan yang pada awalnya hanya ditujukan untuk menghabiskan rasa penasaran serta menguji kemampuan diri, atas izin Allah, ternyata membuahkan hasil. Dan pada awal bulan April 2017, saya berangkat ke Jepang dibawah naungan Beasiswa Monbukagakusho, untuk melanjutkan pendidikan saya di Negeri Sakura sebagai salah satu utusan dari Indonesia. Pada saat saya menuliskan artikel ini, November 2020, saya sedang melanjutkan studi saya di bidang teknik elektro di Universitas Gunma.

Tentunya keberhasilan saya dalam mengikuti serangkaian ujian seleksi tidak luput dari dukungan penuh kedua orangtua, yang senantiasa memberikan do’a dan nasihat tiada henti. Sungguh bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat pengertian, yang bersedia mendukung penuh impian saya. Suatu pelajaran berharga dimana impian yang disertai usaha, do’a, serta dukungan penuh dari kedua orang tua bisa terwujud atas izin Allah.

Untuk teman – teman yang sedang bersekolah, baik SDIT maupun SMPIT Thariq Bin Ziyad, saya sangat sarankan untuk memperluas pandangan dan mencoba untuk kuliah keluar negeri bila ada kesempatan yang tersedia. Tuliskan setiap impian dan target kalian di sehelai kertas, dan tempelkan kertas tersebut di meja belajar, atau di tempat – tempat yang sering kalian gunakan. Insha Allah suatu saat nanti kalian akan melihat kertas tersebut penuh dengan coretan pertanda kalian sudah mencapai target – target tersebut.

Sekian cerita mengenai perjalanan saya mendapatkan Beasiswa Monbukagaksuho. Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah datang dari diri saya pribadi.

 

 

 

 

Kisah Inspiratif Qur’ani

Tidak seperti sebuah buku yang selalu ada peluang salah dan diakui penulis di setiap kata
pengantarnya, Al Qur’an justru telah diberikan jaminan oleh Allah tentang validitas dan
kemutlakan kebenarannya di “pengantar” atau halaman awal Al Qur’an,

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”(Al-Baqarah : 2)

Dalam menyampaikan pesan-pesan Al Qur’an diperlukan metode yang tepat. Yang menjadi
persoalan adalah, tidak ada satu metode tertentu yang dapat digunakan untuk menyampaikan
pesan-pesan Alquran tersebut yang efektif untuk semua kelompok manusia. Artinya,
seseorang yang ingin menyampaikan pesan Al Qur’an harus berfikir dengan cara apa dan
bagaimana ia menyampaikannya jika ia berada di tengah suatu kelompok tertentu. Di sinilah
dibutuhkan sebuah kreatifitas.

Buku yang hadir di tengah-tangah anda ini adalah sebuah upaya menyampaikan pesan-pesan
Al Qur’an secara tematis dengan metode bercerita. Hal ini tentu lebih mengena kepada
pembaca karena cerita yang disampaikan adalah cerita-cerita nyata yang dialami oleh penulis
yang dalam hal ini adalah peserta didik SMPIT Thariq Bin Ziyad. Pembaca tentu tidak merasa
dinasehati atau didoktrin karena cerita yang disampaikan juga sangat mungkin dialami oleh
para pembaca.

Apresiasi yang tinggi saya sampaikan kepada guru yang bersangkutan dengan terbitnya buku
ini, dan tentu saja kepada peserta didik yang secara kreatif menyampaikan cerita yang
mengandung nilai-nilai moral dan pendidikan dari realitas kehidupan mereka sehari-hari.

(Kalimi, A.Md. Kepala Sekolah SMPIT Thariq bin Ziyad 2011-2019 )

Klik Gambar untuk DOWNLOAD bukunya

17 Juz dalam 3 Tahun

Kisah inspiratif kali ini datang dari Kamila Rizky Tamara. Remaja 14 tahun 9 bulan asal Mustikajaya Kota Bekasi ini telah berhasil menghafalkan 30 juz Al-Qur’an selama mengenyam pendidikan di SIT Thariq Bin Ziyad.

“Al-Qur’an dapat memberi syafa’at kepada pemiliknya”, kata Mila panggilan sehari-harinya saat ditanya kenapa ia menghafal Al-Qur’an.

Remaja kelahiran Bekasi 8 Januari 2006 silam itu mengaku prestasinya tersebut tidak terlepas dari dukungan orang tuanya yang menginginkan dirinya untuk menjadi seorang hafizhah atau penghafal Al-Qur’an.

Mila mulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk di bangku SDIT Thariq Bin Ziyad. Selama 6 tahun bersekolah di jenjang SD, Mila mampu menghafal dan lulus sertifikasi hafalan Al-Qur’an sebanyak 3 juz. Prestasi menghafal Al-Qur’annya melesat ketika menjadi siswa di SMPIT Thariq Bin Ziyad. Di jenjang SMP Mila berhasil menuntaskan 17 Juz hafalannya. Sebuah prestasi gemilang bagi anak seusianya yang bersekolah secara full day. Di jenjang SMA, Mila mengkhatamkan hafalannya genap 30 juz dengan menuntaskan 10 juz sisanya. Dan saat ini Mila masih tercatat sebagai siswa di SMAIT Thariq Bin Ziyad.

Mila yang bercita-cita masuk ITB ini mengaku memiliki waktu khusus untuk menghafal Al-Qur’an. Setiap usai shalat tahajud dan sholat wajib ia mulai mengulang dan menambah hafalan. Kemudian hafalannya ia setorkan kepada guru halaqah Qur’annya di sekolah sesuai jadwal. Aktivitas itu rutin dilakukan sembari sesekali muraja’ah diluar waktu khususnya.

Menurut Mila yang pernah meraih juara 1 lomba debat bahasa Inggris, kunci utama untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an yakni harus mempunyai niat yang ikhlas. Karena jika niatnya bukan karena Allah SWT maka pada prosesnya akan mengalami banyak kesulitan. Sebaliknya, jika didasari niat yang ikhlas InsyaAllah segalanya akan dimudahkan.

Siswa yang duduk di kelas IP (International Preperation) saat di SMPIT Thariq Bin Ziyad ini memberikan sedikit  trik untuk menghafal Al-Qur’an dan menjaga hafalan, yaitu dengan cara muraja’ah atau pengulangan hingga melekat dalam ingatan. Ditambah dengan membaca terjemahannya. Dan itu hanya bisa berhasil jika dilakukan dengan istiqomah.

“Alhamdulillah, lisan tak berhenti bersyukur atas nikmat dan ridha-Nya, Allah anugerahkan ananda Kamila Rizky Tamara mampu menghafal Al-Quran 30 juz dalam usia yang masih belia. Di umur tiga belas tahun dia khatamkan hafalan seluruh juz Al-Quran dengan gemilang. Selama menempuh pendidikan di SMPIT Thariq Bin Ziyad, nilai akademik Kamila Rizky Tamara diatas rata-rata pada hampir semua mata pelajaran. Hafalan Al-Qur’an yang gemilang mampu bersinergi dengan prestasi akademik di sekolah. Seperti janji Allah bahwa barang siapa yang mengejar akhirat, dia akan mendapat dunia dan akhirat sekaligus. Semoga  perjuangan, keistiqomahan ananda Kamila Rizky Tamara ini memberikan inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Aamin Ya Robbal Alamiin. Barokallahufiikum”, demikian tertera dalam status satu tahun yang lalu di akun Facebook ibu Dewi Nurbaeti Widianingsih sebagai wali kelasnya saat di SMPIT Thariq Bin Ziyad.

(adi)

CAMBRIDGE ASSESSMENT ENGLISH

CAMBRIDGE ASSESSMENT ENGLISH (https://www.cambridgeenglish.org) adalah bagian dari Cambridge University, Inggris yang menyelenggarakan ujian bahasa Inggris di seluruh dunia secara serentak. SMPIT Thariq Bin Ziyad sejak dua tahun terakhir telah menyelenggarakan ujian ini khusus untuk peserta didik kelas 9 program International Praparation (IP). Kerja sama sekolah dengan organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan sekaligus menjamin kompetensi bahasa Inggris peserta didik IP sebagai salah satu prasyarat penting untuk memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi terutama di luar negeri. Ujian meliputi kemampuan listening, speaking, reading dan writing. Peserta ujian yang lulus akan mendapatkan serifikat yang dikeluarkan oleh Cambridge University, Inggris dan diakui secara global. SMPIT Thariq Bin Ziyad sejak dua tahun lalu telah menjadi salah satu Exam Preparation Centre di Indonesia.

PERSAMI UNIK, PERSAMI MENARIK, PERSAMI ASYIK

PERSAMI SMPIT Thariq Bin Ziyad terbilang unik, karena PERSAMI ini akronim dari Perkemahan Sabtu Ahad Islami.

Kenapa pakai kata Islami ?

Karena sudah jelas SMPIT TBZ adalah Sekolah Islam Terpadu yang senantiasa mengedepankan nilai-nial Islami dalam setiap kegiatannya.

Apalagi yang unik…?

Setiap kegiatan perkemahan yang dilaksanakan Pramuka SMPIT TBZ merujuk pada 5 tematik kegiatan yang telah diarahkan oleh Satuan Komunitas Pramuka SIT Tingkat Nasional. Lima tema itu adalah : Siroh Nabawiyah, Siroh Sahabat, Siroh Pejuang Islam, Sejarah Pejuang Islam Nasional dan Sejarah Pejuang Islam Lokal. Pada PERSAMI kali ini Pramuka SMPIT TBZ akan menelusuri jejak kisah penjelajah Islam bernama Ibnu Batuttah. Dalam pelaksanaan teknisnya nanti para anggota Pramuka akan melalui pos-pos sebagaimana perjalanan Ibnu Batuttah singgah, yakni dimulai dari Maroko melintasi Gurun Pasir, Kairo, Damaskus, Madinah dan berakhir di Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Simulasi perjalanan itu diharapkan dapat dimaknai dan diresapi dengan baik oleh para anggota Pramuka dengan sebelumnya dibekali adab-adab Islami dalam sebuah perjalanan.

Kebayang kan serunya…?

PERSAMI Pramuka InsyaAllah akan dilaksanakan di sekolah pada tanggal 19-20 Oktober 2019. Sebanyak kurang lebih 150 anggota Pramuka akan mengikuti kegiatan tersebut.
Tema PERSAMI kali ini adalah Generasi Tangguh, Pantang Mengeluh, Disiplin jadi Ruh, Malas adalah Musuh.

Semoga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan membawa manfaat bagi seluruh anggota Pramuka. Aamiinn…

Salam Pramuka…!!!

TBZ Road to IPSIS Camp 2019, Thailand

IPSIS Camp 2019 adalah kali pertama teman-teman Pramuka (Lukse) Thailand mengadakan perkemahan berskala internasional dilingkungan Sekolah Islam Terpadu yang berada di kawasan Asia Tenggara. Perkemahan ini bertajuk “Islamic Private School International Scout Camp” yang akan diselenggarakan di Pak Bang Scout Camp, Satun, Thailand pada tanggal 22 – 25 Nopember 2019.

Satuan Komunitas Pramuka Sekolah Islam Terpadu Indonesia InsyaAllah akan ikut mengirimkan kontingen dibawah bendera Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dalam perkemahan tersebut. Kontingen sedianya akan dilepas oleh Ketua Kwartir Nasional Kak Budi Waseso pada 19 Nopember 2019 di Aula Sarbini Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta. Yang dimanahkan menjadi ketua kontingen Indonesia adalah Kak Fauzi Nahdi dari SAKO Pramuka SIT.

Ada yang spesial pada kegiatan perkemahan di luar negeri kali ini. Biasanya sebelum berangkat peserta akan dikumpulkan di Cibubur untuk mengikuti Training Center yang disebut Gladian Nasional selama 1-2 hari. Namun pada kegiatan IPSIS Camp 2019, Gladian Nasional akan dilaksanakan langsung di lokasi acara, sehingga peserta akan tiba di lokasi Pak Bang Scout Camp 1-2 hari sebelum pembukaan kegiatan. Sebuah hal baru dan menjadi tantangan tersendiri.

Pada kesempatan kegiatan ini, InsyaAllah SMPIT Thariq Bin Ziyad akan ikut serta mengirimkan peserta sebagai bagian dalam proses belajar di tingkat global. Kak Sukro Muhab selaku Majelis Pembimbing SAKO Pramuka SIT tingkat nasional pernah berujar, “Jika ingin hebat, jangan hanya ajarkan anak-anakmu berenang di kolam renang, tapi ajaklah anak-anakmu belajar berenang di samudra yang luas”. Kesempatan berkemah bersama teman-teman seakidah dan seperjuangan di luar negeri akan menjadi bagian itu semua. Semoga segala persiapan dan pelaksanakan dimudahkan, dilancarkan serta mendapat banyak manfaat. Amiinn….

-(ss.adi)-

Pramuka TBZ go to PRINT’17 Malaysia

Sebanyak 452 anggota Gerakan Pramuka mengikuti Perkemahan Internasional di Selangor, Malaysia pada 10 – 14 Desember 2017. Termasuk didalamnya 15 orang peserta dan 2 orang bindamping dari SMPIT Thariq Bin Ziyad. Keberangkatan Kontingen Indonesia dibagi dalam lima kloter. Adapun kloter pertama bertolak ke Malaysia pada Sabtu, 9 Desember 2017 Pukul 01.30 WIB, dan tiba pada Pukul 04.30 WIB.

“Adik-adik, selamat jalan. Di Malaysia tolong jaga nama baik Pramuka, umumnya nama baik sekolah kalian, Sekolah Islam Terpadu. Kalian sekarang Penggalang dan Penegak. Dari wajah-wajah kalian insya Allah ini jadi pengalaman berharga,” kata Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Kak Adhyaksa Dault dalam sambutannya saat Pelepasan Kontingen di Aula Sarbini, Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (8/12).

Kak Adhyaksa mendoakan, di antara kontingen Indonesia ini nanti akan ada yang menjadi jenderal, panglima, gubernur, dokter, wanita yang hebat, ibu rumah tangga yang hebat, wali kota, pengusaha bahkan presiden. Ia juga mendoakan agar dari rahim Pramuka-Pramuka putri akan lahir teknokrat-teknokrat yang hebat.

“Selamat jalan. Insya Allah, kalian berangkat dan kembali dengan selamat tanpa kurang apa pun juga,” harap pria yang hobi mendaki gunung ini.

Dalam kesempatan itu, Kak Adhyaksa Dault mengucapkan terima kasih kepada para Pembina Pramuka Sako SIT dan orang tua. “Ini hari Jumat. Doa saya tadi Insya Allah diijabah oleh Allah swt.,” paparnya.

Pimpinan Kontingen Indonesia, Kak Fauzi Nahdi menambahkan, Perkemahan Internasional 2017 ini dapat membawa manfaat kepada para peserta. 

Pertama, mereka akan menjadi dewasa dan mandiri, khususnya membawa bangsa Indonesia ke kancah dunia internasional.

Kedua, untuk menjalin ukhuwah bersama. “Mereka dari jauh-jauh, dari daerah masing-masing, tidak mengenal satu sama lain, kemudian mengenal,” ucapnya.

Ketiga, mereka punya wawasan yang luas. “Alhamdulillah, yang pernah kita undang, efeknya luar biasa, mereka bisa terbuka pemikirannya sehingga belajar lebih giat. Terus kemudian, mereka bisa menjadikan Pramuka ini sebagai bagian dari titik tolak keberhasilan di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Kak M. Hanif Abiyu, salah satu kontingen Indonesia mengaku tidak menyangka bisa mengikuti Perkemahan Internasional ini. “Senang rasanya. Harapannya, dengan acara ini kita bisa mempersatukan ukhuwah,” terangnya.

Perkemahan Internasional 2017 diadakan oleh Kadit Remaja Sekolah (KRS) Musleh Malaysia, sebuah organisasi kepanduan di Malaysia selain Pengakap. Kegiatan ini diikuti para pelajar Islam dari tiga negara, yakni Malaysia, Indonesia dan Thailand. Peserta dari Thailand 89 orang, dari Malaysia 4 ribu, dan Indonesia 452 orang. (MSA/AK)