Peringati Hari Guru Nasional 2017, Ini Pesan Penting Mendikbud

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy menyampaikan pidato Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 25 November 2017. Melalui kanal Youtube, Muhadjir menyampaikan sejumlah hal penting terkait hak, kewajiban, serta besarnya jasa guru dalam mencetak generasi penerus bangsa.

Dalam pidatonya, salah satu yang ditekankan mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu adalah memanfaatkan HGN 2017 sebagai momen mengevaluasi kebijakan-kebijakan pemerintah bagi guru di Indonesia.

Terutama, untuk menjadikan guru lebih profesional, sejahtera, dan bermartabat.

“Kebijakan-kebijakan yang sedang dan akan terus dilaksanakan adalah menjadikan guru menjadi kompeten, profesional, terlindungi, dan pada gilirannya lebih sejahtera, mulia, dan bermartabat,” demikian kata Muhadjir dalam pidato yang dikutip JawaPos.com dari kanal Youtube Kemendikbud RI.

Selain itu, Muhadjir juga mengingatkan pentingnya peran guru membentuk karakter peserta didik melalui tiga harmonisasi. Yakni, olah hati, olah pikir, dan olah raga.

“Di samping itu juga guru dan tenaga pendidik harus mampu mengelola kerja sama satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat untuk mengobarkan Gerakan Nasional Revolusi Mental,” terangnya.

Berikut Pidato Lengkap Muhadjir Effendy dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2017

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillah pada 25 Desember 2017 kita bersama-sama memperingati Hari Guru Nasional. Marilah kita syukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa dengan tekad bekerja sama bekerja keras mewujudkan dunia pendidikan yang lebih berkemajuan melalui keteladanan guru-guru kita.

Tema Hari Guru Nasional kali ini adalah membangun pendidikan karakter melalui keteladanan guru. Tema ini erat kaitannya dengan implementasi Peraturan Presiden No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Perpres tersebut mengamanatkan bahwa guru sebagai sosok utama dalam satuan pendidikan.

Mereka memiliki tanggung jawab membentuk karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah pikir, dan olahraga. Di samping itu juga guru dan tenaga pendidik harus mampu mengelola kerja sama satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat untuk mengobarkan Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Urgensi penguatan karakter ini semakin mendesak seiring dengan tantangan berat yang kita hadapi di masa-masa akan datang. Peserta didik saat ini adalah calon generasi emas Indonesia tahun 2045 yang harus memiliki bekal jiwa Pancasila yang baik guna menghadapi dinamika perubahan yang sangat cepat dan tidak terduga.

Untuk itu, guru harus dapat berperan sebagai the significant others bagi peserta didik. Artinya guru harus jadi sumber keteladanan. Momentum Hari Guru Nasional hendaknya kita jadikan sebagai refleksi apakah guru-guru kita sudah cukup profesional dan menjadi teladan bagi peserta didiknya.

Di sisi lain apakah kita sudah cukup memuliakan guru kita yang telah berjuang untuk mendidik dan membentuk karakter kita, sehingga kita menjadi pribadi yang sangat tangguh dan berhasil seperti saat ini. Sebab tak ada orang yang sukses tanpa melalui sentuhan guru.

Bagi pemerintah, peringatan hari guru juga menjadi titik evaluasi yang strategis bagi pengambilan kebijakan. Bagaimanapun harus diakui bahwa masih banyak persoalan guru yang belum sepenuhnya teratasi.

Oleh sebab itu, kebijakan-kebijakan yang sedang dan akan terus dilaksanakan adalah menjadikan guru menjadi kompeten, profesional, terlindungi, dan pada gilirannya lebih sejahtera, mulia, dan bermartabat.

Namun demikian, perlu kita sadari bersama bahwa upaya pemerintah tentu memiliki keterbatasan. Dan oleh karena itu, sangat pantas kita beri apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah ikut membantu meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru.

Perhatian pemerintah daerah yang menjanjikan tunjangan tambahan dan membuat terobosan kebijakan yang inovatif kepada para guru tentu sangat kita hargai. Melalui kebijakan pemerintah daerah, Alhamdulillah banyak hal-hal yang bisa diatasi.

Kepada semua asosiasi profesi maupun organisasi guru tanpa terkecuali, kita patut berterima kasih karena telah menjadikan mitra pemerintah dan mitra guru khususnya.

Akhirnya sekali lagi, mari kita kobarkan semangat menjadi guru sebagai teladan bagi anak-anak kita. Selamat Hari Guru Nasional. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membimbing langkah-langkah kita mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas melalui guru-guru yang hebat dan mulia. Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

source: JawaPos

Seleksi Awal “Olimpiade Sains Nasional” SMPIT Thariq Bin Ziyad

Thariq Bin Ziyad – Rabu, 5 Oktober 2016, dimana para ABRI merayakan hari nasional mereka. Tak mau kalah, murid-murid kelas 7 SMPIT Thariq Bin Ziyad mengikuti tes Olimpiade Sains Nasional atau yang biasa dikenal dengan sebutan OSN. OSN adalah ajang berkompetisi dalam bidang sains bagi para siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Indonesia. SMPIT Thariq Bin Ziyad mengadakan kegiatan ini di gedung SMPIT Thariq Bin Ziyad yaitu bertepatan di kelas masing-masing. Dimulai dari pukul 10.00 – 11.55 WIB.
Dalam OSN, terdapat tiga mata pelajaran yang akan diujikan, yaitu matematika, IPA, dan IPS. Soal matematika terdiri dari 30 butir, IPA 25 butir, dan IPS 75 butir. Seluruh murid kelas 7 harus memilih salah satu dari ketiga mata pelajaran tersebut. Sekolah kami mengadakan penyeleksian agar mendapatkan satu orang siswa yang akan mewakili sekolah. Satu siswa tersebut didapat dari tes seleksi OSN yang terakhir.
 Kelas-kelas yang mengikuti seleksi OSN:
Kelas 7 A = 26
Pengawas = Bu Dessy
Kelas 7 B = 26
Pengawas = Pak Faisal
Kelas 7 C = 27
Pengawas = Pak Budi
Kelas 7 D = 28
Pengawas = Pak Qimqim
Kelas 7 E = 20
Pengawas = Pak Husein
Kelas 7 F = 31
Pengawas = Bu Imma
Kelas 7 G = 31
Pengawas = Pak Marsidi
Kelas 7 H = 32
Pengawas =  Bu Dewi
Total siswa yang memilih matematika = 72 siswa
Total siswa yang memilih IPA = 71 siswa
Total siswa yang memilih IPS = 74 siswa
Total seluruh siswa yang mengikuti tes seleksi OSN = 217 siswa
(Monica Rafa, Fathya Syifa, Fawzia Ramadhani 9A)

 

 

Menyambut HUT RI di SMPIT Thariq bin Ziyad


SMPIT Thariq Bin Ziyad–  Selamat HUT RI ke 71 semuanyaa!!!!!! Nah, dalam rangka menyambut HUT RI ke 71 tersebut, SMPIT TBZ mengadakan acara tahunan yang dilaksanakan selama dua hari, yang berisikan lomba-lomba yang bisa menghasilkan sifat pantang menyerah dan kebersamaan.

Sebelum lomba dimulai, acara diawali dengan diadakannya upacara bendera yang petugasnya adalah para anggota Pramuka. “SIAP, GERAK!!!!!” perintah Al Fath dengan lantang, sang pemimpin upcara. Upacara berlangsung dengan khidmat. Upacara nya pun juga dilengkapi dengan amanat-amanat yang bersifat nasionalisme oleh Ustadz Budi selaku pembina upacara.

Setelah upacara selesai, dimulailah rangkaian lomba-lomba tersebut. Lomba pertama adalah lomba yang bersifat individu yaitu makan kerupuk. Lomba makan kerupuk inilah yang bisa menghasilkan sifat pantang menyerah saat kita berusaha menghabiskan kerupuk. Setelah itu dimulailah lomba-lomba berkelompok yang bisa menumbuhkan sifat kebersamaan. Lomba-lomba tersebut seperti tarik tambang dan bakiak. Lomba-lomba tersebut mengingatkan kita bagaimana pejuang-pejuang bangsa yang bersama-sama meraih kemerdekaan Indonesia.

Kegiatanpun ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang. Pada dua hari itulah mereka bisa merasakan perjuangan para pejuang bangsa dalam meraih kemerdekaan Indonesia. HIDUP INDONESIA !!!!!!!! MERDEKA!!! MERDEKA!!!! MERDEKA!!!! الله أكبر

(RNW/e)

 

“Titip uang bisa jadi kurang. Titip omongan bisa jadi lebih”

Sehabis pulang dari sawah, kerbau rebahan di kandang dengan wajah capek dan nafas yang berat. Datanglah anjing. Kerbau lalu berucap:
“Ahh… teman lama. Aku sungguh capek dan besok mau istirahat sehari.”
Anjing pergi dan jumpa kucing di sudut tembok, dan berkata:
“Tadi saya jumpa kerbau. Dia besok mau istirahat dulu. Pantaslah, sebab boss kasih kerjaan terlalu berat sih.”
Kucing lalu cerita ke kambing dan berkata:
“Kerbau komplain, boss kasih kerja terlalu banyak dan berat. Besok gak mau kerja lagi.”
Kambing jumpa ayam dan berucap:
“Kerbau gak suka kerja untuk boss lagi, sebab mungkin ada boss lain yang lebih baik.”
Ayam jumpa monyet dan berkata:
“Kerbau gak akan kerja untuk bossnya dan ingin cari kerja di tempat yang lain.”
Saat makan malam, monyet jumpa boss dan berkata:
“Boss, si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya dan mau meninggalkan boss untuk kerja dengan boss lain.”
Mendengar ucapan monyet, boss marah besar dan membunuh si kerbau karena dinilai telah mengkhianatinya.
Ucapan asli kerbau:
“SAYA SUNGGUH CAPEK DAN BESOK MAU ISTIRAHAT SEHARI”.
Lewat beberapa teman, akhirnya ucapan ini sampai ke boss dan pernyataan kerbau telah berubah menjadi:
“Si Kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifatnya dan mau meninggalkan boss untuk kerja dengan boss lain.”
Sangat baik untuk disimak:
• Ada kalanya suatu ucapan harus berhenti (stop) sampai telinga kita saja. Tidak perlu diteruskan ke orang lain.
• Jangan percaya begitu saja apa yang dikatakan orang lain, meskipun itu orang terdekat kita. Kita perlu check and recheck kebenarannya sebelum bertindak.
• Kebiasaan melanjutkan perkataan orang lain dengan kecenderungan menambahi (mengurangi), bahkan menggantinya berdasarkan PERSEPSI SENDIRI bisa berakibat fatal.
• Bila ragu-ragu akan ucapan seseorang yang disampaikan via orang lain, sebaiknya kita langsung bertanya pada yang bersangkutan.
Bila ingin menyampaikan sesuatu kepada orang lain, baik juga memakai 3 kriteria yang harus dipenuhi:
– Apakah benar?
Rujuklah sebuah berita kepada orang yang ahli, jika kita tidak memahami. Apakah layak kita konsumsi kemudian boleh disebarkan.
– Apakah baik?
Pikirkan isi beritanya. Jika isi dan tujuannya baik maka bisa dikonsumsi.
– Apakah berguna?
Jika informasinya sudah dipastikan kebenarannya, maka hendaknya memikirkan efek atau akibat dari disebarkannya informasi tersebut. Apakah menambah kebaikan dakwah atau merugikannya.
Sedangkan dari sisi objek (penerima informasi), juga perlu memperhatikan kaidah dan aturan yang telah digariskan para ahli ilmu.
Di antaranya; jika beritanya menyangkut saudara Muslim, maka kedepankanlah husnuzhzhon sebelum ada pembuktian sebaliknya. Jika datang berita maka carilah sumber lain yang terpercaya beserta bukti-buktinya. Dan jika informasi yang disampaikan kepada kita berupa berita yang susah dipahami, maka hendaknya dikembalikan kepada orang yang ahli di bidangnya.
Karena itu, di zaman dimana media sosial menjadi konsumsi banyak orang, maka setiap kabar dan informasi harus ada tabayyun kepada sumber dan verifikasi terhadap isinya. Tidak asal sharing atau posting.
“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.”
(QS. al-Hujurot: 6)
Boleh jadi kitalah yang disebut orang “fasiq” itu. Dan tidak selalu istilah “fasiq” tersebut tertuju pada orang lain.
Mudah-mudahan ini menjadikan kita lebih memahami akan pentingnya kebenaran sebuah berita serta membuat kita lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan informasi.
Wallohu a’lam bishshowab.

Tahu Kah Anda, 14 Februari Hari Lahirnya Pembela Tanah Air (PETA)

Tahu Kah Anda, 14 Februari Hari Lahirnya Pembela Tanah Air (PETA)

Minggu, 14 Februari 2016 | 01:05 WIB
Tahu Kah Anda, 14 Februari Hari Lahirnya Pembela Tanah Air (PETA)
merdeka.com
Kebanyakan generasi muda Indonesia saat ini jika ditanya apa yang mereka ketahui mengenai tanggal 14 Februari, tentunya sebagian besar akan menjawab bahwa itu adalah hari Valentine (hari Kasih Sayang sedunia).

Sedikit dari generasi muda kita yang mengingat bahwa pada tanggal 14 Februari telah tercatat dalam lembar sejarah nasional Indonesia sebagai peringatan aksi heroik pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar dibawah pimpinan Shodancho Supriyadi.

Tanggal 14 Februari dicatat sebagai peringatan peristiwa Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Kota Blitar pada tahun 1945 _hanya setengah tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tulisan ini hanya sedikit menceritakan ulang peristiwa terjadinya Pemberontakan PETA di Blitar tanggal 14 Februari 1945 tersebut.

PETA (singkatan dari “Pembela Tanah Air”) adalah bentukan junta militer pendudukan Kekaisaran Jepang di Indonesia yang didirikan pada bulan Oktober 1943. Jepang merekrut para pemuda Indonesia untuk dijadikan sebagai tentara teritorial guna mempertahankan Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera jika pasukan Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, dkk.) tiba. Tentara-tentara PETA mendapatkan pelatihan militer dari tentara Kekaisaran Jepang, tetapi berbeda dengan tentara-tentara HEIHO yang ikut bertempur bersama tentara-tentara Jepang di berbagai medan tempur Asia seperti Myanmar, Thailand, dan Filipina. Tentara PETA belum pernah mengalami pengalaman tempur.
Shodancho Supriyadi, Shodancho Muradi, dan rekan-rekannya adalah lulusan angkatan pertama pendidikan komandan peleton PETA di Bogor. Mereka lantas dikembalikan ke daerah asalnya untuk bertugas di bawah Daidan (Batalyon) Blitar.

Nurani para komandan muda itu tersentuh dan tersentak melihat penderitaan rakyat Indonesia yang diperlakukan bagaikan budak oleh tentara Jepang. Kondisi Romusha, yakni orang-orang yang dikerahkan untuk bekerja paksa membangun benteng-benteng di pantai sangat menyedihkan. Banyak yang tewas akibat kelaparan dan terkena berbagai macam penyakit tanpa diobati sama sekali. Para prajurit PETA juga geram melihat kelakuan tentara-tentara Jepang yang suka melecehkan harkat dan martabat wanita-wanita Indonesia. Para wanita ini pada awalnya dijanjikan akan mendapatkan pendidikan di Jakarta, namun ternyata malah menjadi pemuas nafsu seksual para tentara Jepang. Selain itu, ada aturan yang mewajibkan tentara PETA memberi hormat kepada serdadu Jepang, walaupun pangkat prajurit Jepang itu lebih rendah daripada anggota PETA. Harga diri para perwira PETA pun terusik dan terhina.

Dalam buku “Tentara Gemblengan Jepang” yang ditulis oleh Joyce L. Lebra dan diterjemahkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada tahun 1988, dibeberkan persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Shodancho Supriyadi dan para shodancho lain.

Pertemuan-pertemuan rahasia sudah digelar sejak bulan September 1944. Shodancho Supriyadi merencanakan aksi itu bukan hanya sebagai pemberontakan, tetapi juga sebuah revolusi menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pemberontak PETA tersebut menghubungi komandan-komandan batalyon di berbagai wilayah lain untuk bersama-sama mengangkat senjata dan menggalang kekuatan rakyat.

Tanggal 14 Februari 1945 kemudian dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan pemberontakan, karena saat itu akan ada pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar, sehingga diharapkan anggota-anggota PETA yang lain akan ikut bergabung dalam aksi perlawanan. Tujuannya adalah untuk menguasai Kota Blitar dan mengobarkan semangat pemberontakan di daerah-daerah lain.

Walaupun rencana pemberontakan telah dipersiapkan secara baik, akan tetapi terjadi hal yang tidak diduga. Tiba-tiba pimpinan tentara Kekaisaran Jepang memutuskan membatalkan pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar. Selain itu, Kempetai (polisi rahasia Jepang) ternyata sudah mencium rencana aksi Shodancho Supriyadi dan kawan-kawan. Supriyadi pun cemas dan khawatir mereka ditangkap sebelum aksi dimulai.

Shodancho Supriyadi beserta para komandan dan anggota PETA di Blitar juga dihadapkan pada posisi sulit. Apabila terus melanjutkan perlawanan, mereka akan kalah karena jumlah mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan jumlah tentara Kekaisaran Jepang. Namun, jika perlawanan dibatalkan pun tentara Kekaisaran Jepang sudah mengetahui rencana aksi mereka, sehingga kemungkinan besar para pemberontak akan ditangkap, lalu dijatuhi hukuman yang sangat berat, yakni hukuman mati.

Sebenarnya, banyak yang menilai rencana aksi pemberontakan PETA belum siap, salah satunya Sukarno. Dalam perbincangan yang berlangsung cukup seru, Bung Karno sempat meminta Shodancho Supriyadi dan para perwira PETA yang lain siap memikul tanggung jawab maupun akibat apabila aksi pemberontakan PETA ternyata gagal total.

PETA, Blitar dan 14 Februari, Lembar Sejarah Indonesia yang Terabaikan

Alkisah, ketika Sukarno pulang ke Blitar – kota lokasi rumahnya dan tempat tinggal orangtuanya -, datanglah beberapa perwira PETA menemuinya. “Kami sudah merencakan pemberontakan, tetapi kami ingin tahu pendapat Bung Karno sendiri,” ujar Shodancho Supriyadi, Pemimpin Perwira PETA yang menemui Bung Karno. Sukarno begitu lama terdiam, sampai akhirnya Shodancho Supriyadi menegaskan, “Kita akan berhasil!”

Sukarno akhirnya mengeluarkan pendapatnya. “Pertimbangkanlah masak-masak. Pertimbangkan untung dan ruginya,” ujar Bung Karno. Masih dengan nada suara tertekan karena hati kecilnya tidak setuju langkah Supriyadi dan kawan-kawan, Sukarno melanjutkan, “Saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan pemberontakan tidak hanya dari satu segi.” Shodancho Supriyadi pun menimpali pendapat Bung Karno dengan penuh semangat, “Saya menjamin. Kita akan berhasil!”.

“Saya berpendapat, saudara-saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang,” tegas Bung Karno yang kembali mengutarakan pendapatnya. Usai bertutur kata, Bung Karno kemudian memandangi wajah-wajah para pemuda yang penuh semangat dan berani menyabung nyawa demi Indonesia merdeka. Bung Karno sadar betul bahwa tidak akan ada yang bisa menghalang-halangi tujuan para pemuda tersebut sedikit pun. Oleh karena itu, Bung Karno lantas menyatakan, “Kalau sekiranya saudara-saudara gagal dalam usaha ini, hendaknya sudah siap memikul akibatnya. Jepang akan menembak mati saudara-saudara semua.”

“Apakah Bung Karno tidak bisa membela kami?”, tanya seorang pemuda. “Tidak. Saudara anggota tentara, bukan orang preman. Dalam hukum militer, hukumannya otomatis,” jawab Bung Karno seraya menambahkan bahwa kalau sekiranya mereka tetap bertekad bulat hendak memberontak, Bung Karno tidak lagi melarang. Jika perlu, Bung Karno akan ikut membuat rancangan pemberontakan. Akan tetapi, Bung Karno juga harus tetap menjaga hubungan dengan pemerintahan Jepang di Jakarta, yang sedang intens digarap Sukarno dan para tokoh pergerakan lain seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dalam rangka menuju kemerdekaan Indonesia pada masa transisi tahun 1945.

Tanggal 13 Februari 1945 malam hari, Shodancho Supriyadi memutuskan bahwa pemberontakan tetap harus dilaksanakan. Siap atau tidak siap, inilah saatnya tentara PETA membalas perlakuan tentara Jepang. Shodancho Supriyadi juga berharap bahwa pengorbanan darah dan nyawa para pemberontak PETA akan mengobarkan semangat perjuangan segenap bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, meskipun semua orang sudah tahu mereka akan kalah menghadapi tentara Kekaisaran Jepang.

Tidak semua anggota Daidan Blitar ikut memberontak. Shodancho Supriyadi meminta para pemberontak tidak menyakiti sesama anggota PETA walaupun tak mau memberontak. Akan tetapi, semua orang Jepang wajib dibunuh.

Tepat tanggal 14 Februari 1945 dini hari pukul 03.00 WIB, pasukan PETA pimpinan Shodancho Supriyadi menembakkan mortir ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman para perwira militer Kekaisaran Jepang. Markas Kempetai juga ditembaki senapan mesin. Akan tetapi ternyata kedua bangunan tersebut sudah dikosongkan, karena pihak Jepang telah mencium rencana aksi pemberontakan PETA. Dalam aksi yang lain, salah seorang bhudancho (bintara) PETA merobek poster bertuliskan “Indonesia Akan Merdeka” dan menggantinya dengan tulisan “Indonesia Sudah Merdeka!”.

Pemberontakan PETA sendiri akhirnya tidak berjalan sesuai rencana. Shodancho Supriyadi gagal menggerakkan satuan lain untuk memberontak dan rencana pemberontakan ini pun terbukti telah diketahui oleh pihak Jepang. Dalam waktu singkat, Jepang mengirimkan pasukan militer untuk memadamkan pemberontakan PETA. Para pemberontak pun terdesak. Difasilitasi oleh Dinas Propaganda Jepang, Kolonel Katagiri menemui Shodancho Muradi, salah satu pentolan pemberontak, dan meminta seluruh pasukan pemberontak kembali ke markas batalyon.

Shodancho Muradi mengajukan syarat kepada Kolonel Katagiri, yakni:
1. Senjata para pemberontak tidak boleh dilucuti Jepang; dan
2. Para pemberontak tidak boleh diperiksa atau diadili Jepang.

Kolonel Katagiri pun setuju. Dia memberikan pedangnya sebagai jaminan. Ini adalah isyarat janji seorang samurai yang harus ditepati. Akan tetapi, janji Katagiri ternyata tidak bisa diterima oleh Komandan Tentara Jepang XVI. Mereka malah mengirim Kempetai untuk mengusut pemberontakan PETA. Jepang pun melanggar janjinya.

Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Blitar akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili di Jakarta. Sebanyak enam orang divonis hukuman mati di Ancol pada tanggal 16 Mei 1945, enam orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan.

PETA, Blitar dan 14 Februari, Lembar Sejarah Indonesia yang Terabaikan

Akan tetapi, nasib Shodancho Supriyadi tidak diketahui. Shodancho Supriyadi menghilang secara misterius tanpa ada seorang pun yang mengetahui kabarnya. Sebagian orang meyakini Shodancho Supriyadi tewas di tangan tentara Jepang dalam pertempuran. Sebagian orang juga ada yang meyakini Shodancho Supriyadi tewas diterkam binatang buas di hutan-hutan sekitar Kota Blitar. Sebagian orang pun ada yang meyakini Shodancho Supriyadi melakukan ritual dengan cara menceburkan dirinya ke dalam kawah Gunung Kelud dekat Kota Blitar. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa Shodancho Supriyadi sesungguhnya masih hidup hingga saat ini, hanya saja keberadaannya tidak diketahui atau sering hidup di alam ghaib. Namun satu hal yang pasti, hilangnya Shodancho Supriyadi adalah suatu misteri sejarah nasional Indonesia yang belum jelas hingga saat ini.

Setelah Indonesia merdeka, Shodancho Supriyadi diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia yang pertama. Namun, Supriyadi ternyata tidak pernah muncul lagi untuk selama-lamanya, hingga saat pelantikan para menteri. Kemudian, saat para menteri dilantik oleh Presiden Soekarno, tertulis “Menteri Pertahanan belum diangkat”. Akhirnya, karena Supriyadi benar-benar tidak muncul lagi, Presiden Soekarno pun mengangkat dan melantik Imam Muhammad Suliyoadikusumo sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia pun mengakui jasa-jasa Supriyadi dan akhirnya mengangkatnya sebagai salah satu pelopor kemerdekaan serta sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Untuk mengenang perjuangan pemberontakan tentara PETA pimpinan Shodancho Supriyadi, tepat di lokasi perlawanan didirikan Monumen PETA yang terdiri atas tujuh buah patung tentara PETA dalam posisi siap menyerang, di mana patung Shodancho Supriyadi diletakkan tepat di tengah monumen sebagai pemimpin pemberontakan PETA.

Asrama militer PETA di Kota Blitar sendiri kini telah menjadi sekolah SMP dan SMA Negeri. Namun, jika dilihat secara seksama bentuk bangunannya, pasti langsung terlihat kesan itu merupakan bangunan bekas asrama militer. Adapun tugu tempat pengibaran bendera merah-putih oleh Shodancho Parto Hardjono saat terjadinya pemberontakan PETA kini dikenal sebagai “Monumen Potlot”. Monumen Potlot sendiri diresmikan di Kota Blitar pada tahun 1946 oleh Bapak TNI (Tentara Nasional Indonesia) Panglima Jenderal Besar Soedirman. 


sumber : 

MAJELIS DHUHA, KONTRIBUSI THARIQ BIN ZIYAD DALAM PEMBINAAN UMAT

Ahad (29/11/2015) adalah momentum penting di mana LPIT Thariq Bin Ziyad meluncurkan program kajian keislaman rutin bulanan dengan nama Majelis Dhuha, atau disingkat MD.  Peluncuran dan peresmian MD ditandai dengan pelaksanaan kajian keislaman perdana yang diisi oleh K.H. Dr. Amir Faishol Fath, MA.  MD perdana dihadiri oleh ratusan jamaah dari pegawai LPIT Thariq Bin Ziyad, di antaranya Direktur H. Andang Hendar, SE, MM, orang tua peserta didik, jamaah masjid dan majelis taklim, dan tokoh masyarakat.
Majelis Dhuha merupakan forum kajian keislaman yang akan membahas berbagai persoalan umat Islam kekinian yang menyangkut aspek aqidah, akhlak, pemikiran, rumah tangga, dan sebagainya, dengan pembicara tetap K.H. Dr. Amir Faishol Fath, MA, dari Fath Institute International, Jakarta
Majelis Dhuha akan berbasis di Masjid Al-Faruq, SMPIT Thariq Bin Ziyad dengan alamat Jl. Toyogiri Selatan, Kelurahan Jatimulya, Bekasi.  Jadwal rutin MD, Insyaallah dilaksanakan pada setiap hari Ahad pekan ke-4.  


Metode Pembelajaran Discovery (Penemuan)

Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajarandiscovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorang, memanipulasi objek sebelum sampai pada generalisasi. Sedangkan Bruner  menyatakan bahwa anak harus berperan aktif didalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip.
Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. Dengan demikian pembelajaran discoveryialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Blake et al. membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu: (1) mengklarifikasi; (2) menarik kesimpulan secara induksi; (3) pembuktian kebenaran (verifikasi).
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
  1. identifikasi kebutuhan siswa;
  2. seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;
  3. seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;
  4. membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;
  5. mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;
  6. mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
  7. memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
  8. membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
  9. memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;
  10. merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
  11. membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini: (1) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif; (2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa; (3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain; (4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri; (5) siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu: (1) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat; (2) hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya; (3) secara menyeluruh belajar discoverymeningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai berikut:
  1. siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
  2. siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;
  3. menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;
  4. siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks;
  5. metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.
Metode discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu metode discovery(penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode discovery(penemuan) terbimbing (guided discovery).
DAFTAR PUSTAKA
Suherman, dkk. (2001). Common TexBook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung.
sumber : https://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/metode-pembelajaran-discovery-penemuan/

2015, 100 persen kelulusan UN ditentukan pihak sekolah

Merdeka.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menegaskan mulai tahun ajaran 2015, hasil atau kelulusan Ujian Nasional 100 persen ditentukan oleh masing-masing sekolah. Diharapkan sekolah berlaku jujur untuk kepentingan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Pelaksanaannya (UN) tetap. Hasilnya saja yang ditentukan oleh pihak sekolah masing-masing,” kata Anies pada acara Seminar Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 di Medan seperti dilansir dari Antara, Sabtu (10/1).

Anies mengatakan, meski hasil kelulusan UN sudah dinyatakan ditentukan 100 persen oleh sekolah, detail lainnya seperti soal UN masih dibahas. “Sekarang ini yang sudah saya nyatakan adalah soal keputusan bahwa hasil kelulusan UN 100 persen akan ditentukan masing-masing pihak sekolah. Sedangkan detail lainnya, 10 hari lagi akan saya umumkan karena masih dalam tahap pembahasan,” katanya.

Menurut dia, soal kejujuran hasil UN perlu mendapat perhatian besar dari pihak sekolah karena UN menjadi cerminan kesuksesan. “Tetapi tetap harus jujur sembari terus meningkatkan kualitas siswa. Pendidikan menjadi hal yang krusial apalagi kita berada di era global seperti memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN),” katanya.

Anies menegaskan, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan siswa, peningkatan mutu guru juga harus diutamakan. “Percuma saja mengganti-ganti kurikulum, kalau kualitas gurunya tidak ditingkatkan,” katanya.

Dia mengibaratkan dengan menembak. “Peluru baguspun, kalau penembaknya tidak dilatih/berlatih. Itu sama saja,” ujarnya.

sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/2015-100-persen-kelulusan-un-ditentukan-pihak-sekolah.html

Workshop. SMPIT TBZ in Collaboration with AlJunied Singapore


Assalamu’alaikum saudara-saudariku , dimanapun anda berada, kami dan anda adalah bersaudara, kami dan anda adalah pengamat, pemerhati dan praktisi sekolah Islam unggulan, ada satu pengalaman kami sebagai peserta atau peninjau workshop pendidikan yang diadakan oleh sekolah kami beberapa hari yang lalu, meski tulisan ini belum tentu mewakili pandangan seluruh peserta workshop yang kebetulan narasumbernya adalah tokoh pendidik dari sekolah yang notabene beda system pendidikan nasionalnya alias dari luar negeri, apalagi negerinya itu tidak lebih “islami” dibandingkan negeri islam lainnya.
Dari manapun Negara asal sekolah atau madrasah anda meskipun kami sudah punya system pendidikan nasional sendiri, bukan berarti antara sekolah kami dan anda tidak boleh saling mengikuti dan meniru. Untuk memberikan yang terbaik kepada peserta didik dan orangtua, serta sama-sama menjadi hamba Allah yang bersaudara, bukanlah Allah SWT telah berfirman “Wahai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami jadikan kamu bersuku-bangsa agar kamu saling kenal-mengenal”.

Kebersamaan sekolah kami dengan sekolah yang satu ini bermula dari silaturahim, kunjung-mengunjungi, yang akhirnya kami bisa saling berbagi. Bersama Mrs. Khairiana Zainal Abidin M.Ed. dari Madrasah Al-Junied Singapore telah berbagi kebaikan dan keunggulan di sekolahnya, meskipun bisa jadi dalam pandangan yang lain kami belum unggul. Tapi kami yakin bahwa para founding father sekolah kami ini telah menancapkan tekadnya untuk menjadi sekolah unggulan, sekolah yang bukan hanya dua dimensi keunggulan tapi tiga atau empat dimensi keunggulan atau bahkan lebih.

Jenis keunggulan yang dikembangkan adalah keunggulan dalam hal kualitas dan layanan, seperti yel-yel yang selalu kami lantunkan bersama setiap saat yaitu “Kualitas-Pelayanan, Kualitas-Pelayanan, Kualitas-Pelayanan, Thariq Bin Ziyad-Bismillah”. Pada Rapat Dinas 2013 lalu, nilai-nilai dasar Thariq Bin Ziyad yang akan menjadi acuan, pedoman, dan terus dikembangkan sebagai focus pendidikannya itu terangkum dalam empat kata atau empat dimensi keunggulan yaitu Akhlak, Al-Qur’an, Akademik dan Bahasa. Empat dimensi keunggulan Thariq Bin Ziyad itu disingkat menjadi A3B.

Pertemuan kali ini adalah yang kesekian kalinya, yang saya hadiri sendiri setidaknya sudah tiga atau lebih. Dari tiga pertemuan yang diikuti, saya jadi teringat, saya melihat dan saya mencatat hubungan sekolah kami dengan sekolah yang satu ini semakin hari-semakin intensif.  Terutama pertemuan yang terbaru ini, semoga bukan pertemuan yang terakhir,  yang  diprakarsai oleh SMPIT Thariq Bin Ziyad dan direspon positif oleh yayasan (LPIT Thariq Bin Ziyad) dengan mengikut sertakan perwakilan dari yang lainnya yakni dari TKIT, SDIT, SMPIT Boarding School dan SMAIT Thariq Bin Ziyad.

Acara itu sendiri berlangsung pada masa jeda antara semester ganjil dan genap, tepatnya tgl 23 desember 2014 bertempat di Aula SMAIT Thariq Bin Ziyad. Di awal-awal pertemuan sang pembicara mengungkapkan tentang kedekatannya hubungan antara kedua lembaga tersebut, bahkan berani menyatakan jika seandainya ia sudah pensiun maka pilihannya hanya dua yakni tinggal di Indonesia atau bersama  Thariq Bin Ziyad sama-sama tinggal di Indonesia.  Kedatangannya ke sekolah kami beliau membawa ide yang salah satunya adalah tentang  metode pembelajaran cooperative learning.

Pada pertemuan yang terbaru ini selain berdiskusi lebih jauh tentang implementasi pembelajaran cooperative learning, coaching atau workshop tentang pembelajaran yang menggairahkan dan menyenangkan juga membawa ide terbaru tentang trend pendidikan dunia abad abad 21. Belau juga sharing tentang pengalaman pribadi dan keluarganya tentang posisi keluarga di suatu lembaga dikaitkan dengan profesionalisme dan hubungan yang baik antara keduanya. Inilah salah satu hal yang penting  untuk menjadi bahan pembelajaran di sekolah atau lembaga tempat kami berada.

Semoga hubungan kami dengan sekolah mereka terus berkembang dan berbuah istiqomah, demi kemajuan pendidikan di Thariq Bin Ziyad khususnya atau Indonesia pada umunya serta kiprah kedua Negara di kancah dunia bahwa kebangkitan ummat Islam, pendidikan Islam, dunia Islam yang akan mengisi peradaban dunia ke depan adalah insya Allah akan dating dari arah Timur. Apakah nanti itu dating dari Indonesia, Singapura, Malaysia atau negeri yang lainnya, yang jelas hubungan diantara kami itu sudah jelas, karena keimanan telah menyatukan sekolah kami dengan mereka.

Seperti yang tergambar dalam bait-bait lagu do’a robhitoh berikut ini “Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu berhimpun dalam naungan cintamu, bertemu dalam ketaatan, bersatu perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan, Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu berhimpun dalam naungan cintamu, bertemu dalam ketaatan, bersatu perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan kuatkan lah ikatannya kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya,  terangilah dengan cahayamu yang tiada pernah padam ya robbi bimbinglah kami”.
Wallahu a’lam. [DM]


sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2014/12/24/persaudaraan-sekolah-islam-antara-thariq-bin-ziyad-dan-al-junied-singapore-712471.html

PENDIDIKAN YANG MENGHORMATI GURU DAN MURID (Refleksi Maulid Nabi)

Oleh Prof. Dr. Tobroni, M.Si.
Bulan ini adalah bulan Rabi’ul Awal atau bulan Maulid. Pada bulan ini 14,5 abad yang lalu lahirlah anak manusia dalam keadaan yatim, tetapi ia adalah  manusia pilihan: cerdas,  berbudipekerti luhur,  memiliki kepribadian yang kokoh dan agung.  Ia adalah Nabi Muhammad SAW.   Berbicara tentang Nabi Muhammad SAW akan segera terbayang di benak kita, sosok manusia teladan bagi semua orang, baik si kaya maupun si miskin, berkedudukan maupun orang biasa, tua maupun muda, dan laki-laki maupun perempuan. Keagungan pribadi Muhammad Rasulullah diabadikan dalam al-Qur’an berupa pujian Allah:  “Sungguh pada diri dirimu (Muhammad) terdapat akhlak yang agung” (al-Qalam 4). Dalam ayat lain Allah berfirman  dalam bentuk kalimat berita tetapi berisi perintah untuk meneladani Rasulullah SAW: “Sungguh terdapat teladan yang baik dalam diri Rasulullah bagimu, bagi orang yang berharap berjumpa Allah dan hari akhir” (al-AQhzab 21).
Salah satu hal yang patut kita teladani dari Rasulullah Muhammad SAW adalah kepeduliannya dalam persoalan pendidikan. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rasulullah bersabda: “Hanyasannya Aku di utus oleh Allah sebagai pendidik” (H.R. Ibnu Majah). Dalam hadits Riwayat Muslim rasulullah bersabda: “Allah Ta’ala tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan, atau orang-orang yang mencari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik dan orang yang memudahkan”. Pernyataan Rasulullah bahwa dirinya adalah seorang pendidik menunjukkan betapa mulianya seorang guru atau seorang pendidik itu. Sebab sepengetahuan Khatib, tidak ada bunyi Hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa beliau diutus sebagai kepala Negara atau sebagai panglima perang, walaupun dalam konteks kenegaraan Rasulullah adalah pimpinan pemerintahan dan pimpinan militer tertinggi. Karena itu kalau Rasulullah memaklumkan dirinya sebagai pendidik, maka tentulah ia adalah pendidik yang paling utama, dan pendidik-pendidik lain dari umatnya memiliki kedudukan satu tingkat dibawah beliau dan sepatutnya meneladani bagaimana Rasulullah dalam mendidik umatnya atau bagaimana dalam memperlakukan para pendidik.
Rasulullah SAW adalah pemimpin yang sangat peduli terhadap pendidikan. Dalam keadaan kesulitan keuangan maupun dalam keadaan perang yang paling sulitpun beliau sangat memperhatikan pendidikan. Dalam berbagai peperangan, Rasulullah sangat sedih dan cemas apabila yang gugur adalah Pendidik yaitu orang-orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya kepada manusia. Dalam berbagai peperangan,  pasukan muslim  berhasil menaklukkan  dan menawan pasukan musuh. Kepada tawanan perang yang dapat mengajari membaca dan menulis dapat dibebaskan dengan tebusan mau menjadi guru dan diperlakukan dengan penuh penghormatan.  Ketika sekelompok pemuda hendak mendaftarkan diri sebagai prajurit yang pada waktu itu sangat dibutuhkan, Rasulullah menyuruh sebagian dari mereka untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Dan bahkan perintah untuk memperdalam ilmu bagi para pemuda itu ditegaskan dalam al-Qura’n: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap firqah (daerah/suku)  diantara mereka serombongan orang yang memperdalam ilmu pengetahuan, agar dapat memberi peringatan (pembaharu)  kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada mereka agar mereka dapat menjaga diri” (at-Taubah 122).
Ayat di atas mengingatkan kepada umat Islam agar senantiasa mengutamakan urusan pendidikan termasuk di masa yang paling sulit sekalipun yaitu pada masa peperangan. Bahkan secara tersirat ayat tersebut menyuruh menuntut ilmu di tempat yang jauh, dan apabila para penuntut ilmu itu telah berhasil hendaklah mereka diperlakukan dengan layak agar dapat mengamalkan ilmunya yaitu memberi pencerahan kepada bangsanya agar bangsanya tidak tergelincir kepada kehancuran. Seandainya umat Islam, Bangsa Indonesia, atau kita dapat mengamalkan surat Taubah 122 ini niscaya akan menjadi umat atau bangsa yang dapat menjaga  diri, yaitu menjaga diri dari minta-minta, menjaga diri dari hinaan atau campur tangan bangsa lain yang menginjak-injak harga diri dan kedaulatan kita. Sayangnya kita bangsa Indonesia dan khususnya umat islam terlalu besar syahwat politiknya, sampai-sampai tidak dapat dibedakan antara organisasi dakwah atau organisasi politik, tidak bias dibedakan antara tokoh agama dengan tokoh politik. Bahkan sekolah dan masjidpun dijadikan sebagai alat perjuangan politik praktis.
Apa yang dilakukan Rasulullah yaitu mengutus sebagian generasi mudanya untuk menuntut ilmu di masa peperangan yang paling sulit, dan membebaskan tawanan perang yang dapat mengajar itu dianggap aneh oleh kebanyakan sahabat dan para tawanan perang itu sendiri. Apa yang dilakukan Rasulullah itu ternyata merupakan strategi perang yang paling cerdik dan sebuah strategi memenangkan  pertempuran yang sesungguhnya, yaitu pertempuran merebut masa depan. Dan ini terbukti umat Islam pernah mengalami kejayaan selama lima abad ketika umat Islam menghargai ilmu, guru dan murid.  Sikap Rasulullah yang menghargai guru dan murid dan ilmu pengetahuan itulah yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun peradaban Islam.
Ketika tentara Sekutu pimpinan Amerika Serikat menjatuhkan bom atom dan meluluhlantakkan  kota Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Hiro Hito mengumpulkan para pembantunya dan bertanya: “Berapa guru yang masih tersisa”.  Sang Kaisar tidak bertanya tentang prajurid yang tewas atau bangunan yang hancur, melainkan bertanya tentang keadaan guru.  Pertanyaan Sang Kaisar ini terasa aneh, karena tidak membahas strategi menyerang balik tentara sekutu. Akan tetapi justru pertanyaan itulah yang menurut Kaisar paling tepat dan pasti kalau Jepang hendak mengalahkan Amerika dan sekutunya.   Dan sekarang apa yang dipikirkan  oleh Kaisar itu telah terbukti. Jepang telah berhasil mengalahkan Amerika dan sekutunya. Jepang mengalahkan Amerika tidak dengan senjata bom atom atau nuklir, melainkan dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan sebuah bangsa akan berjaya dalam bidang-bidang lain seperti teknologi, ekonomi dan militer.
Dalam kajian strategi kebudayaan, kekerasan senjata tidak mesti dilawan dengan senjata. Ejekan, penindasan, teror dan bahkan bom musuh tidak harus dibalas dengan yang serupa, karena kalau kita tidak memiliki kekuatan yang lebih baik atau minimal sebanding justru akan melemahkan dan menghancurkan kita. Akan tetapi dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meraih apa saja yang dikehendaki. Dahsyatnya kekuatan senjata ternyata dapat dikalahkan dengan kelemahlembutan pena (Qalam). Dengan ilmu pengetahuan manusia dapat mengalahkan musuh-musuhnya dengan tanpa berperang dan tanpa merendahkannya. Dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meraih kearifan, kebijaksanaan, harta, kekuasaan dan derajat yang tinggi. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menghendaki (kebahagiaan) dunia hendaklah dengan ilmu, barang siapa menghendaki akhirat hendaklah dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya hendaklah dengan ilmu”.
Para ahlul hikmah mengatakan bahwa Ilmu adalah kekuatan (knowledge is power), ilmu adalah mukjizat (knowledge is miracle), ilmu adalah perisai yang akan melindungi pemiliknya dari kehancuran. Bangsa yang terhormat, berjaya dan menjadi penguasa di dunia adalah  bangsa yang berilmu pengetahuan. Dalam panggung sejarah kita menyaksikan bangsa yang memiliki  kekayaan alam yang berlimpah tetapi sedikit ilmu pengetahuan, terbukti kekayaannya tidak dapat menolong dan memberikan kemaslahatan,  melainkan justru dapat menimbulkan konflik dan kehancuran. Sebaliknya bangsa yang berilmu pengetahuan walaupun tidak memiliki kekayaan alam terbukti dapat menciptakan kemakmuran, kesejahteraan dan kehormatan.
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Tuhan mendorong, memanggil dan memerintah agar umat Islam menuntut ilmu dan menjadi umat yang yang berilmu. Sebaliknya Tuhan menyindir, mengejek dan mengecam umatnya yang bodoh tidak mau belajar. Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan lebih tinggi dibanding umat atau bangsa lainnya. “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat”.
Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana agar umat Islam menjadi umat yang terpelajar, umat yang berilmu pengetahuan dan pada akhirnya adalah menjadi umat yang dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat? Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh al-Darimy: “Manusia itu orang yang berilmu dan orang yang belajar, dan tak ada yang lebih baik lagi setelah itu”. Hadis ini dengan sangat tegas memberikan pesan bahwa hanya dengan ilmu dan kemauan belajarlah manusia itu dapat beraktualisasi dan menunjukkan eksistensi kemanusiaannya. Manusia yang tidak berilmu dan tidak mau belajar atau telah berhenti belajar adalah “bukan manusia” atau diibaratkan telah mati atau mayat hidup.
Dalam sabdanya yang lain Rasulullah bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat apa yang ada di dalamnya kecuali dzikrullah dan apa yang mengikutinya, orang yang berilmu dan orang yang belajar. (H. R. Tirmidzi).
Dua Hadits di atas menegaskan pentingnya sebuah pendidikan bagi kehidupan manusia. Inti dari pendidikan adalah interaksi antara guru dan murid. Islam adalah agama yang sangat menghargai dan memuliakan guru dalam kedudukan yang sangat tinggi: Rasulullah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Timidzi: “Seorang alim yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya dianggap sebagai orang besar di kerajaan langit”.  Dalam Hadits lain Rasulullah bersabda: “Keutamaan orang yang berilmu atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang . Sesungguhnya ulama itu para pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar dan dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, berarti dia telah mengambil bagian yang berlimpah”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dua Hadits di atas cukuplah sebagai dasar keharusan untuk bersikap dalam memuliakan guru dan mengutamakan pendidikan. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang sangat menghormati gurunya. Bangsa-bangsa yang berhasil membangun peradaban besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi harkat dan martabat guru. Demikian juga lembaga pendidikan yang mengalami kemajuan dan dapat melahirkan lulusan yang berkualitas adalah lembaga pendidikan yang menghormati  dan menghargai guru atau tenaga pengajarnya. Sebaliknya, seseorang,  suatu bangsa, suatu umat maupun  sebuah lembaga pendidikan yang tidak mengormati guru, tidak memperhatikan aspirasinya, tidak memperhatikan kesejahteraannya terbukti menjadi  umat, lembaga  ataupun bangsa yang terpuruk.
Kemunduran peradaban Islam serta kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam sejak beberapa abad terakhir ini terutama disebabkan oleh kurangnya perhatian umat terhadap pendidikan dan terlebih lagi kurangnya penghargaan terhadap guru. Berbagai penelitian menunjukkan guru-guru madrasah, pesantren, sekolah dan perguruan tinggi Islam nasibnya kurang diperhatikan. Mereka mengajar tetapi tidak dibayar, melainkan hanya diberi uang transport dengan jumlah yang sangat tidak memadai. Banyak lembaga pendidikan Islam yang berlomba-lomba membangun fisik, melengkapi fasilitas pendidikannya, melakukan publikasi besar-besaran tetapi tidak secara tulus memperhatikan guru-gurunya.  Ini merupakan sebuah kesalahan besar umat, karena bertentangan dengan nilai dasar Islam yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi guru. Nilai-nilai dasar Islam tentang keagungan dan kemuliaan guru dan para ulama yang sangat penting ini sepertinya semakin terkikis saja. Kita sering menyaksikan secara langsung di masyarakat nasib guru yang kurang memperoleh penghargaan di tengah-tengah murid dan masyarakatnya. Sinetron-senetron di televisi  atau  film dimana  siswanya melecehkan gurunya. Kita juga sering menyaksikan terdapat guru-guru yang diperlakukan tidak adil karena mempertahankan idealismenya. Sikap tidak menghargai guru baik yang dilakukan negara, masyarakat, pimpinan lembaga pendidikan maupun murid dalam berbagai bentuknya mencerminkan budaya rendah, karena tidak menghargai guru dan ini merupakan cermin tidak adanya penghargaan terhadap ilmu. Pemimpin bangsa, pemimpin lembaga pendidikan, dan murid-murid yang tidak menghargai ilmu juga tidak akan mampu menghargai guru-gurunya.
Islam juga memerintahkan umatnya untuk menyayangi, menghormati dan menempatkan murid dalam posisi yang tinggi. Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW  sebagaimana diriwayatkan oleh “Barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya Malaikat merebahkan sayapnya karena ridlo terhadap penuntut ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu, dosa-dosanya akan dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi termasuk ikan-ikan yang ada di air” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Keterangan di atas menegaskan bahwa guru dan murid sama-sama mulia dan memiliki kedudukan yang khusus di sisi Allah dan di sisi manusia karena keduanya sama-sama mencintai ilmu. Karena itulah hubungan atau interaksi guru-murid haruslah dalam koridor saling menghormati, saling menghargai dan saling menyayangi dan saling peduli. Guru sebagai orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman, sudah sepatutnya punya rasa kasih dan peduli kepada muridnya, sementara murid menghormati guru.
Fenomena yang terjadi sekarang ini, hubungan guru-murid sudah banyak yang meninggalkan nilai-nilai keislaman. Banyak guru yang tidak mengenal murid-muridnya, dan yang lebih parah lagi murid yang tidak mengenal nama gurunya . Ketidaktahuan murid terhadap nama gurunya menggambarkan ketidakpedulian murid terhadap guru dan ilmu yang diajarkan itu sendiri. Bila bertemu di luar kelas tidak saling menyapa atau memberikan salam. Interaksi guru murid cenderung bersifat transaksional, dari pada hubungan kemanusiaan, hubungan sinergi keilmuan dan hubungan atau interaksi edukatif yang tulus.  Tayangan telivisi sering menampilkan sinetron  dimana seorang guru tidak dapat membawakan dirinya dengan baik di hadapan murid-muridnya, seorang guru yang tidak berwibawa dan tidak sungguh-sungguh dalam membina murid-muridnya. Sebaliknya murid yang tidak dapat menghargai dan menghormati gurunya.
Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan, karena pendidikan itu memproduksi manusia, yaitu bagaimana agar lulusannya menjadi orang yang saleh, berilmu pengetahuan, professional dan berbudi pekerti yang luhur. Karena itu guru dan murid  harus bersungguh-sungguh, saling menghormati, menghargai dan mengasihi, agar tujuan pendidikan yang mulia itu dapat  terwujud. Guru, murid dan pimpinan lembaga pendidikan harus tulus, tekun, komitmen dan dedikasi dalam mengmbangkan amanah pendidikan. Alangkah ruginya guru yang mengajar apabila tidak dapat melahirkan generasi yang shalih, alangkah ruginya murid yang belajar apabila tidak memperoleh ilmu yang bermanfaat, dan alangkah ruginya pimpinan atau penyelenggara pendidikan apabila lembaganya tidak mampu memenuhi harapan guru dan muridnya. Mudah-mudahan kita terhindar dari perbuatan yang sia-sia dan Allah senantiasa memberikan kekuatan lahir dan batin dan petunjuk jalan yang lurus kepada kita sehingga kita semua dapat berbuat yang terbaik (ahsanu amala).
sumber : http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/12/01/pendidikan-yang-menghormati-guru-dan-murid-refleksi-maulid-nabi/