“Ketika Remaja Indonesia Berbicara Politik”


Hari Selasa 19 Maret 2013, ada tulisan yang sangat menarik di blogdetik dan menjadi salah satu tulisan pilihan ‘Blog Pilihan’ di www.news.detik.com. Karena tampil di Blog Pilihan, biasanya pembacanya ribuan.
Menarik, karena tulisan yang berjudul “Ketika Remaja Indonesia Berbicara Politik” ini ditulis oleh remaja belia, Fathia Asyafiqah, yang baru SMP kelas 7 tapi sudah sadar politik dan berani beropini. Untuk anak seusia itu, tulisannya memang cukup kritis, namun tetap objektif walau gayanya khas Abege.


Berikut tulisannya…


“Ketika Remaja Indonesia Berbicara Politik”

Politik..
Temen-temen lebih seneng menyebut nama politik adalah “Politikus”..
Menurut mereka, Politik hanya menumbuhkan para koruptor-koruptor baru..
Menurut Fathiya sendiri, Politik adalah tempat dimana para “Manusia peduli Indonesia lebih baik” dan Manusia-manusia yang mengetahui benar Indonesia. Tempat dimana terjadi banyak konflik dan tempat dimana terjadi suatu per-debat-an.

Fathiya sendiri nggak begitu tau apa itu politik. Meskipun Orang Tua Fathiya sendiri aktifis di salah satu Partai. Cuman melirik sekilas aja selama ini.
“Ternyata begini dan begitu toh..” , lalu selesai.

Fathiya sendiri memberi judul tulisan amatir ini ter-inspirasi dari banyak orang.
Banyak orang yang membicarakan bahwa. Remaja-remaja di Indonesia seharus nya mengerti dunia per-politikan.

Kenapa?

Ada yang berpendapat..

1. Ya harus tau lah. Biar nanti kalau dari kecil sudah tau politik kan nggak bisa di bodohi..

2. Remaja ya harus nya mengerti politik. Negara kita kan negara politik. Cuman, diusahakan nanti menjadi para aktifis politik yang positif.

3. Lebih baik sih mengerti politik. Biar ada wawasan baru aja gitu..

Dan sebagainya..

Atau ada juga yang malah nggak ngebolehin Remaja-remaja Indonesia itu mengerti politik. Alasan nya?

1. Lebih banyak negatif nya dari pada positif nya sekarang.
2. Takut menjadi penerus yang negatif. Nanti jadi ikut-ikutan korupsi lagi.

Dan sebagai nya.

Menurut Fathia sendiri, nggak ada salah nya belajar tentang politik. Kita (Para remaja) seharus nya memang mengerti segala hal tentang Indonesia. Bukan Politik saja sih. Semua. Mulai dari Budaya sampai seluk-beluk masyarakat.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan. Seni dalam per-politikan itu menurut Fathiya ada di 2 belah pihak. Seni negatif dan Seni positif..

-Seni Negatif nya. Para Politisi menggunakan seni dalam kelicikan nya untuk “mengambil” uang yang seharus nya milik bersama itu untuk kepentingan pribadi. Para Koruptor menggunakan Seni negatif itu.

-Seni Positif nya. Membangun negara dengan baik. Membangun suatu harapan yang membantu dan membangkitkan masyarakat.
Bukan kah memang seharus nya seperti itu?

Seni memang dimana-mana.. Sampai dunia politik yang menurut kita seriusnya bukan main, ternyata penuh akan seni.. Hebat nya Indonesia..

Bagaimana jika Remaja Indonesia berbicara politik?

Jaman sekarang memang Remaja Indonesia sedang di manjakan dengan Hits mode. Sepertinya, mereka melupakan tujuan mereka ke-depan. Menjadi penerus bangsa.

Banyak yang tidak ingin mejadi seorang politisi. Entah apa alasan mereka, mereka tidak tertarik dalam dunia politik..

Kebanyakan sih komentar nya nggak respect sama politik karena
“Jadul. Garing. Norak. Urusan Orang Tua.” Dan beribu alasan lain nya..

Tapi, jika banyak remaja yang berbicara politik…..
Indonesia akan gempar!
Tau kan? Imajinasi anak-anak bangsa ini itu luar biasa!
Sebenarnya, mimpi untuk memajukan Indonesia selalu terlintas di fikiran anak-anak bangsa ini. Ingin sebenarnya melakukan yang terbaik. Cuman harus gimana? Ber-politik? masih kecil..

Nggak kebayang deh kalau Para Remaja Indonesia cap-cus soal politik.
Harapan-harapan.. Tujuan-tujuan yang gemilang.

Sebenarnya, suara merdeka nya Indonesia itu ada di Suara Hati penerus bangsa.
Beneran deh..

Meski sebagian besar meraka BELUM mengerti apa Politik itu sebenarnya (saya juga sih.. hehe). Tapi mereka sebenarnya bisa.
Tinggal mereka berani ber-hadapan dengan publik. Berani mengambil keputusan dan berani untuk benar-benar berperan..

Susah sih emang ber-politik itu..
Tapi, jika memang benar-benar terjadi keajaiban….
Para Remaja BER-BICARA POLITIK!
Jangan kaget jika itu membuat dampak besar bagi Indonesia dan Dunia!

Kita buktikan jika itu benar-benar terjadi. Saya harap sih beneran terjadi..

Dampak atau efek yang akan di munculkan ketika para remaja nanti berbicara Serius tentang politik. Menurut Fathiya itu akan menjadi keajaiban langka. Serius..

Efek yang Fathiya masih Imajinasikan bila nanti ketika kejadian itu terjadi adalah….

1. Ide-ide baru untuk indonesia lebih baik akan semakin berkembang..

2. Menarik banyak Inspirasi bagi anak-anak muda yang lain jika 1 orang saja berhasil. Dampak akan menebar luas. seperti virus cacar yang nempel di 1 orang akan cepat menyebar ke orang yang lain.. muehehehe.

3. Tercipta nya generasi baru yang lebih fresh . hehe

4. Akan banyak generasi pengikut yang akan meninggalkan aktifitas yang kurang berguna menjadi lebih berguna untuk bangsa pastinya..

Dan masih banyak lagi pastinya yang akan di timbulkan jika remaja lebih menggali lagi tentang politik..

Pengamat politik dalam dunia remaja sudah banyak. dan itu bagus!

Sekarang sudah mulai banyak yang terjun ke dalam dunia politik itu sendiri dan berjuang untuk memerdekakan Indonesia untuk menjadi lebih baik lagi!!

MERDEKAAA!!

Adab dan Tugas Murid (3)

(Said Hawwa) Ketujuh, hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya; karena ilmu tersusun secara berurut, sebagiannya merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Orang yang mendapat taufiq ialah orang yang menjaga urutan dan pentahapan tersebut. Hendaklah tujuannya dalam setiap ilmu yang dicarinya adalah peningkatan kepada apa yang berada di atasnya. Oleh sebab itu, ia tidak boleh menilai tidak benar suatu ilmu karena adanya penyimpangan di kalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan salah seorang atau beberapa orang di dalam ilmu itu, atau karena pelanggaran mereka terhadap konsekwensi amaliah dari ilmu mereka. Sehingga ada sekelompok orang yang tidak mau melakukan kajian dalam masalah ‘aqliyah dan fiqhiyah dengan alasan seandainya punya dasar niscaya sudah dicapai oleh para ahlinya. Ada juga sekelompok orang yang meyakini kebatilan ilmu kedokteran hanya karena mereka pernah menyaksikan kesalahan yang dilakukan oleh seorang dokter.

Ada pula kelompok yang meyakini kebenaran ramalan perbintangan (perdukunan) hanya karena adanya kesesuaian yang pernah dibuktikan oleh seseorang. Semua kelompok tersebut tidak benar, tetapi ia harus mengenali sesuatu itu sendiri, bukan melalui orang yang menekuninya. Karena tidak setiap orang bisa menguasai ilmu dengan baik. Oleh sebab itu, Ali Radhiyallahu ‘Anh berkata, “Janganlah kamu mengenali kebenaran melalui orang tetapi kenalilah kebenaran pasti kamu akan mengetahui orangnya.”
Kedelapan, hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Apa yang dimaksudkannya adalah dua hal; pertama kemuliaan hasil; dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu kedokteran. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu kedokteran adalah kehidupan yang fana. Dengan demikian, ilmu agama lebih mulia.
Atau seperti ilmu hisab dan ilmu ramalan perbintangan. Ilmu hisab lebih mulia karena kekokohan dan kekuatan dalilnya. Jika ilmu hisab dibandingkan dengan ilmu kedokteran maka ia lebih mulia. Dengan demikian jelas bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasulul-rasul-Nya, dan ilmu tentang jalan yang mengantarkan kepada ilmu-ilmu ini.
Kesembilan, hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan keutamaah, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Hendaklah murid tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabui orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Di samping itu, ia tidak boleh meremehkan semua ilmu, yakni ilmu fatwa, ilmu nahwu dan bahasa yang berkaitan dengan Al Qur’an, ‘Alaihis Salam  Sunnah dan ilmu-ilmu lainnya yang merupakan fardhu kifeyah.
Janganlah sekali-kali Anda memahami dari sanjungan kami yang berlebih-lebihan kepada ilmu akhirat ini sebagai pelecehan terhadap ilmu- ilmu yang lainnya. Karena orang-orang yang bertugas menekuni ilmu-ilmu tersebut sama seperti orang-orang yang bertugas menjaga front perbatasan (Darul Islam) dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Di antara mereka ada yang bertugas sebagai petempur, ada yang menjaga pertahanan, ada yang bertugas mengurusi perbekalan air, ada yang menjaga binatang-binatang tunggangan dan lain sebagainya. Setiap orang dari mereka mendapatkan pahala, jika tujuannya untuk meninggikan kalimat Allah bukan untuk mendapatkan harta rampasan. Demikian pula para ulama’. Allah berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadilah: 11) Allah berfirman, “(Kedudukan) mereka itu bertingkAt Tingkat di sisi Allah.” (Ali Imran: 163) Keutamaan tersebut bersifat nisbi.
Janganlah Anda mengira bahwa derajat di bawah tingkatan yang paling tinggi itu jatuh nilainya, karena tingkatan tertinggi adalah tingkatan para nabi kemudian para wali, kemudian para ulama’ yang mendalam ilmunya, kemudian orang-orang yang shalih dengan segala perbedaan derajat mereka. Secara umum “Barangsiapa yang mengefjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az Zalzalah: 7-8) Dan barangsiapa dengan ilmunya, ilmu apa saja, bermaksud mencari ridha Allah maka pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.
Kesepuluh, hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi lagi dekat darpada yang jauh, dan yang penting daripada yang lainnya. Arti ‘yang penting’ ialah apa yang menjadi kepentingan Anda -tidak ada yang menjadi kepentingan Anda kecuali urusan dunia dan akhirat.
Jika Anda tidak bisa menghimpun antara kesenangan dunia dan keni’matan akhirat, sebagaimana ditegaskan Al Qur’an dan diberi kesaksian oleh cahaya bashirah. maka yang lebih penting adalah apa yang tetap ada selama-lamanya; sehingga pada saat itu dunia menjadi tempat singgah, jasad menjadi kendaraan, dan amal perbuatan menjadi upaya menuju tujuan yang tidak lain adalah perjumpaan dengan Allah yang merupakan ni’mat terbesar, sekalipun hanya sedikit di dunia ini orang yang mengetahui nilainya.
Renungkanlah hal ini terlebih dahulu dan terimalah nasehat gratis dari orang yang telah mendapatkan pengalaman berharga tersebut dan tidak berhasil mencapainya kecuali setelah usaha keras dan keberanian yang sepenuhnya untuk menentang orang-orang awam dan khusus dalam menghentikan taqlid mereka semata-mata karena syahwat.

Adab dan Tugas Murid (2)

(Said Hawwa) Hikmah atau ilmu pengetahuan adalah barang milik seorang mukmin yang hilang. Ia harus memungutnya di mana saja ia temukan dan orang lain yang menemukan serta membawa barang itu kepadanya memperoleh anugerah, siapapun ia. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu itu enggan dari pelajar yang sombong, serta banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.”
Ilmu tidak didapat kecuali dengan sikap tawadhu dan mendengarkan. Allah berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”(Qaaf [50]: 37)
Memiliki hati berarti menerima ilmu dengan paham. Namun kemampuan memahami itu tidak banyak membantunya kecuali jika ia menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan dengan sepenuh hati untuk menerima setiap ilmu yang disampaikan kepadanya dengan konsentrasi yang baik, tawadhu, syukur, gembira, dan menerima anugerah.

Hendaknya seorang murid bersikap seperti tanah gembur yang disiram hujan deras di hadapan gurunya. Dengan begitu, seluruh bagian tanah itu menyerap dan tunduk sepenuhnya menerima air hujan. Cara belajar bagaimanapun yang disarankan oleh guru hendaknya diikuti. Hendaknya ia tinggalkan pendapatnya sendiri. Kesalahan pembimbingnya itu lebih bermanfaat baginya daripada kebenaran pendapatnya sendiri karena pengalaman merupakan upaya untuk mengetahui hal-hal detail yang aneh terdengar tetapi manfaatnya besar.
Ali, semoga Allah meridhainya, berkata, “Termasuk hak-hak seorang guru adalah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak meminta jawaban yang menyusahkannya, tidak mendesaknya jika ia sedang malas, dan tidak menarik bajunya jika ia hendak beranjak. Jangan kau sebarkan rahasianya, jangan kau gunjing seseorang dihadapannya, jangan kau cari-cari kesalahannya. Jika ia tergelincir pada suatu kesalahan, maka terimalah alasannya. Hormatilah ia karena Allah Yang Maha Tinggi selama ia menunaikan perintah Allah. Jangan duduk didepannya, jika ia memerlukan sesuatu, segeralah berkhidmat memenuhi keperluannya sebelum orang lain mendahului kamu.”
Tugas keempat,  orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara banyak orang, baik ilmu yang ia tekuni itu termasuk ilmu dunia atau ilmu akhirat karena hal itu akan membingungkan akal pikirannya sendiri, mematahkan pendapatnya, dan membuatnya berputus asa dari upaya pengkajian dan telaah yang mendalam. Seharusnya, seorang murid menguasai terlebih dahulu satu jalan yang teruji dan diridhai, kemudian mendengarkan beragam mahzab atau pendapat.
Tugas kelima, seorang penuntut ilmu tidak meninggalkan satu cabang pun dari ilmu-ilmu terpuji. Sebaliknya, ia mempertimbangkannya matang-matang dan memperhatikan maksud dan tujuan ilmu itu kemudian jika ia diberi umur panjang maka ia memperdalamnya, jika tidak maka ia cukup menekuni ilmu yang paling penting saja. Hal ini diperlukan karena ilmu-ilmu itu saling membantu dan saling berkaitan. Ia juga berusaha untuk tidak membenci ilmu yang belum dapat ia kuasai karena kebodohannya, karena manusia memusuhi apa yang tidak diketahui olehnya. Allah berfirman,
“… Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka berkata, ‘Ini adalah dusta yang lama…’”(Al Ahqaaf [46]:11)
Seorang penyair berkata, “Bagi orang bermulut pahit dan sakit, air segar terasa pahit.”
Ilmu agama dengan berbagai tingkatannya dapat membawa seorang hamba menuju Allah Yang Maha Tinggi atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu itu memiliki berbagai tingkatan yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya dari tujuan. Para penegaknya merupakan para penjaga syariah, tiada bedanya dengan orang-orang yang menjaga perbatasan dan pos-pos media pertempuran. Masing-masing mempunyai tingkatan dan akan mendapatkan pahala di akhirat sesuai derajatnya jika ridha Allah menjadi tujuannya.
Tugas keenam, tidak sekaligus menekuni berbagai macam cabang ilmu, melainkan memperhatikan urutan-urutannya dan memulainya dari yang paling penting. Biasanya, umur tidak cukup untuk menekuni semua bidang ilmu, maka seorang penuntut ilmu cukup mengambil yang terbaik dari segala sesuatu dan mencurahkan segenap kemampuannya untuk menekuni ilmu yang mudah dipelajari hingga ia menyempurnakan ilmu yang paling mulia, yaitu ilmu akhirat.
Ilmu akhirat yang saya maksudkan ini bukanlah keyakinan yang ditelan begitu saja oleh orang awam atau yang diterimanya secara pewarisan.  Bukan pula retorika dan perdebatan untuk menjaga pembicaraan dari lawan yang memutarbalikkan kata. Ilmu akhirat itu adalah suatu keyakinan yang merupakan hasil dari cahaya Allah yang Ia anugerahkan kepada hati seorang hamba yang senantiasa membersihkan dari batin dari berbagai kotoran dengan mujahadah (bekerja keras) sampai berakhir pada tingkat keimanan Abu Bakar – yang seandainya ditimbang, beratnya dengan seluruh alam—maka iman Abu Bakar itu tetap unggul. Sebagaimana diakui oleh umar dalam satu riwayat sahih.
Secara umum, ilmu akhirat adalah ilmu yang paling mulia yang tujuannya adalahma’rifatullah (mengenal Allah) Yang Mahaperkasa dan Mahamulia. Ilmu akhirat itu ibarat laut yang tidak dapat diketahui dasarnya. Peringkat tertinggi manusia dalam ilmu ini diraih oleh tingkatan para Nabi, kemudian para wali, kemudian orang-orang dibawah mereka.

Adab dan Tugas Murid (1)

(Said Hawwa) Murid memiliki banyak adab dan tugas zhahir (nyata) yang tersusun dalam sepuluh bagian berikut ini.
Tugas Pertama, mendahulukan penyucian jiwa daripada akhlak yang hina dan sifat-sifat tercela karena ilmu merupakan ibadah hati, shalatnya jiwa, dan pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan zahir yang tidak sah, kecuali dengan menyucikan zahir dari hadats dan najis. Begitu pula ibadah batin dan menyemarakkan hati dengan ilmu, tidak sah kecuali setelah hati dan batin itu disucikan dari berbagai akhlak yang kotor dan sifat-sifat najis.
Allah berfirman,
“… Sesungguhnya orang yang musyrik itu najis….”(At Taubah [9]: 28)
Mengingatkan kepada akal bahwa kesucian dan kenajisan tidak khusus pada hal-hal zhahir saja. Seorang musyrik bajun dan badannya bersih, tetapi pada hakikatnya ia najis, yaitu batinnya berlumuran darah dengan kotoran. Kata najis adalah ungkapan tentang sesuatu yang harus dihindari. Sifat-sifat kotor batin itulah yang harus lebih dijauhi karena di samping kotor, secara langsung ia juga pada akhirnya dapat membinasakan.

Tugas Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia karena ikatan-ikatan itu hanya menyibukkan dan memalingkan. Allah berfirman,
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.”(Al Ahzab [33]:4)
Jika pikiran terpecah, maka ia tidak dapat mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu, dikatakan,”Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu memberikan kepadanya seluruh jiwa kamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwa kamu kepadanya namun ia hanya memberikannya sebagian kepada kamu, maka berarti kamu dalam bahaya”.Pikiran yang bercabang-cabang pada berbagai macam perkara bagaikan sebuah sungai kecil yang airnya berpencar, sebagian diserap tanah serta sebagian dibawa oleh embusan angin hingga tidak ada air yang terkumpul dan sampai ke ladang.
Tugas Ketigatidak sombong dan sewenang-wenang terhadap guru. Ia harus menyerahkan seluruh urusannya kepada guru dan mematuhi nasihatnya seperti seorang yang sakit mematuhi dokter yang penuh kasih sayang dan mahir. Seharusnya, seorang murid bersikap tawadhu (rendah hati) kepada gurunya serta mencari pahala dan kemuliaan dengan berkhidmat kepadanya. Asy-Sya’bi berkata. “Zaid bin Tsabit selesai melakukan shalat jenazah, maka aku dekatkan baghal-nya kepadanya agar dapat ditungganginya. Lalu Ibnu Abbas datang dan mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, “Lepaskan saja wahai anak paman Rasulullah!”
Ibnu Abbas Menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk berbuat kepada para ulama.”
Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berbuat kepada kerabat Nabi kami, semoga rahmat Allah dan salam tercurahkan padanya.”
Oleh karena itu, murid tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Salah satu kesombongan seorang murid terhadap guru adalah apabila ia hanya mengambil ilmu dari orang-orang besar dan terkenal, padahal hal itu adalah suatu kebodohan. Sesungguhnya, ilmu adalah penyebab keselamatan dan kebahagiaan. Siapa yang mencari jalan selamat dari terkaman binatang buas dan berbahaya tentu tidak pilah-pilih orang yang akan menyelamatkannya, orang terkenal atau tidak sama saja.

Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang Membodohi Remaja

dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari telah menjadi hari special yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktivitas yang turut mewarnai valentine’s day.

Sejarah Valentine’s Day

Valentine’s Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan kepercayaan kuno di kalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.

Versi kedua, menghubungkan Valentine’s Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.

Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.

Bergesernya Makna Valentine’s Day

Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.

Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.

Sikap Seorang Remaja

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine’s Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas coklat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Perayaan Valentine’s Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof. Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.

Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine’s Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)