Hari Pertama di Paris (Pare Kampung Inggris)

Episode : Kids Jaman Now

Alhamdulillah kami sampai stasiun Jombang Kamis dini hari pukul 02.25. Dua minibus sudah menanti di depan stasiun. Suasana stasiun sangat sepi dan cuaca di luar mendukung sekali. Cerah, bersih secerah hati kami yang siap belajar di tempat baru.

Perjalanan sekitar 40 menit sampai di Arrohim Cottage yang terletak di jalan Brawijaya desa Tulungrejo, Pare Kediri. Karena jalan raya yang lengang dan sepiiiiii. Alhamdulillah lancar jaya sampai Cottage.

Istirahat sebentar, sambil menanti adzan subuh yang akan berkumandang. Ternyata bagi sebagian siswa dimanfaatkan dengan hal-hal positif. Ada yang berinisiatif membaca Almasurat bersama dengan teman sekamarnya. Wooow padahal pagi belum datang. Saya hanya mengintip di balik pintu kamar yang terbuka.

Tak lama adzan subuh pun bergema. Kami sholat berjamaah dan lanjut almasurat. Kelompok siswi yang tadi baca, ikut lagi.

Setelah itu bebas, saya sendiri merasakan pegal, karena 12 jam duduk saja di kereta. Jadi pengennya leyeh-leyeh. Sampai waktu pembukaan jam 8.

Jam 8 dimulai pembukaan sd jam 9 Jam 10 pretes bagi siswa. Selama satu jam menunggu waktu pre tes, dimanfaatkan dengan dhuha yang memang diinstruksikan oleh tutor dan guru.

Kebiasaan di SMPIT Thariq Bin Ziyad, hari Selasa sd Jumat kegiatan belajar dimulai dengan dhuha di mesjid ketika bel masuk tiba yaitu jam 7 tepat. Tapi guru menganjurkan dua atau empat rakaat saja.
Nah begitupun siswa kami di sini, siswa pun dhuha. Setelah 2 rokaat, langsung berhamburan ke kamar untuk istirahat dan bersih-bersih. Maklum belum mandi seharian pemirsah tapi wangi kok. Coba hirup deh aroma kami. Hihi pasti maknyos.

Namun ada yang berbeda dengan satu anak, yaitu Adib Waliyuddin kelas 7E. Setelah semua temannya dhuha 2 rakaat, Adib masih melanjutkan sholatnya. Saya yaa merekam Adib hehe. Kalo saya dhuha gak ada yang merekam dong. Hihi #edisingeles.

Sekian lama aku menunggu #jiaah kaya lagu. Saya bertanya padanya :
“Berapa rokaat dhuha? ”

“Ini baru 8 bu, masih mau lanjut sampai 12 rokaat.”

“Kamu gak capek abis naik kereta 12 jam? Tanya saya lagi.

“Udah kebiasaan bu, di rumah juga gitu. ”

Eh ternyata saya ganggu waktu ibadah Adib. Saya pun menyingkir, belum dhuha eike. Maluu sama murid jaman now. Yaah dua rokaat cukup. Maklum masih jetleg, kaki pegeeel. Tuh bocah gak cape yaa abis perjalanan jauh.

Esok hari yaitu hari ini, saya tanya Adib. “Kemaren berapa rokaat dhuha? ”

“12 rokaat. ”

“Kalo tahajjud gimana? ” kejar saya yang penisirin ama nih anak.

“Semalem tahajjud bu, sebelas rokaat. ”

“Wah, kalo di rumah juga tahajjud sama orang tua?” tanya saya lagi.

“Di rumah udah biasa tahajjud tiap malem, tapi sendiri, gak enak bangunin orang tua.”

Catet yee tiap malem.

Waah keren abis nih bocah, inilah seharusnya KIDS JAMAN NOW, yang tak mudah tergerus oleh dunia, yang katanya makin uedan.

(eli amalia)

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *