Sekolah, Lingkungan Penting Pembentuk Karakter Anak

Ada seorang Ayah yang bersikeras membeli rumah untuk keluarganya. Padahal sang empunya menawarkan harga relatif tinggi dibanding harga rumah dengan spesifikasi setara di tempat lain. Alasan sang Ayah yaitu, banyak ustadz dan ustadzah serta orang-orang shaleh dan cerdas yang tinggal di lingkungan tersebut. Ia berprinsip itu adalah investasi yang tak ternilai bagi keluarganya kelak terutama untuk anak-anaknya. Sehingga harga rumah sudah tidak lagi jadi persoalan dibandingkan dengan keuntungan yang akan diperoleh untuk pembentukan karakter anak-anak, dan hal tersebut bisa menjadi investasi akhirat bagi orang tua.

Penggalan kisah diatas merupakan sedikit dari kisah hidup sebuah keluarga. Yang diantara kisah tersebut adalah saat dimana seorang Ayah harus menentukan lingkungan tempat tinggal bagi keluarganya.

Ada tiga lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan karakter. Bukan hanya bagi anak tapi juga bagi orang tua. Yaitu lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.

Lingkungan keluarga tentunya menjadi tanggung jawab kepala keluarga. Akan tetapi, memilih lingkungan masyarakat dan sekolah yang tepat bagi anak adalah beban yang juga bersemayam di pundak seorang Ayah. Sungguh Ayah memiliki peran strategis dalam menentukan lingkungan dengan dibantu dukungan sang Bunda.

Pada kondisi normal, lingkungan sekolah yang menerapkan durasi belajar fullday menjadi sangat berpengaruh terhadap pendidikan karakter anak. Anak berada di sekolah dengan guru dan teman-temannya selama seharian. Menjelang malam hingga waktu tidur dengan durasi relatif pendek, mereka baru bertemu dengan keluarganya. Karena itu, karakter para guru menjadi sorotan sebelum orang tua yakin untuk menitipkan anak-anaknya di sekolah tersebut.

Pada kondisi pandemi, orang tua mesti berpikir keras untuk menemukan sekolah yang dapat mendampingi putra putrinya belajar dengan baik tanpa mengabaikan pembentukan akhlak, pembiasaan dengan Al-Qur’an dan tetap berprestasi dalam bidang akademik, walaupun dengan media online. Pada akhirnya, media online yang notabene diciptakan oleh orang luar pun menuntut anak-anak untuk memiliki kompetensi berbahasa dengan baik.

Tahun ini, SMPIT Thariq Bin Ziyad genap berusia 19 tahun dalam berkiprah di dunia pendidikan. Berusaha mendampingi anak-anak yang sedang berada di usia peralihan dari masa kanak-kanak menuju remaja. Sebuah fase yang relatif tidak mudah dilalui dalam salah satu jenjang pembentukan pribadi anak. Namun, kekompakan dan kematangan tim pendidik di SMPIT Thariq Bin Ziyad mampu mengatasi hal tersebut, karena guru-guru di sini telah dibekali dengan karakter yang ber-syakhsiyah Islamiyah sekaligus da’iyah.

Program pembentukan karakter shaleh dan cerdas di SMPIT Thariq Bin Ziyad lebih terarah dan fokus dengan adanya program A3B (Akhlaq, Al-Qur’an, Akademik dan Bahasa) yang diluncurkan LPIT Thariq Bin Ziyad lebih dari 10 tahun yang lalu. Dan itu menjadi kekhasan di lingkungan SIT Thariq Bin Ziyad.

Kadang orang tua terkecoh dengan sekolah yang menjamin anak-anaknya akan menjadi anak yg berkarakter baik. Padahal masa 3 tahun ini (usia peralihan) adalah masa yang relatif sulit untuk membentuk karakter anak. Di SMPIT Thariq Bin Ziyad setiap hari, anak-anak akan disuguhkan keteladanan dari guru serta diberikan pengalaman dan arahan untuk membentuk karakternya sendiri dalam koridor Islami. Ketika mereka tahu cara menjadi shaleh dan cerdas maka orang tua hanya perlu membantu memilihkan lingkungan yang tepat agar anak menemukan jalan kebaikannya masing-masing.

Wallahua’lam.

-adi-

Written by