Thursday, 06 Oct 2022
  • Selamat Datang di website resmi SMPIT Thariq bin Ziyad
TUTUP MENU

Koneksi Internet untuk Laboratorium Hasil Kloning

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang bertajuk ‘Kanibalisme dan Kloning, Kiat Hadapi Keterbatasan Fasilitas’.

Sementara itu, ketika saya mulai menikmati ide yang mudah-mudahan bisa jadi inspirasi “cemerlang” -menurut saya- karena muncul sebuah fenomena di kalangan guru komputer/TIK. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tanpa bermaksud merendahkan teman-teman guru, ternyata sebagian dari guru komputer teman-teman saya banyak yang tidak mengetahui tentang teori/praktek LAN apalagi PC Cloning.

Selain itu, tidak sedikit yang belum menguasai seluk beluk hardware komputer. Mungkin wajar, semua itu kembali kepada sarana dan prasarana pendukung pada saat belajar TI dulu. Solusinya adalah “belajar lagi” dengan guru-guru komputer yang memang menguasai materi LAN maupun hardware.

Saya dan teman-teman guru komputer memiliki wadah -sama seperti mata pelajaran lain- untuk bisa berdiskusi, berbagi pengalaman dan membuat program peningkatan mutu pendidikan, yaitu MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Dalam wadah itulah kami berusaha berbagi ilmu tentang TI dan saling melengkapi. Salah satu programnya adalah pelatihan LAN dan hardware bagi guru-guru komputer yang belum atau kurang menguasainya.

Tahun kedua mengajar, segalanya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Berbagai kemudahan ditemui dengan menggunakan PC Cloning. Mulai dari komputer Pentium 1 yang tidak lagi lambat, dapat nge-print langsung karena semua komputer terhubung dalam satu jaringan, dapat berbagi file, dapat berkomunikasi dengan komputer lain, hingga -saya pribadi- dapat belajar membangun situs sederhana dan mengujicobakan dalam jaringan lokal. Subhanallah…

Waktu terus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, walaupun KBK sekarang sudah tidak diberlakukan, memuat materi yang menurut saya menjadi beban bagi guru maupun pihak sekolah. Materi tersebut adalah internet yang harus diberikan/diajarkan di kelas 9.

Internet dipandang menjadi beban karena 2 hal; Pertama belum menjadi konsumsi yang umum dimasyarakat dan hanya dikonsumsi oleh kalangan yang terbatas termasuk gurunya. Kedua tidak diimbangi dengan fasilitas atau paling tidak diberikan kemudahan untuk menyediakan fasilitas internet untuk sekolah.

Dua hal di atas menjadi kendala yang menyebabkan materi tersebut sulit untuk disampaikan secara ideal. Salah satu solusi adalah dengan mengajarkannya secara offline dengan segala keterbatasannya. Namun untuk memberikan serta mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan hal tersebut, internet cepat atau lambat menjadi sebuah keharusan dan menjadi bagian dari sistem pendidikan.

Melihat tuntutan kurikulum dan perkembangan teknologi komunikasi disertai tanggung jawab sebagai seorang guru komputer/TIK, saya tidak bisa tinggal diam dengan situasi yang tengah terjadi. Maka mulailah saya mencari informasi sebanyak-banyaknya, seperti dahulu mencari informasi PC Cloning, mengenai internet, ISP, instalasi, layanan, tarif, kelebihan, manfaat dan sebagainya. Dengan modal Rp. 4.000 cukuplah untuk mendapatkan informasi yang saya butuhkan di warnet.

Dengan informasi yang diperoleh saya akhirnya memutuskan untuk kembali mengajukan permohonan agar pihak sekolah menyediakan koneksi internet guna keberlangsungan proses belajar mengajar -komputer/TIK- yang ideal. Asumsi awal yang dibangun terhadap pihak sekolah adalah bahwa hal tersebut tidak akan merugikan secara materi pihak sekolah.

Kenapa bisa demikian? Karena selain untuk belajar koneksi internet juga dimanfaatkan sebagai warnet pada jam istirahat belajar. Pemasukan dari hasil warnet dapat menutupi biaya akses internet per bulannya walaupun cuma impas. Dengan asumsi awal tersebut pihak sekolah bersedia mengabulkan permohonan saya.

Alumni STM yang sebelumnya saya ceritakanlah yang akhirnya kembali membantu saya untuk membuat Lab. Komputer saya sekarang untuk bisa terkoneksi dengan internet. Tugasnya adalah men-setting dan menginstalasi, sedangkan saya sebelumnya harus mengurus registrasi koneksi internet hingga selesai. Dari mulai registrasi hingga koneksi tersambung ke semua komputer hanya memakan waktu sepekan dan semuanya bisa langsung dimanfaatkan, karena sebelumnya sudah merupakan LAN (Local Area Network). Jadilah Lab. Komputer yang ada sekarang bertambah lengkap dengan koneksi internet. Alhamdulillah…

Sebagai pelengkap informasi, hal-hal yang perlu diantisipasi dari awal adalah; Pertama, membatasi pemakaian, dalam hal ini download dan upload, karena berhubungan dengan biaya. Saya menggunakan layanan yang masih limited karena keterbatasan anggaran, kecuali jika mampu untuk menggunakan layanan unlimited.

Kedua, menghitung tarif/biaya sewa agar dapat membayar biaya berlangganan setiap bulannya. Sekolah tempat saya mengajar menggunakan sistem full day school, dengan kata lain waktu yang dimiliki untuk menggunakan warnet pada jam istirahat sangat sedikit ditambah batasan pengguna yang boleh hanya kalangan internal sekolah. Sehingga harus benar-benar teliti dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran agar tidak rugi. Ketiga, harus ada filter terhadap alamat situs yang berdampak negatif terhadap pengguna.

Singkat cerita, Lab. Komputer tempat saya bekerja sehari-hari kini telah berkembang jauh lebih baik dari pertama kali saya masuk ruangan tersebut. Kini Lab. Komputer sekolah yang saya kelola telah berubah menjadi ber-AC, berkarpet, bermeja komputer yang sangat bagus, berjumlah dua puluh unit Pentium 2, walaupun masih dengan teknologi PC Cloning, bermonitor baru, berserver dua unit, berprinter, berscanner, dan berinternet. Alhamdulillah.

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/25/time/095727/idnews/642545/idkanal/450

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR