Thursday, 06 Oct 2022
  • Selamat Datang di website resmi SMPIT Thariq bin Ziyad
TUTUP MENU

Kenapa kita ke ISLAMIC BOOK FAIR ?



Banyak siswa SMPIT TBZ bertanya, Kenapa kita ke Islamic Book Fair (lagi) ?
Kan tahun kemarin sudah, bosen.
Berarti selama 3 tahun sekolah,
kita 3 kali dong ke sana ?


Mau tahu jawabannya? Jawwwaaabannnya AAADALAH …..




KARENA (1) :

UNDP (United Nation Development Program) menyebutkan  minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah.  Survei UNDP tersebut menyimpulkan rata-rata orang Indonesia hanya membaca satu judul buku atau bahkan tidak membaca sama sekali dalam satu tahun. Rendahnya budaya membaca itu bisa dilihat dari jumlah buku baru yang terbit di negeri ini. Dalam setahun Indonesia hanya menerbitkan buku sekitar 8.000 judul per tahun. Sangat kontras bila dibandingkan dengan negara jiran Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul buku per tahun. Bahkan dengan Vietnam, Indonesia kalah jauh. Dalam setahun Vietnam bisa menerbitkan 45.000 judul buku.

             Temuan UNDP tentang rendahnya tradisi baca masyarakat Indonesia diperkuat oleh hasil penelitian lembaga-lembaga lainnya. Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) melakukan survei lima tahunan tentang minat baca bangsa-bangsa di dunia. Pada tahun 2006 PIRLS melakukan studi tentang minat baca bangsa-bangsa di dunia. Dalam penelitian tersebut, PIRLS menemukan posisi Indonesia pada urutan ke 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian tersebut. Dibawah Indonesia hanya empat negara, yaitu Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi ilmu pengetahuan dan budaya (UNESCO) menemukan hal yang sama, minat baca masyarakat Indonesia tergolog rendah. UNESCO menyampaikan temuannya, bila minat baca masyarakat Indonesia paling rendah di ASEAN. Sebenarnya, masih banyak lagi lembaga-lembaga yang melakukan penelitian sejenis, umumnya, hasilnya sama, menemukan bahwa tradisi baca masyarakat Indonesia rendah.
KARENA (2) :
Buku adalah jendela dunia, membaca adalah kuncinya. Kita hanya bisa membuka jendela dunia dengan membukanya, yakni lewat aktivitas membaca. Membaca akan menambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman melebihi usia Kita.
Membaca sebuah buku selama beberapa jam yang berisi pengalaman seseorang selama 15 tahun akan membuat Kita mendapatkan pengalaman yang sama dalam waktu yang jauh lebih singkat. Kita tidak perlu menghabiskan 15 tahun lamanya seperti yang telah dijalani sang penulis. Kita seolah-olah bisa berkelana ke sejarah masa lalu dan melihat apa yang terjadi dalam waktu singkat.
KARENA (3) :
Masyarakat Indonesia harus diakui masih sangat kuat dalam tradisi berbicara. Kita lebih senang mengobrol ke sana ke mari daripada membaca dan menulis. Dengan demikian, waktu terus berjalan, tapi tidak banyak pengetahuan baru yang bisa diserap.
Masyarakat yang kuat dalam tradisi membaca akan memiliki kekuatan pula dalam tradisi menulis. Itu mengapa jumlah karya ilmiah, penelitian atau buku yang dihasilkan suatu bangsa berbanding lurus dengan kemajuan budaya baca pada bangsa tersebut. Membaca dan menulis adalah sepasang kekasih yang sulit dipisahkan.
KARENA (4) :
Hubungan Membaca dan Menulis
Jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, maka menulis adalah proses menyajikan kembali khazanah tersebut kepada masyarakat luas. Kita bisa menggabungkan sebuah khazanah dengan khazanah yang sudah dimiliki sebelumnya.
Sangat sulit bagi seseorang untuk menulis sesuatu yang di luar dirinya. Di luar apa yang pernah dia miliki sebelumnya. Seseorang harus memiliki sesuatu terlebih dahulu sebelum bisa memberikan kepada orang lain. Seseorang harus memiliki wawasan terlebih dahulu sebelum terampil dalam membaginya kepada orang lain.
Dengan demikian membaca mau tidak mau adalah proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini Kita kesulitan menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya karena terlalu sedikit stok informasi yang Kita miliki sebelumnya. Kita harus menambah stok tersebut agar proses menulis menjadi lancar.
KARENA (5) :
Manfaat Membaca Bagi Keterampilan Menulis
Begitu besar manfaat membaca untuk mengasah keterampilan menulis seseorang. Berikut saya mencoba menyajikannya buat Kita:
·         Membaca memperluas wawasan
·         Membaca membantu melihat sudut pKitang yang berbeda
·         Membaca membantu Kita belajar teknik menulis yang dipakai oleh orang yang lebih berpengalaman
·         Membaca membuat ide Kita melimpah
·         Membaca menjadikan otak dan pikiran Kita aktif
·         Membaca merangsang terbentuknya informasi baru di sistem daya ingat yang siap dipanggil kapan saja
·         Membaca membuat jalan pikiran Kita menjadi lebih lentur
·         Membaca memperkaya kosa kata, pilihan kalimat, dan cara penyajian yang bisa Kita pakai dalam menulis
·         Membaca membuat Kita mampu menganalisa, menghubungkan informasi yang terserak, dan melihat benang merah dari sebuah persoalan
·         Membaca membuat Kita punya bahan yang banyak untuk menuliskannya kembali
Dan masih banyak manfaat lain jika kita berusaha meneruskan daftar tersebut.
KARENA (6) :
Rajin Membaca, Aktif Menulis
Begitu banyak contoh di sekitar kita yang menunjukkan bagaimana orang yang gemar membaca cenderung memiliki keterampilan menulis yang baik.
Buya Hamka adalah orang yang rajin membaca. Beliau juga dikenal sebagai pembaca cepat. Maka tidak heran pula jika beliau bisa menghasilkan banyak karya.
Rhenald Kasali – tokoh pemasaran Indonesia – adalah orang yang aktif membaca. Dengan demikian sangat mudah buat beliau untuk terus menulis tren terbaru dan prediksi tentang peta pemasaran di masa yang akan datang.
Yodhia Antariksa, seorang blogger produktif yang banyak menulis artikel bernas seputar strategi manajemen, mampu berbuat demikian karena punya kebiasaan membaca buku setiap petang.
Membangun Tradisi Membaca dan Menulis
Untuk itu, sudah saatnya membangun kembali tradisi membaca dan menulis. Inilah kontribusi yang bisa Kita berikan untuk menjadikan bangsa ini lebih maju.
Coba hitung waktu yang Kita habiskan untuk menonton televisi, aktif bertukar status dan komentar di Facebook, atau berkicau di Twitter. Ambil separuh dari waktu yang Kita habiskan itu untuk membaca buku-buku berkualitas. Maka dalam tempo 1 bulan saja, Kita sudah menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.
Lewat kebiasaan membaca, Kita bisa melatih keterampilan menulis. Kita punya kacamata yang mampu melihat berbagai sudut pandang. Kita punya amunisi kata dan kalimat yang siap dituliskan. Kita pun akan punya pikiran yang lebih jernih dan sehat.
Jika banyak pembaca yang bertanya, bagaimana caranya agar saya bisa menulis dengan baik? Maka jawaban sederhana saya adalah rajin-rajinlah membaca. Dengan kebiasaan tersebut, keterampilan menulis Kita akan meningkat dengan sendirinya.
Oleh karena itu Islamic Book Fair sebagai salah satu ajang pameran buku terbesar di Indonesia yang diselenggarakan tiap tahun sekali menjadi agenda rutin kunjungan bagi SMPIT Thariq Bin Ziyad. Kamis  15 Februari 2012 sebanyak 6 bus mengantarkan siswa kelas 7 dan 8 (kelas 9 sedang ujian praktek akhir) ke Istora Senayan tempat IBF 2012 diadakan.
Di Islamic Book Fair tahun ini juga diadakan lomba yang bertajuk FESMA (Festival Studi Islam dan Matematika Anak Muslim). Enam siswa SMPIT TBZ ikut serta dalam lomba tersebut dari 1500 peserta secara nasional. Dari 6 siswa yang ikut 3 orang siswa berhasil masuk ke babak semifinal. Dari 3 siswa yang lolos semi final 1 orang mendapatkan peringkat 6 pada lomba tersebut atas nama Putra Perdana Haryana. Sebuah prestasi yang cukup membaggakan. Mudah-mudahan bisa menjadi acuan untuk dapat lolos ke final dan memperoleh hasil terbaik tahun depan.

Mari budayakan membaca agar menjadi Sholeh dan Cerdas serta terampil dalam menulis dan berkarya buat masyarakat.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR