Sunday, 02 Oct 2022
  • Selamat Datang di website resmi SMPIT Thariq bin Ziyad
TUTUP MENU

Adab dan Tugas Murid (1)

(Said Hawwa) Murid memiliki banyak adab dan tugas zhahir (nyata) yang tersusun dalam sepuluh bagian berikut ini.
Tugas Pertama, mendahulukan penyucian jiwa daripada akhlak yang hina dan sifat-sifat tercela karena ilmu merupakan ibadah hati, shalatnya jiwa, dan pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan zahir yang tidak sah, kecuali dengan menyucikan zahir dari hadats dan najis. Begitu pula ibadah batin dan menyemarakkan hati dengan ilmu, tidak sah kecuali setelah hati dan batin itu disucikan dari berbagai akhlak yang kotor dan sifat-sifat najis.
Allah berfirman,
“… Sesungguhnya orang yang musyrik itu najis….”(At Taubah [9]: 28)
Mengingatkan kepada akal bahwa kesucian dan kenajisan tidak khusus pada hal-hal zhahir saja. Seorang musyrik bajun dan badannya bersih, tetapi pada hakikatnya ia najis, yaitu batinnya berlumuran darah dengan kotoran. Kata najis adalah ungkapan tentang sesuatu yang harus dihindari. Sifat-sifat kotor batin itulah yang harus lebih dijauhi karena di samping kotor, secara langsung ia juga pada akhirnya dapat membinasakan.

Tugas Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia karena ikatan-ikatan itu hanya menyibukkan dan memalingkan. Allah berfirman,
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.”(Al Ahzab [33]:4)
Jika pikiran terpecah, maka ia tidak dapat mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu, dikatakan,”Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu memberikan kepadanya seluruh jiwa kamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwa kamu kepadanya namun ia hanya memberikannya sebagian kepada kamu, maka berarti kamu dalam bahaya”.Pikiran yang bercabang-cabang pada berbagai macam perkara bagaikan sebuah sungai kecil yang airnya berpencar, sebagian diserap tanah serta sebagian dibawa oleh embusan angin hingga tidak ada air yang terkumpul dan sampai ke ladang.
Tugas Ketigatidak sombong dan sewenang-wenang terhadap guru. Ia harus menyerahkan seluruh urusannya kepada guru dan mematuhi nasihatnya seperti seorang yang sakit mematuhi dokter yang penuh kasih sayang dan mahir. Seharusnya, seorang murid bersikap tawadhu (rendah hati) kepada gurunya serta mencari pahala dan kemuliaan dengan berkhidmat kepadanya. Asy-Sya’bi berkata. “Zaid bin Tsabit selesai melakukan shalat jenazah, maka aku dekatkan baghal-nya kepadanya agar dapat ditungganginya. Lalu Ibnu Abbas datang dan mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, “Lepaskan saja wahai anak paman Rasulullah!”
Ibnu Abbas Menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk berbuat kepada para ulama.”
Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berbuat kepada kerabat Nabi kami, semoga rahmat Allah dan salam tercurahkan padanya.”
Oleh karena itu, murid tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Salah satu kesombongan seorang murid terhadap guru adalah apabila ia hanya mengambil ilmu dari orang-orang besar dan terkenal, padahal hal itu adalah suatu kebodohan. Sesungguhnya, ilmu adalah penyebab keselamatan dan kebahagiaan. Siapa yang mencari jalan selamat dari terkaman binatang buas dan berbahaya tentu tidak pilah-pilih orang yang akan menyelamatkannya, orang terkenal atau tidak sama saja.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR