Sunday, 02 Oct 2022
  • Selamat Datang di website resmi SMPIT Thariq bin Ziyad
TUTUP MENU

Adab dan Tugas Murid (2)

(Said Hawwa) Hikmah atau ilmu pengetahuan adalah barang milik seorang mukmin yang hilang. Ia harus memungutnya di mana saja ia temukan dan orang lain yang menemukan serta membawa barang itu kepadanya memperoleh anugerah, siapapun ia. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu itu enggan dari pelajar yang sombong, serta banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.”
Ilmu tidak didapat kecuali dengan sikap tawadhu dan mendengarkan. Allah berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”(Qaaf [50]: 37)
Memiliki hati berarti menerima ilmu dengan paham. Namun kemampuan memahami itu tidak banyak membantunya kecuali jika ia menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan dengan sepenuh hati untuk menerima setiap ilmu yang disampaikan kepadanya dengan konsentrasi yang baik, tawadhu, syukur, gembira, dan menerima anugerah.

Hendaknya seorang murid bersikap seperti tanah gembur yang disiram hujan deras di hadapan gurunya. Dengan begitu, seluruh bagian tanah itu menyerap dan tunduk sepenuhnya menerima air hujan. Cara belajar bagaimanapun yang disarankan oleh guru hendaknya diikuti. Hendaknya ia tinggalkan pendapatnya sendiri. Kesalahan pembimbingnya itu lebih bermanfaat baginya daripada kebenaran pendapatnya sendiri karena pengalaman merupakan upaya untuk mengetahui hal-hal detail yang aneh terdengar tetapi manfaatnya besar.
Ali, semoga Allah meridhainya, berkata, “Termasuk hak-hak seorang guru adalah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak meminta jawaban yang menyusahkannya, tidak mendesaknya jika ia sedang malas, dan tidak menarik bajunya jika ia hendak beranjak. Jangan kau sebarkan rahasianya, jangan kau gunjing seseorang dihadapannya, jangan kau cari-cari kesalahannya. Jika ia tergelincir pada suatu kesalahan, maka terimalah alasannya. Hormatilah ia karena Allah Yang Maha Tinggi selama ia menunaikan perintah Allah. Jangan duduk didepannya, jika ia memerlukan sesuatu, segeralah berkhidmat memenuhi keperluannya sebelum orang lain mendahului kamu.”
Tugas keempat,  orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara banyak orang, baik ilmu yang ia tekuni itu termasuk ilmu dunia atau ilmu akhirat karena hal itu akan membingungkan akal pikirannya sendiri, mematahkan pendapatnya, dan membuatnya berputus asa dari upaya pengkajian dan telaah yang mendalam. Seharusnya, seorang murid menguasai terlebih dahulu satu jalan yang teruji dan diridhai, kemudian mendengarkan beragam mahzab atau pendapat.
Tugas kelima, seorang penuntut ilmu tidak meninggalkan satu cabang pun dari ilmu-ilmu terpuji. Sebaliknya, ia mempertimbangkannya matang-matang dan memperhatikan maksud dan tujuan ilmu itu kemudian jika ia diberi umur panjang maka ia memperdalamnya, jika tidak maka ia cukup menekuni ilmu yang paling penting saja. Hal ini diperlukan karena ilmu-ilmu itu saling membantu dan saling berkaitan. Ia juga berusaha untuk tidak membenci ilmu yang belum dapat ia kuasai karena kebodohannya, karena manusia memusuhi apa yang tidak diketahui olehnya. Allah berfirman,
“… Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka berkata, ‘Ini adalah dusta yang lama…’”(Al Ahqaaf [46]:11)
Seorang penyair berkata, “Bagi orang bermulut pahit dan sakit, air segar terasa pahit.”
Ilmu agama dengan berbagai tingkatannya dapat membawa seorang hamba menuju Allah Yang Maha Tinggi atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu itu memiliki berbagai tingkatan yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya dari tujuan. Para penegaknya merupakan para penjaga syariah, tiada bedanya dengan orang-orang yang menjaga perbatasan dan pos-pos media pertempuran. Masing-masing mempunyai tingkatan dan akan mendapatkan pahala di akhirat sesuai derajatnya jika ridha Allah menjadi tujuannya.
Tugas keenam, tidak sekaligus menekuni berbagai macam cabang ilmu, melainkan memperhatikan urutan-urutannya dan memulainya dari yang paling penting. Biasanya, umur tidak cukup untuk menekuni semua bidang ilmu, maka seorang penuntut ilmu cukup mengambil yang terbaik dari segala sesuatu dan mencurahkan segenap kemampuannya untuk menekuni ilmu yang mudah dipelajari hingga ia menyempurnakan ilmu yang paling mulia, yaitu ilmu akhirat.
Ilmu akhirat yang saya maksudkan ini bukanlah keyakinan yang ditelan begitu saja oleh orang awam atau yang diterimanya secara pewarisan.  Bukan pula retorika dan perdebatan untuk menjaga pembicaraan dari lawan yang memutarbalikkan kata. Ilmu akhirat itu adalah suatu keyakinan yang merupakan hasil dari cahaya Allah yang Ia anugerahkan kepada hati seorang hamba yang senantiasa membersihkan dari batin dari berbagai kotoran dengan mujahadah (bekerja keras) sampai berakhir pada tingkat keimanan Abu Bakar – yang seandainya ditimbang, beratnya dengan seluruh alam—maka iman Abu Bakar itu tetap unggul. Sebagaimana diakui oleh umar dalam satu riwayat sahih.
Secara umum, ilmu akhirat adalah ilmu yang paling mulia yang tujuannya adalahma’rifatullah (mengenal Allah) Yang Mahaperkasa dan Mahamulia. Ilmu akhirat itu ibarat laut yang tidak dapat diketahui dasarnya. Peringkat tertinggi manusia dalam ilmu ini diraih oleh tingkatan para Nabi, kemudian para wali, kemudian orang-orang dibawah mereka.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR