Sunday, 02 Oct 2022
  • Selamat Datang di website resmi SMPIT Thariq bin Ziyad
TUTUP MENU

WORKSHOP SAINS & MATEMATIKA di MALAYSIA

ENERGY KECERIAAN

Sukarno Hatta satu April 2016 pukul 05.30 mulai ramai. Wajah-wajah cerah dan celoteh riang menggambarkan  kegembiraan orang orang yang yang lalu lalang, tak terkecuali rombongan saya, para pejuang pendidikan.
Terbit tanya dalam hati saya :
Seriang inikah mereka sehari – hari ?
Kenapa mereka kelihatan riang, karena sejenak bisa meletakkan beban ataukah karena melihat di depan ada harapan ?
Saya yakin karena ke duanya. Dan alangkah dahsyatnya jika keduanya bisa kita hadirkan kapan saja di mana saja, tidak harus di bandara tidak harus ketika hendak bepergian saja. SELALU MELIHAT ‘ADA HARAPAN’ dan SEJENAK MELETAKKAN ‘BEBAN’ insyaAlloh energi pejuang tidak akan pernah padam.
GENTING HIGHLAND
1 April pukul 16.00 kami sampai di Genting.
Kota mini di puncak pegunungan yang sunyi dengan fasilitas kesenangan yang memanjakan; gondola, mainan anak, musik, spa,pub, minuman berarak dan konon perjudian, semua ada di disini.
Walau secara fisik tempat ini sangat bagus, tapi sejatinya tidak istimewa juga, karena di tempat lain juga ada. Lalu, apa yang istimewa dan bisa diambil dari area kesenangan ini? Spirit Mimpi !
Ya tempat ini mengajarkan kepada kita pentingnya ‘spirit MIMPI’ , dimana mimpi dikonstruksi menjadi serangkaian ‘aksi’ yang penuh energi dan mengahasilkan ‘bukti’.
Bayangkan, Goh Tong penjual bibit tanaman dari cina daratan yang sedang kesusahan merantau ke negeri melayu, dengan spirit mimpi, berhasil mengubah bukit sunyi menjadi kota mini yang selalu dikunjungi.
Jadi bagaimana dengan  kita, pendidik yang sedang bermimpi mengubah bumi dengan peradaban yang lebih islami ?
Mari kita ambil SPIRIT MIMPI. Kita konstruksi mimpi menjadi aksi yang nyata, insyaAlloh mimpi kitapun akan menjadi nyata. Islam dan umatnya jaya di dunia.
TWIN TOWER PETRONAS
2 April 2016, sehari penuh kami berada si area ini, untuk dua agenda ; WorkShop Pembelajaran Sains dan jalan -jalan menikmati produk sains.
Naik kereta cepat. Pukul 9 pagi kami sudah sampai di lokasi dan langsung masuk ke ruang pembelajaran yang terletak di kaki menara  ‘Petronas’,  tepatnya lantai 6 menara pendamping Twin Tower.
PETRONAS SAINS. Tidak terlalu luas tempatnya, karena memang hanya memgambil satu sudut saja dari lantai 6 yang didominasi tempat  perbelanjaan dan hiburan. Tapi ada yang luar biasa di sini, yang sangat jarang saya temukan di sekolah-sekolah dinegeri saya Indonesia…KEGEMBIRAAN…ya kegembiraan. Tepatnya  KEGEMBIRAAN DALAM PEMBELAJARAN.
Di Petronas Sains saya lihat temen teman saya begitu tampil alami. Apalagi dalam sesi Simulasi Pembelajar Sains yang menyenangkan. Mereka begitu gembira, penuh tawa, betul-betul kembali  menjadi siswa SD, SMP atau SMA. Dalam hati saya berdoa, Ya Alloh, semoga mereka akan tetap seperti ini ketika bersama siswa-siswa mereka. Gembira dalam pembelajaran, semoga mereka dapat meletakkan ‘beban’ dan selalu mendapatkan inspirasi untuk berkreasi dalam pembelajaran sehingga bisa menggabungkan kembali dua hal yang selalu terpisah di sekolah yakni SERIUS dan KEGEMBIRAAN. Sebab jika keduanya  bisa mereka hadirkan dalam setiap pembelajaran, insyaAlloh SIT akan selalu dalam kejayaan.
BELANJA JIWA
Petrosains dan Pasar Seni.
Dalam rangkaian workshop kali ini, kedua tempat ini  sangat penting, karena keduanya merupakan Pusat Sains. Petronas Sains sebagai pusat Teori Sains dan Pasar Seni sebagai Pusat Produk Sains.
Jadi mengunjungi keduanya kami seperti dibawa menyusuri LORONG SAINS. Dari ujung ‘Teori’ sains, produk ‘Sarana’ sains sampai produks ‘Komsumsi’ sains.
Diakhir sesi Petrosains saya betul-betul gembira, puas dan semakin yakin  SIT akan bertambah jaya karena  para guru saya lihat begitu antusias mengikuti semua program. Bahkan testimoni mereka menggambarkan telah terjadi  Revolusi Mental saintis pada diri mereka. Dimana mereke melihat sains begitu natural : BERGUNA, SEDERHANA dan MENYENANGKAN. Dan mereka akan mengajarkan itu semua kepada siswa-siswanya. Luar Biasa. Betul-betul saya melihat awal kebangkitan Sains Indonesia.
Sore hari setelah dipuaskan mata dan jiwa saintis kami dengan segala macam teori pembelajaran dan  simulasi sains, kami kunjungi Pusat Produk Produk Sains. Pasar Seni.


Di sini berbagai produk sains tersedia, bahkan bisa kita beli.  Walau  sudah mulai lelah, saya lihat kegembiraan dan antusias peserta  masih ada, bahkan kembali bersemangat lagi. Saya yakin karena mereka teringat dengan anak, istri/suami dan teman- teman di negeri sendiri. Sehingga semua ingin dibeli sebagai oleh-oleh pengikat hati.
Dalam hati saya bertanya :
Apa yang ada dalam benak mereka ketika melihat dan membeli ?
Masih adakah pertanyaan :
Bagaimana dasar teorinya..?
Bagaimana dibuat..?
Untuk apa fungsinya..?
Bisakah saya buat yang sama atau lebih baik dari ini semua ?
Atau..
Hanya sekedar
Ini baik, murah dan tidak ada di negeri  saya  jadi…  Saya beli saja!
Saya yakin, bukan yang terakhir yang ada di benak mereka. Karena tujuan utama bukanlah sekedar untuk belanja cindera mata, tapi BELANJA JIWA.
Sehingga oleh2 kita adalah jiwa. Ya JIWA SAINTIS, dimana dengannya  akan kita bangkitkan umat ini untuk menjadi Produsen bukan Konsumen.
Sehingga Islam kembali jaya di dunia.


Senin 4 April pukul 08.00 kami sampai di ADNI Islamic School.
Disini tidak saya saksikan kemegahan gedung sekolah, pun tidak kesejukan lingkungan. Tapi saya saksikan kemegahan pemikiran dan kesejukan jiwa. Percaya Diri, Berani, Optimis, Visioner, berpikir Out of The Box dan Ikhlas. Disini transformasi sudah dimulai. Pendidikan tidak lagi diukur dengan usia biologis seseorang tapi dari kemampuan. Karena kemampuan tidak selalu seiring dengan bertambahnya bilangan. Bukankah Alloh sampaikan ‘baligh’ pada usia yang berbeda untuk setiap orang? Bukankah baligh adalah fenomena perkembangan jiwa seseorang ? Kalau usia baligh mereka berbeda kenapakah taraf pendidikan mereka musti kita samakan ?
Di sini, pendidikan juga tidak lagi berpusat di akal ataupun ketrampilan, tapi di HATI.
Dan Pendidikan tidak lagi diarahkan untuk ‘kesuksesan’ tapi KEBERKAHAN, sehingga keikhlasan harus menjadi dasar dalam pengelolaannya.
GERBANG KEJAYAAN
Masjid Putra Jaya. 5 April 2016 Jam 2 siang, kami sampai si area masjid ini. Subhanalloh, megah luar biasa. Berdiri di pinggir sungai nan jernih. Masjid ini bak istana raja di negeri dongeng. Kira-kira lima puluh  meter didepannya, berdiri gerbang besar dan juga indah  menambah kewibawaan rumah ibadah ini. Jika hendak turun ke pelataran bawah, dimana pengunjung bisa menikmati panorama sungai dan jembatan yang juga sangat indah, sambil makan, minum teh tarik ataupun es krim di restoran, disediร kan tangga dan eskalator sebelah kanan gerbang. Gerbang besar juga berfungsi sebagai pembatas wilayah khusus dan kebebasan. Saya namai demikian karena disisi dalam sebelah kanan tepatnya disebelah kedai cindera mata, ada pos kesopanan, yakni tempat pemakaian baju ‘sopan’ bagi pengunjung wanita. Baju panjang  bertudung (jamper) warna merah hati yang dipinjamkan secara free.

Siang ini banyak sekali turis datang. Dari pakaiannya tidak semuanya muslim. Saya lihat banyak turis wanita cina yang berpakai sekenanya; celana sangat pendek, baju tanpa lengan dan transparan. Dengan senang hati mereka mampir ke pos dan merangkapkan seragam kesopanan.
Menakjubkan ! Mereka terlihat enjoi saja. Penasar saya ingin menguji, saya dekati  dan mengambil gambarnya, luarbiasa, mereka betul-betul senang, bahkan pasang gaya. Mungkin karena mereka merasa mendapatkan pengalaman unik. Berpakaian tertutup dan sopan, jadi semua itu hanyalah pengalaman budaya. Tapi apapun alasannya, bagi saya pemandangan itu menjadi bukti bahwa :
Jika kita berjaya, mereka akan ikut kita.
Jika kita punya harga diri, mereka akan menghormati.
Jika kita teguh memegang nilai, kita akan bernilai.
Dan di sini, di masjid Putra Jaya, saya saksikan Islam telah jaya dan orang-orang tunduk kepada mau kita walau masih di area yang sempit saja.
Saya yakin ke depan, dengan kerja keras kita, dengan da’wah pendidikan kita, dengan JSIT kita, kejayaan Islam akan mendunia !
Bismillah kita bisa !
Blue Arrow Strategy by Ery Masruri.

JSIT INDONESIA

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR