Tuesday, 28 Jun 2022
  • Selamat Datang di website resmi SMPIT Thariq bin Ziyad
TUTUP MENU

Isra Mi’raj Momentum Peristiwa Turunnya Salat

Bekasi (04/03) – Dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj 1443 H, SMPIT Thariq Bin Ziyad mengadakan BPI Gabungan dengan tema ‘Isra Mi’raj, Momentum Peristiwa Turunnya Salat’ pada hari Rabu, 02 Maret 2022 pukul 13.00 sampai selesai. Acara yang dihadiri oleh seluruh siswa-siswi ini, dilaksanakan secara online lewat media zoom meeting dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube SMPIT TBZ TV. 

Acara yang dipandu oleh Bapak Terry Arya Viratama, M.Ag. ini dibuka dengan pembacaan kalam Ilahi yaitu surat Al Isra ayat 1- 4  oleh Ananda Abyaz Mk dari kelas 7E. Kemudian acara inti yang diisi oleh Ustaz Munawar, Lc. Dalam ceramahnya, beliau mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah perjalanan yang luar biasa dan merupakan salah satu mukjizat agung yang diterima oleh Rasulullah SAW. 

“Mukjizat ini hanya dicapai oleh Nabi Muhammad SAW dan tidak dicapai oleh nabi-nabi lainnya. Perjalanan Isra Mi’raj melampaui batas akal dan ilmu manusia. Peristiswa ini merupakan penghormatan besar bagi Nabi Muhammad dan bagi umatnya, “ujarnya. 

“Amalan ibadah yang paling fundamental dan yang pertama kali dihisab adalah salat. Napak tilas Isra Mi’raj terjadi setahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Terjadi pada tahun kesedihan, ” lanjutnya. 

Ustaz Munawar, Lc. menjelaskan bahwa Tahun Kesedihan adalah :

  1. Peristiwa wafatnya Paman Nabi yaitu Abi Thalib
  2. Wafatnya istri tercinta yaitu Khadijah binti Khuwailid
  3. Mengalami peristiwa yang sangat sulit yaitu Nabi Muhammad dalam tekanan kaum Quraisy
  4. Berusaha hijrah ke Thaif namun dilempar batu

Dalam surat Al Isra ayat pertama yang terjemahnya adalah ‘Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.’

“Peristiwa Isra yaitu Nabi Muhammad SAW mengalami pencucian hati dengan air zamzam dengan dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril. Kemudian melakukan perjalanan dari Mekah menuju Yerusalem yang berjarak 1507,9 km dengan menggunakan Buraq. Buraq adalah hewan tunggangan istimewa antara kuda dan keledai. Buraq memiliki kecepatan yang luar biasa.” lanjutnya.

“Sebelum tiba di Baitul Maqdis, Malaikat Jibril membawa Rasulullah terlebih dahulu untuk singgah di Madinah, Bukit Tursina dan Bethlehem. Kemudian Nabi memimpin salat berjamaah di Masjidil Aqsha dan makmumnya adalah para nabi dan rasul. Jumlah makmum saat itu ada 124.000 para nabi dan  315 rasul (H. R. Ahmad), “tambahnya. 

Beliau juga mengatakan bahwa peristiwa Rasulullah menjadi imam ini, menguatkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sayyidul anbiya yaitu pemimpin para nabi.

“Kemudian Nabi diberi pilihan antara khamr dan susu. Nabi memilih dan mengambil susu. Malaikat Jibril mengatakan bahwa Rasulullah memilih yang suci dan tidak memabukkan, ” lanjutnya lagi. 

“Mi’raj adalah peristiwa naiknya Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha untuk bertemu langsung dengan Allah SWT dan diperlihatkan  kebesaran-kebesaran Allah SWT. Rasullah dipertemukan dengan para nabi di langit pertama sampai  ketujuh. Di langit pertama bertemu dan didoakan dengan Nabi Adam AS , di langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Isa AS. Langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, langit keempat Nabi Idris, selanjutnya Nabi Harun dan langit selanjutnya Nabi Musa. Di langit ketujuh bertemu bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim AS, “tambahnya. 

“Ujung perjalanan Mi’raj adalah ketika Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT dan menerima perintah salat. Dalam hadist,  sampai pada akhirnya Allah berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 salat sehari semalam, setiap salat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 salat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis (baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa ’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya. (HR. Muslim 162), ” tambahnya lagi. 

Beliau juga memaparkan bahwa hikmah terbesar dalam peristiwa ini adalah tentang salat, periksalah kembali kualitas salat kita. Salat bukan sekedar gerakan fisik. Dalam surat Al Hajj ayat 77 yang artinya adalah wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.

Eli Amalia- tim media SMPIT TBZ

 

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR