
Thariq.sch.id- Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial dan berita lokal diramaikan oleh aksi massal pembersihan Ikan Sapu-Sapu (Hypostomus plecostomus) di berbagai aliran sungai dan waduk di Indonesia. Dari aksi komunitas peduli lingkungan hingga instruksi dinas terkait, ikan yang biasanya dianggap sebagai “pembersih kaca akuarium” ini kini resmi menyandang status sebagai musuh nomor satu di perairan umum.


Mengapa Ikan Sapu-Sapu Jadi Masalah?
Meskipun di akuarium mereka berjasa memakan lumut, di alam liar terutama sungai-sungai di Indonesia, ikan ini berubah menjadi spesies invasif yang sangat merugikan.
Upaya Pembasmian di Berbagai Daerah
Melihat dampak buruk tersebut, gerakan untuk membasmi ikan ini mulai masif dilakukan. Beberapa daerah menerapkan metode yang berbeda:
Bahaya Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu bagi Kesehatan
Di tengah maraknya upaya pembasmian, muncul kekhawatiran mengenai penggunaan daging ikan ini sebagai bahan pangan (seperti siomay, bakso, atau cilok murah). Padahal, mengonsumsi ikan sapu-sapu yang ditangkap dari perairan umum terutama di area perkotaan sangat berbahaya karena beberapa alasan berikut:
Bioakumulasi Logam Berat: Ikan sapu-sapu adalah “penyaring” di dasar air. Mereka menyerap polutan yang mengendap di sedimen sungai. Penelitian di sungai-sungai besar sering menemukan kandungan Merkuri (Hg), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd) yang sangat tinggi pada daging ikan ini, jauh melampaui ambang batas aman konsumsi.
Risiko Kanker dan Kerusakan Organ: Logam berat yang masuk ke tubuh manusia tidak bisa dibuang begitu saja. Dalam jangka panjang, akumulasi ini dapat memicu kerusakan ginjal, gangguan fungsi hati, hingga risiko kanker.
Paparan Bakteri Patogen: Karena habitatnya yang sering berada di perairan tercemar limbah domestik, ikan ini menjadi inang bagi berbagai bakteri berbahaya seperti E. coli atau Salmonella yang menyebabkan gangguan pencernaan akut.
Kandungan Mikroplastik: Sebagai pemakan dasar sungai (bottom feeder), ikan ini secara tidak sengaja menelan banyak mikroplastik yang mengendap di lumpur, yang kemudian berpindah ke manusia jika dagingnya dikonsumsi.
Upaya pembasmian ini bukan sekadar kebencian terhadap satu spesies, melainkan langkah darurat untuk memulihkan kembali daerah aliran sungai agar ikan-ikan lokal bisa kembali berkembang biak dengan tenang. Bagi warga masyarakat, sangat tidak disarankan untuk mengonsumsi ikan sapu-sapu yang berasal dari alam liar. Meskipun dagingnya mungkin terlihat “aman” setelah dimasak, racun logam berat tidak hilang hanya dengan proses penggorengan atau perebusan.
Sumber : Tempo
Leave a Comment