Wednesday, 15 Apr 2026
  • Official Website SMPIT Thariq Bin Ziyad
  • Official Website SMPIT Thariq Bin Ziyad
CLOSE MENU

Di Balik Gerakan “Bersih-Bersih” Ikan Sapu-Sapu: Penyelamat Ekosistem atau Sekadar Tren?

Thariq.sch.id- Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial dan berita lokal diramaikan oleh aksi massal pembersihan Ikan Sapu-Sapu (Hypostomus plecostomus) di berbagai aliran sungai dan waduk di Indonesia. Dari aksi komunitas peduli lingkungan hingga instruksi dinas terkait, ikan yang biasanya dianggap sebagai “pembersih kaca akuarium” ini kini resmi menyandang status sebagai musuh nomor satu di perairan umum.

Mengapa Ikan Sapu-Sapu Jadi Masalah?

Meskipun di akuarium mereka berjasa memakan lumut, di alam liar terutama sungai-sungai di Indonesia, ikan ini berubah menjadi spesies invasif yang sangat merugikan.

  • Dominasi Habitat: Ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan tidak memiliki predator alami di Indonesia. Akibatnya, populasi mereka meledak tanpa terkendali.
  • Merusak Rantai Makanan: Mereka dikenal sangat rakus. Selain memakan lumut, mereka juga kerap mengonsumsi telur ikan lokal, yang membuat populasi ikan asli seperti nila, gabus, atau wader semakin terancam punah.
  • Merusak Infrastruktur Alami: Ikan sapu-sapu memiliki kebiasaan membuat lubang di pinggiran sungai untuk bertelur. Hal ini menyebabkan struktur tanah di bantaran sungai menjadi rapuh dan rawan longsor.

Upaya Pembasmian di Berbagai Daerah

Melihat dampak buruk tersebut, gerakan untuk membasmi ikan ini mulai masif dilakukan. Beberapa daerah menerapkan metode yang berbeda:

  1. Lomba Menangkap Ikan: Beberapa komunitas memancing mengubah target mereka dari ikan konsumsi menjadi ikan sapu-sapu serta menjadikannya ajang perlombaan dengan hadiah menarik. Bahkan di negara tetangga Malaysia seringkali memberi imbalan 1 Ringgit (sekitar Rp 4.300) setiap 1 kilo Ikan Sapu-sapu yang ditangkap.
  2. Penebaran Predator: Di beberapa lokasi terkontrol, pihak berwenang mencoba memperkenalkan kembali predator lokal untuk menekan pertumbuhan larva ikan sapu-sapu.
  3. Edukasi Pengolahan Limbah: Karena ikan ini sulit dikonsumsi (akibat kulitnya yang keras dan risiko logam berat di sungai yang tercemar), bangkai ikan hasil pembasmian kini mulai diolah menjadi pupuk organik atau pakan ternak setelah melalui proses tertentu. Sebagai contoh di California, AS Ikan Sapu-sapu diolah menjadi snack untuk makanan peliharaan seperti anjing

Bahaya Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu bagi Kesehatan

Di tengah maraknya upaya pembasmian, muncul kekhawatiran mengenai penggunaan daging ikan ini sebagai bahan pangan (seperti siomay, bakso, atau cilok murah). Padahal, mengonsumsi ikan sapu-sapu yang ditangkap dari perairan umum terutama di area perkotaan sangat berbahaya karena beberapa alasan berikut:

Bioakumulasi Logam Berat: Ikan sapu-sapu adalah “penyaring” di dasar air. Mereka menyerap polutan yang mengendap di sedimen sungai. Penelitian di sungai-sungai besar sering menemukan kandungan Merkuri (Hg), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd) yang sangat tinggi pada daging ikan ini, jauh melampaui ambang batas aman konsumsi.

Risiko Kanker dan Kerusakan Organ: Logam berat yang masuk ke tubuh manusia tidak bisa dibuang begitu saja. Dalam jangka panjang, akumulasi ini dapat memicu kerusakan ginjal, gangguan fungsi hati, hingga risiko kanker.

Paparan Bakteri Patogen: Karena habitatnya yang sering berada di perairan tercemar limbah domestik, ikan ini menjadi inang bagi berbagai bakteri berbahaya seperti E. coli atau Salmonella yang menyebabkan gangguan pencernaan akut.

Kandungan Mikroplastik: Sebagai pemakan dasar sungai (bottom feeder), ikan ini secara tidak sengaja menelan banyak mikroplastik yang mengendap di lumpur, yang kemudian berpindah ke manusia jika dagingnya dikonsumsi.

Upaya pembasmian ini bukan sekadar kebencian terhadap satu spesies, melainkan langkah darurat untuk memulihkan kembali daerah aliran sungai agar ikan-ikan lokal bisa kembali berkembang biak dengan tenang. Bagi warga masyarakat, sangat tidak disarankan untuk mengonsumsi ikan sapu-sapu yang berasal dari alam liar. Meskipun dagingnya mungkin terlihat “aman” setelah dimasak, racun logam berat tidak hilang hanya dengan proses penggorengan atau perebusan.

Sumber : Tempo


This article have

0 Comment

Leave a Comment

 

School Info

SMPIT Thariq Bin Ziyad

NPSN 20237973
Jl. Toyogiri Selatan, Jatimulya Kec. Tambun Selatan Kab. Bekasi 17515
PHONE 0218242988

Maps Location